Dingin itu menghunus tubuh pada pukul tiga pagi. Seorang anak sekolah dasar dengan piyamanya yang menyentuh lantai berjalan menyusuri lorong rumahnya yang megah. Sambil bergeridik karena dingin, anak itu mati-matian menahan air yang meminta untuk dikeluarkan dari tubuhnya. Yang sialnya, kamar mandi di kamarnya yang tengah direnovasi itu membuatnya harus mencari kamar mandi lain untuk dipakai.
Hari itu sangat sepi dan ia tidak perlu bertanya apa alasannya mengingat jam tiga pagi adalah waktu di mana semua orang menghabiskan sisa-sisa waktu tidurnya yang memendek itu.
Begitu pula keluarganya.
Anak itu berjalan dengan sedikit tergesa, tujuannya tinggal beberapa jengkal lagi dari tubuhnya. Kamar kakak laki-lakinya.
Ia berpikir mungkin kakak laki-lakinya itu tidak akan keberatan kalau ia dibangunkan pada pagi yang terlalu malam itu hanya untuk mempersilahkannya buang air kecil di kamar mandi kamarnya.
Kak Nathan nggak akan marah, begitu pikirnya.
Tangannya yang kecil mengetuk pintu kamar sang kakak. Sekali, dua kali, hingga ketukan ketiga sang kakak bahkan sama sekali nggak terlihat ada pergerakan.
"Ah...pasti kakak tidurnya pules banget." Begitu pikirnya.
Jadi ia mencoba membuka pintu itu, berharap tidak dikunci dan termyata memang benar, sebuah anomali di rumah ini,
Pintu kamar Kak Nathan nggak dikunci.
Anak itu kemudian bergegas masuk ke dalam kamar sang kakak, buru-buru karena sudah tidak tahan lagi menahan.
Namun, saat pintu itu terbuka, pemandangan yang ia lihat bukanlah kakaknya berbalut selimut tebal dan tertidur di atas ranjangnya. Ia memang melihat kakaknya tertidur, tapi ia tergantung. Di tengah-tengah kamarnya.
Gemetar, anak itu melupakan keinginannya untuk buang air kecil. Kakaknya tergantung mati di dalam kamarnya sendiri. Suatu pemandangan yang mati-matian dicerna oleh anak yang baru lulus SD. Mulutnya ingin berteriak, tapi ia tidak kuasa. Kemudian ia berlari keluar dari sana, berlari, hingga tanpa sadar kakinya menjejak lantai yang licin. Ia terpeleset, jatuh dari tangga, dan semuanya gelap.
______
"Anjing!!!!!"
Sagara mengerjap dua kali sebelum matanya mengedar dan menemukan jam dinding di kamar yang menunjukkan pukul satu malam. Napasnya terengah-engah seolah ia baru saja berlari marathon. Dadanya kembali sakit saat mimpi itu datang lagi. Saat ia menyeka wajahnya, tanpa ia sadari, ia menangis.
Mimpi buruk itu selalu datang akhir-akhir ini, kejadian yang mati-matian ingin ia lupakan itu malah seolah terputar kembali dalam mimpi buruknya.
Sagara menatap bekas luka di lengannya. Luka yang timbul akibat dirinya yang jatuh dari tangga kala ia kecil dulu.
Sudah lama sekali ya....
Sagara mengecek ponsel, lalu bergegas keluar dari kamarnya untuk mengambil air minum.
Saat ia sampai diluar, ia melihat lampu ruang tamu yang menyala, ia berjalan ke sana, dan menemukan seorang gadis yang tertidur dengan posisi duduk di hadapan laptop yang menyala.
Ia lupa kalau ia tak lagi tinggal di rumahnya. Kini ia telah memiliki seorang istri.
Arina.
Sagara berjalan menghampiri Arina, menilik sebentar laptopnya yang menyala dan menunjukkan draft skripsi Arina yang sampai pada bab V. Sagara lupa kalau Arina masih berjuang untuk lulus kuliah.
Sagara tersenyum kecil.
Bimbang antara hendak membangunkan Arina atau tidak, Sagara memilih kembali ke kamar dan mengambilkan sehelai selimut untuk menyelimuti tubuh Arina. Namun, baru saja hendak menyelimutinya, ia terbangun.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unwanted, Wound
FanfictionSagara tidak mengharapkan Arina di kehidupannya begitu pula sebaliknya, namun tidak ada yang tahu bagaimana skenario ini berakhir pada akhirnya. ______ menangis di jalan pulang (1:38 - 2:18) -was aksaramantra-
