Empat Puluh Empat - Cerita

370 69 19
                                        



Saturn With Manager (6)

Haikal
Diem mulu lo dari tadi kek orang kebanyakan masalah

Jehian
Emang

Jehian melempar ponselnya ke kasur. Mengacak-acak rambutnya yang lepek karena keringatnya sendiri. Hari itu, setelah konser musik dibatalkan setelah insiden jatuhnya properti itu hingga menyebabkan Arina masuk rumah sakit, Jehian terus mengurung diri di kamarnya. Saat Haikal dan Ajun mengajaknya untuk makan bersama tadi, Jehian menolak.

Ia tidak punya gairah lagi.

Pikirannya penuh.

Tersita oleh bagaimana ia bisa memastikan cowok bernama Ryan itu tidak berbuat macam-macam kepada Shenina.

Tok tok tok

Itu suara pintu diketuk, yang mengejutkan rungunya. Jehian, tersontak kaget.

Siapa?

Pikirnya.

Ia berjalan menuju pintu, membukanya, lantas menemukan Pak Herman, berdiri mematung sambil membawa sebuah kotak berisi entah apa.

"Pak Herman, kenapa ya Pak?"

"Nih, bapak dibawain martabak manis." Pak Herman menyodorkan kotak itu ke arah Jehian.

"Dari siapa Pak?"

"Nggak tau, tiba-tiba ada di meja depan, buat kamu aja."

"Beneran Pak?"

"Bener, bapak pernah baca katanya makanan manis ngurangin stress. Makan gih."

"Loh, saya nggak stress kok Pak."

"Hahaha, anak jaman sekarang pada lucu ya. Nggak stress gimana lha wong kelihatan dari wajahmu itu lho. Kusut, kayak nggak disetrika aja. Kenapa to, mas Ian?"

Jehian terdiam, bingung hendak menanggapi bagaimana pertanyaan si bapak.

"Kalo mau cerita, boleh lho mas cerita ke saya, ya saya cuma bisa mendengarkan aja, mau ngasih saran ya wong saya sudah tua. Saran macam apa yang bisa dikasih sama orangtua."

Jehian masih diam.

"Tapi yo kalo nggak mau ya nggak papa lho mas Ian. Saya nggak maksa, saya turun dulu ya. Dimakan itu martabaknya." Ujar Pak Herman dengan senyum kebapakan yang menyembul dari wajahnya.

Jehian tersentak, ia merasakan hatinya sedikit menghangat. Selama ini, siapa ya yang mengkhawatirkan dirinya lebih dari pada orangtua kandungnya selain Pak Herman.

"Pak Herman, Ian boleh cerita pak?"

______


Hening.

Sore itu koridor rumah sakit dipenuhi hening. Sagara duduk terdiam sementara Mark pergi membeli beberapa makanan. Arina belum juga sadarkan diri.

Kepala Sagara penuh oleh bayang-bayang tidak menyenangkan akan apa yang terjadi dengan Arina. Tentang bagaimana ia bertindak sebodoh itu dengan naik ke atas panggung dan menyelamatkannya. Bodoh. Arina bodoh.

Untuk apa menyelamatkannya?

Atau Sagara yang bodoh. Sagara harusnya tak mengajak Arina turut serta. Harusnya Sagara tak usah mengajak Arina untuk ikut serta.

Unwanted, WoundCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang