Empat Puluh Tiga - Accident

379 73 7
                                        


Note: italic for flashback

"Te, ujian matematika jangan lupa."

"Iya."

Nathan mengedipkan sebelah matanya ke arah Dante sebelum ia memasuki ruang kelas. Dua detik setelahnya bel tanda ujian telah dimulai berdering memenuhi rungu.

Dante mengambil posisi kiri, meja yang tepat berada di sebelah jendela sedangkan Nathan duduk di bagian paling kanan.

Sisanya, pertarungan memperebutkan nilai ujian paling tinggi dimulai.

______

"Gue salahin tiga Nath."

"Banyak banget, satu aja harusnya, tadi nggak terlalu susah Te."

"Gapapa."

Nathan mentap Dante dari pinggir, cowok itu entah mengapa selalu membuatnya sedih dan senang di saat yang bersamaan.

"Nih.." disodorkannya cola ke arah Dante.

"Makasih."

"Te, lo benci nggak sih sama gue?" Tanya Nathan pada Dante.

"Enggak."

"Bilang aja kali. Gue minta lo buat ngelakuin hal kayak gini bikin lo benci kan ke gue."

"Nath, juara satu tu nggak penting buat gue. Buat orang kayak gue, nggak munafik kalo uang itu lebih penting."

Nathan menarik napasnya, lalu menghembuskannya pelan. Disebelahnya Dante menatap jauh ke kejauhan, menyesap cola nya sesekali.

"Ini Te." Nathan menyodorkan sebuah amplop ke Dante. Yang diambil oleh cowok itu. Sejenak Dante membuka isinya.

"Banyak banget Nath."

"Cuma 3 juta."

"Ini lebih banyak dari biasanya, perjanjian kita kan semapel 1 juta."

"Lo bilang sewa rumah lo nunggak 2 bulan."

"Iya, tapi kan bukan urusan lo juga."

"Lo temen gue, Te."

Dante bingung. Matanya menatap manik mata Nathan, sahabatnya itu. Mengusut penjanjian mereka dahulu.

"Satu mapel 1 juta Nath. Gue gabisa nerima." Ujar Dante lalu menyodorkan kembali amplop putih itu kepada Nathan.

"Gini deh, anggep yang 2 juta dari gue."

"Nggak bisa Nath, gue bisa nyari kerja di tempat lain juga kalo gue emang butuh."

"Nggak usah, tinggal lo terima apa susahnya sih Te? Lo butuh duit kan? Ayolah nggak usah munafik gitu."

"Gue emang butuh duit Nath, tapi gue juga bisa usahain itu sendiri."

Nathan menggerling.

"Lo naikin harga diri lo biar nggak dianggep miskin ya?" Ujar Nathan tiba-tiba.

Dante terhenyak. Sedikit terkejut dengan apa yang diucapkan Nathan barusan.

"Lo butuh duit kan Te, akuin aja." Timpal Nathan lagi.

Wajah Dante memanas. Iya, dia tahu dia tak punya uang. Dia memang miskin dan itu fakta. Tapi dia masih punya harga diri untuk tidak mendapatkan uang secara cuma-cuma. Itu sama saja dengan mengemis dan harga dirinya masih tinggi untuk tidak melakukan itu.

Unwanted, WoundCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang