Di penghujung bulan yang mengakhiri semester genap ini, Arina duduk terdiam, lesu menderanya.
Mungkin saat ini kawan-kawa baru pusing pada tugas akhirnya. Sedangkam miliknya, sudah lama tak disentuhnya.
Mungkin saat ini teman-temannya sudah mulai mengakhiri masa kuliahnya, sedangkan dirinya, terjembab dalam putara tak berujung dari dendam keluarganya yang bahkan tak ia mengerti benang merahnya.
Rumit.
Bahkan kalau dituliskan pun ia tak akan sanggup.
Detik jam bersuara lebih kencang dari biasanya, atau dirinya lah yang lebih hening dari biasanya.
Dengan selembar surat tanda perceraian yang harusnya ia tandatangani, ia merenungkan hidupnya.
"Sorry, udah lama?"
Mark baru datang, saat tak ada lagi orang yang mampu ia hubungi, saat kakaknya sendiri, Dante yang harusnya ada bersamanya disaat-saat seperti ini malah jadi orang paling krusial dibalik masalah ini.
Arina tidak mengerti.
Ia hanya berpikir tentang Mark.
"Chaos ya?" Tanya Arina pelan.
Mark tersenyum miring, "as you can see. Rambut gue berantakan, dandanan gue belel, diteleponin ratusan wartawan gosip, banyak eo yang mempertanyakan desas desus dan minta konfirmasi jadwal secepatnya."
Arina tersenyum kecil, Mark tidak tahu, kalau Kak Dante lah biang keladi dari semuanya.
"Tumben bocor. Biasanya skandal apapun nggak bakal bocor. Kalo anak-anak sih nggak mungkin bocorin ya, pihak internal juga nggak mungkin, apalagi bekingan Om Keenan. Makanya gue bingung, kok bisa bocor ya?" Mark mengacak rambutnya. Ponselnya lagi-lagi berdering, namu segera dimatikannya
"Gue masih nggak tau harus ngomong apa ke wartawan." Ujar Mark lagi sambil memasukkan ponsel itu ke dalam tasnya.
Arina hanya bisa diam. Mematung.
"Oh iya lo mau ngomong apa? Kenapa ngajak ketemu?"
"Ah..oh itu, sorry ya gue ngajak ketemu lo disaat genting kayak gini. Gue cuma mau bilang...Maaf."
"Maaf? For?"
"Everything."
"Hah? Wait what???"
Arina mengeluarkan surat cerai itu dan mengyodorkannya ke arah Mark.
"Gue dan Sagara mau cerai. Bukan mau, tapi harus. Sorry kalo bikin semuanya jadi kayak gini."
Mark terkejut, tapi ia tak bersuara.
"Gue juga akan langsung berangkat ke Singapore. Semuanya bakal baik-baik aja setelah ini, bilang aja ke wartawan kalo itu rumor palsu."
"Rin??? Are you serious?"
"Lagipula apaan sih Kak, dari awal juga pernikahan kita ga jelas kan?"
"Rin? Lo. Serius?"
"Kalo boleh hiperbola, Saturn porak poranda gara-gara gue kan?"
"Nggak."
"Kalo perjodohan ini nggak ada semuanya bakalan baik-baik aja kan, kak?"
"Arina. I know you're hurt now, jangan gegabah gini ya. Please.."
"Sampein maaf gue ke Sagara ya kak. Dan makasih banyak buat semua yang lo lakuin ke gue."
______
"Mandi!"
Jehian melemparkan handuk kecil bekas ia gunakan itu ke arah Sagara yang duduk di ranjangnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unwanted, Wound
FanfictionSagara tidak mengharapkan Arina di kehidupannya begitu pula sebaliknya, namun tidak ada yang tahu bagaimana skenario ini berakhir pada akhirnya. ______ menangis di jalan pulang (1:38 - 2:18) -was aksaramantra-
