Empat Puluh Dua - Yang Nathan Inginkan

349 70 22
                                        

"Kamu ngapain disini? Belajar!!"

"Sagara mau berdoa buat Abang, pa."

"Belajar! Masuk ke kamar kamu!!!!"

Sagara kecil, tak menyangka kalau tiga hari lalu adalah saat terakhir ia melihat kakaknya. Melihat kakaknya hidup lebih tepatnya. Karena saat ini yang bisa ia lihat hanyalah pigura sang kakak yang dipasang besar-besar di kamar kakaknya. Sebagai wujud penghormatan terakhir yang bisa dikenang oleh semuanya.

Sagara kecil duduk disana, berdoa.

"Bang, abang ninggalin adek? Ninggalin Sagara? Padahal abang janji kalo papa ngasih abang PS abang mau ngasih PS itu buat adek, bang? Abang udah nggak balik ke rumah lagi ya?"

Tanya itu menguar di udara, bersamaan dengan tangan kecil Sagara yang ditempelkan di dadanya. Satu tangannya yang di gips, tak bisa berbuat apa-apa. Matanya terpejam, memohon pada Tuhannya kalau saat ia membuka mata nanti, maka ia akan menghadapi sosok kakaknya lagi.

"Sagara ngapain kamu disini?!" Namun, suara itu menginterupsi doa kecil Sagara. Menginterupsi komunikasinya dengan Tuhannya mengenai harapan-harapan dan doa untuk sang kakak.

Sagara menoleh, lantas yang ia dapati adalah ayahnya yang berjalan ke arahnya dengan pandangan tidak suka. Ia sudah familiar dengan pandangan itu, namun tak menyangka kalau ia akan melihatnya bahkan disaat ia tengah berduka.

"Kangen abang, pa." Ujar Sagara kecil.

"Masuk kamar! Abang kamu udah mati!!!!"

"Nggak mau pa." Ia menatap sang papa dengan tatapan berkaca. Kepalanya yang masih di perban itu menggeleng kecil.

"Kamu harus belajar! Besok kamu sekolah. Karena Nathan udah mati, kamu yang harus gantiin dia. Sekarang kamu harus masuk kamar! Belajar!."

"Nggak mau pa, Gara nggak mau belajar!!!"

"Belajar papa bilang!"

"Nggak mau!"

"Belajar! Dasar anak tolol! Nathan udah mati, dan kamu nggak bisa diandalkan, brengsek! Nggak ada gunanya." Sang papa tiba-tiba menampar pipi Sagara, jauh hingga bocah itu terjembab jatuh. Menyisakan nyeri pada memar tangannya yang digips.

Ia menangis.

Sagara kecil menangis.

______

Banyak kata yang keluar dari mulut Arina saat itu namun yang ditangkap Sagara hanya satu

"Lo nangis???"

Sagara mengerjap, bangun dari tidurnya.

"Lo nangis???" Tanya Arina tepat di depan wajahnya.

"Apa?" Sagara menjauhkan wajahnya dari Arina, lalu buru-buru mengelap matanya yang rupanya berair.

Mimpi itu lagi.

"Enggak." Ujar Sagara berbohong.

"Lo mimpi jelek ya?" Tanya Arina.

Sagara terdiam, tidak menjawab.

"Minum dulu." Ujar Arina sambil menyodorkan segelas air minum ke arah Sagara.

"Lo mimpi jelek?" Tanya Arina lagi.

Sagara menatap Arina yang kini terduduk di sebelahnya.

Ia mengangguk.

"Lo kok bisa di kamar gue?" Tanya Sagara.

"Alarm lo bunyi, berisik! Jadi gue samperin. Lo mau cabut jam 4 kan, jadi gue bangunin lo. Eh liat lo tidur sambil nangis, lo mimpi apa?" Tanya Arina lagi.

Unwanted, WoundCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang