"Shen, aku boleh balik ke rumah dulu, just a minute, nanti aku balik ke sini lagi."
"Balik ke rumah?"
Malam itu, hampir pukul sebelas saat Sagara melirik arlojinya sejenak. Shenina terbaring di ranjangnya, mengeluhkan sakit di perutnya yang sejak tadi tak kunjung usai, obat-obatan yang sudah ia minum diklaimnya tidak memberikan efek apapun.
Sagara sebetulnya juga enggan meninggalkan gadisnya itu, masih dalam posisinya memeluk Shenina sementara gadis itu mencoba terlelap sejak pukul sepuluh tadi.
"Mau pulang kamu?" Tanya Shenina.
"Aku, kasian sama Arina, eh enggak maksud aku kan di rumah masih ada banyak tamu nggak enak kalo aku ninggalin mereka gitu aja."
"Oh, yaudah gapapa pulang aja." Ujar Shenina.
"Kamu gapapa, maksud aku kamu udah gapapa?"
"Aku gapapa Sagara, udah deh kamu urusin urusan kamu dulu aja, toh kamu sekarang bukan Cuma punya aku."
"Shen, aku nggak maksud gitu tapi aku nggak enak sama keluarga aku sama keluarganya Arina juga."
"Iya Sagara aku ngerti kok, kamu pulang aja, oke gapapa kok."
Sagara terdiam, perasaan tidak enaknya itu sungguhan, terutama saat Arina tadi mengiriminya pesan yang mengatakan kalau Ayahnya alias mertuanya masih disana, menunggunya. Ia masih punya sopan santun untuk berpikir bahwa yang ia lakukan saat ini betul-betul tidak etis. Karena bagaimana bisa pengantin yang baru menikah tadi pagi bahkan tidak ada di rumah saat malam pertama.
"Shenina sorry, aku bakal balik besok pagi." Ujar Sagara, hendak segera beranjak dari tempat tidur Shenina.
"Ouch....aduh, aduh Ya Tuhan." Namun, belum sepenuhnya ia beranjak dari sana, suara erangan Shenina kembali terdengar, kali ini gadis itu memegangi perutnya, mengerang kesakitan.
"Shen kamu gapapa?"
"Perut aku sakit banget, kayak yang pertama tadi."
"Minum dulu, terus nanti minum obat lagi ya." Ujar Sagara kemudian kembali ke ranjang Shenina, menyodorkannya segelas air putih.
"Kamu pulang aja, aku gapapa." Ujar Shenina dengan dahi berkerut.
"Nggak, aku nggak mungkin ninggalin kamu dalam keadaan kayak gini Shen." Kata Sagara sambil mengusap puncak kepala Shenina.
______
Canggung. Mungkin Mark tidak pernah menyangka kalau dirinya akan berada di posisi ini seumur hidupnya.
Arina, gadis yang sebelumnya nggak pernah ia kenal sama sekali, tiba-tiba menikah dengan Sagara, dan kini di pukul hampir setengah dua belas malam, gadis itu duduk di kursi penumpang mobilnya, terdiam, dengan setelan tidur yang tak begitu tebal dan alas kaki yang hanya sandal rumahan. Tak bertutur apa-apa, hanya saling diam bahkan tak sanggup saling tatap.
"Em, gue...."
"Lo.."
Suara itu terdengar bersamaan setelahnya Arina dan Mark saling tatap, lalu terdiam untuk menunggu siapa dulu yang hendak berbicara.
"Lo mau kemana? Maksud gue, tujuan lo, nggak mungkin kan lo ke rumah sakit orang Sagaranya juga nggak ada di rumah sakit. Dan, nggak mungkin kan lo......ikut, gue." Akhirnya Mark memutuskan untuk berbicara lebih dulu.
"turunin gue disini aja." Ujar Arina.
"GILA YA LO! NGGAK! Lo pikir gue tega apa nurunin lo di pinggir jalan, sendirian jam segini? Are you serious Arina?."
KAMU SEDANG MEMBACA
Unwanted, Wound
FanficSagara tidak mengharapkan Arina di kehidupannya begitu pula sebaliknya, namun tidak ada yang tahu bagaimana skenario ini berakhir pada akhirnya. ______ menangis di jalan pulang (1:38 - 2:18) -was aksaramantra-
