Extra Chap 1 (Arina's POV)

555 64 1
                                        

Dua tahun yang lalu

Kami bercerai.

Itu adalah awal dari hidup kami yang baru.

.
.
.
.
.

"Iya...nanti aku telepon lagi ya. Iya sama Mark...paling nanti pulang sorean atau bisa aja malem karena Mark juga free seharian."

"Kenapa sih? Ya karena aku disini kenalnya Mark doang. Mau ngajak siapa emang aku?"

"Ck...Sagara!"

Aku berdecak sebal pada titik titik terakhir suara ponsel dimatikan menggema dari ujung sana.

Sagara mematikan ponselnya setelah kami berdebat lagi.

Aku kembali menghubunginya, kali ini dengan panggilan video karena dia biasanya lebih suka melakukan panggilan video alih-alih hanya suara.

"Hallo..."

"Apa?!"

Suara ketusnya nampak di ujung sana. Dengan kaus putih polos dan rambutnya yang separuh basah, tak ayal tadi ia bilang baru saja pulang dari kegiatan dan mandi.

"Ngapain vidcall hah? Mau pamer kamu mau jalan sama Mark Lee Soeharsono??" Tanyanya ketus.

Aku tertawa.

"Iya. Liat cantik ga aku pake dress ini?"

"Biasa aja." Ujar Sagara masih sama ketusnya dengan yang sebelumnya.

"Bisa nggak sih jangan pergi sama Mark."

"Kan aku udah bilang aku cuma kenal Mark disini, dia udah kayak akamsi jadi paling aman ya pergi sama dia."

"Yaudah iya, terserah!"

"Aku juga nggak ngelarang kamu pergi sama siapa aja di Amerika. Kenapa kamu sensi aku pergi sama Mark?"

"Beda! Disini aku kalo pergi-pegi yang cuma sama Om Jeff."

"Hahahahah."

Lucu.

Lucu sekali.

Kalau aku boleh cerita, aku punya dua hal baru yang aku sukai akhir-akhir ini. Satu, kucing milik Elle yang sering main ke kamarku dan, yabg kedua adalah membuat Sagara marah. Kalo boleh sombong, aku ahli dalam melakukan yang kedua.

"Yaudah aku matiin dulu ya."

"Kenapa cepet-cepet?"

"Mark udah nunggu."

"Yaudah iyaaa...have fun ya have fun!"

"Kayak nggak ikhlas ngomongnya."

"Biarin." Ujar Sagara.

"Yaudah matiin!" Pintaku.

"Lo lah yang matiin, orang lo yang telepon duluan."

Ya Tuhan. Aku memutar bola mataku dengan sebal, lalu mematikan sambungan video kami. Sagara nampak kesal di ujung sana tapi biarlah. Toh ia juga tidak tahan untuk marah lama-lama denganku.

Aku menyemprot parfumku sekali lagi, memastikan aku dalam kondisi terbaikku saat ini. Ini hari pertama aku akan mengelilingi Singapura. Dan aku sangat merasa harus tampil lebih baik dari biasanya.

Tepat sebelum aku keluar dari kamarku, Mark menelepon.

"Iya...gue udah mau turun. Iyaa oke. Iya dikunci kok. Beres."

Kami niatnya akan pergi makan dulu. Mark menungguku di restoran pasta favoritnya yang mau ia tunjukkan kepadaku. Ia menawari untuk menjemput namun aku menolak. Aku sedang ingin naik bus.


Unwanted, WoundCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang