Empat Puluh Delapan - Sedikit Lagi

437 79 14
                                        

Mungkin sulit, atau mungkin hampir tidak bisa.

Sagara sama diamnya dengan ruangan ini. Tidak ada yang bersuara selain suara angina sepoi-sepoi yang mengibaskan tirai, serta jatuhnya tetes demi tetes air infus yang menempel di tangan Arina. Sagara diam, tak kunjung merespon ucapan Arina pada detik sebelumnya, ia tak bereaksi apapun.

Mungkin sulit, atau mungkin hampir tidak bisa melemparkan reaksi apapun dari mulutnya.

“Besok kalo gue udah diijinin pulang sama dokter, gue nggak pulang ke rumah.” Ujar Arina lagi.

“Arina?”

“Dan lo mungkin lebih bebas di rumah itu sendiri, kalo lo mau bawa Shenina ke sana just do it, lo nggak perlu minta ijin ke gue.”

“Arina! Lo ngomongin apa sih? Penting banget ya lo ngomongin ini sekarang?” Sagara berujar dengan nada yang sedikit kesal.

“Kalo nggak sekarang gue ngomong ya mau kapan lagi? Sampe lo capek bolak balik ke gue..ke Shenina..”

“Kok lo bawa-bawa Shenina?”

“Kenapa?” tanya Arina.

“Lo nggak suka gue sama Shenina? Shenina kan pa…”

“Pacar lo! Iya gue tau Shenina pacar lo. Makanya lo cepet pisah dari gue biar lo enak pacarannya.”

“Gue nggak ngerti Rin, lo kenapa? Kemaren lo nggak gini, at least kalo gue ada salah ya kasih tau salah gue dimana.” Ujar Sagara lagi. Ia benar-benar clueless, tidak tahu mengapa sikap Arina berubah padahal sebelumnya Arina tak pernah mengatakan apapun soal janji pernikahan mereka, apalagi sampai pada rencana berpisah. Walaupun tidak berbohong kalau Sagara sendiri tahu persis bahwa pernikahan mereka cepat atau lambat juga pasti akan diakhiri, akan tetapi rasanya tetap saja. Arina tak pernah seperti ini sebelumnya.

“Nggak salah, nggak ada yang salah emang gue ada nyalahin lo?”

“ya terus lo kenapa gini?”

shut up!”

Arina berbaring kemudian, menyelimuti tubuhnya dengan selimut hingga tubuhnya menghilang dari padangan Sagara. Dada Arina mendadak sesak, ada sesuatu yang ingin ia keluarkan dari mulutnya tapi tertahan. Menimbulkan sakit di tenggorokannya.
Tidak. Ia tidak boleh membiarkan Sagara mendengarkan tangisannya.
Dari balik selimutnya, Arina mendengar suara langkah kaki Sagara yang mendekat. Cowok itu  mendekatkan bibirnya ke telingan Arina dan berujar pelan,

“Gue anggep lo begini karena kondisi fisik lo yang masih sakit ya Rin. Tolong, tolong jangan marah sama gue. Kalo gue ada salah gue minta maaf. Gue pergi dulu, kalo ada apa-apa lo hubungin gue.”

Sial! Air mata yang mati-matian Arina tahan, akhirnya mengucur juga.

________


Jeff
Keenan mau ketemu

Sagara
Nggak bisa

Jeff
Penting, soal Nathan

Sagara
Di mana?

Jeff
Rumah

Sagara mengerutkan keningnya begitu membaca pesan masuk dari Om Jeff barusan. Ia baru saja tiba di rumahnya, dengan rencana hendak membawakan barang-barang Arina ke rumah sakit. akan tetapi begitu Om Jeff  mengatakan bahwa sang ayah hendak berbicara mengenai Nathan, Sagara memutuskan untuk mengurungkan niatannya. Ia memutar balikkan mobilnya, lantas menuju rumah sang ayah.

Unwanted, WoundCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang