"Jadi kamu yang namanya Dante?" Tanya lelaki berusia hampir setengah abad itu ke arah Dante. Suaranya berat, nampak berwibawa, namun wajahnya sama sekali tidak ramah.
"I..iya, saya Dante."
"Jadi kamu, yang memeras anak saya Nathan?"
"Hah?? E...enggak om saya nggak pernah meras Nathan."
"Lalu ini?" Tanya Keenan sambil menyodorkan beberapa lembar foto.
"Kamu fikir saya nggak tau?"
Foto itu menampakkan jelas wajah Dante dan Nathan di sudut sekolah. Dante nampak menerima amplop cokelat dari Nathan.
"Saya nggak pernah memeras Nathan om."
"Saya punya buktinya kamu jangan mengelak! Kamu memeras anak saya! Saya bisa laporkan kamu ke kepala sekolah. Katanya kamu anak beasiswa, wah bisa dicabut beasiswa kamu!"
"Om...saya nggak pernah malak Nathan!"
"Kalau begitu jelasin maksud foto ini apa!"
Dante terdiam. Ada janji pada Nathan bahwa dia tidak boleh membeberkan semuanya. Bahwa Nathan memintanya untul curang dalam setiap ulangan.
Bahwa Nathan melarangnya untuk jadi juara satu di sekolahnya.
"Brengsek kamu, masih kecil sudah berani malak. Katanya ibu kamu sakit? Butuh duit? Kamu miskin kan, pasti kamu malakin anak saya demi itu. Ibu kamu kamu kasih makan uang haram? Suruh ibu kamu jual diri aja kalo mau punya uang!"
"Om! Jaga mulut om ya!" Dante berapi-api. Dunia boleh menghinanya tapi jangan dengan ibunya yang bahkan tidak tahu apa-apa.
"Kamu juga jaga kelakuan kamu!"
"Saya nggak pernah malak Nathan! Nathan yang minta saya ngelakuin itu. Saya selalu peringkat 1 di setiap mata pelajaran, sementara Nathan di peringkat dua. Nathan minta saya buat salahin jawaban-jawaban saya tiap ujian supaya dia yang rangking 1 bukan saya! Dan dia minta saya buat nyuri bocoran soal dari loker guru setiap mau ujian! Saya nggak pernah malak Nathan!"
Keenan terdiam. Enggan percaya dengan apa yang dikatakan Dante barusan.
"Brengsek! Ngomong apa kamu barusan? Sejak kapan anak saya lebih bodoh dari kamu! Heh orang miskin! Ngomong apa kamu tentang anak saya hah? Kamu fitnah anak saya?!" Keenan menarik kerah baju Dante, mengangkatnya ke udara. Membuat anak itu meringis kesakitan, ia sulit bernapas.
"Saya nggak bohong! Uhukk...uhukk...silahkan laporkan saya ke kepala sekolah, saya akan bongkar semua kecurangan Nathan di sekolah!"
"Brengsek!"
Bugh....Keenan meninju Dante dengan keras, membuatnya tersungkur jatuh ke tanah.
"Saya bisa buktiin semuanya, ayo kita liat di ujian masuk SMA nanti, siapa yang jadi juara 1." Ujar Dante sambil bersungkur.
"Brengsek! Kamu nginjek-injek anak saya?!"
"Anak kamu lebih bodoh dari orang miskin kayak saya! Dia cuma punya uang! Kalo nggak punya uang dia nggak akan ada di peringkat 1."
"Bajingan kamu! Hah tau apa kamu soal uang??" Keenan menarik tubuh Dante, meninju wajahnya sekali lagi.
"Kamu merasa lebih pinter dari anak saya kan? Iya? Kamu bilang anak saya cuma mengandalkan uang kan? Ayo kita liat seberapa besar uang bisa memporak porandakan hidup orang lain!" Ujar Keenan sambil mendorong tubuh Dante hingga jatuh ke tanah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unwanted, Wound
FanfictionSagara tidak mengharapkan Arina di kehidupannya begitu pula sebaliknya, namun tidak ada yang tahu bagaimana skenario ini berakhir pada akhirnya. ______ menangis di jalan pulang (1:38 - 2:18) -was aksaramantra-
