Sagara tidak mengharapkan Arina di kehidupannya begitu pula sebaliknya, namun tidak ada yang tahu bagaimana skenario ini berakhir pada akhirnya.
______
menangis di jalan pulang (1:38 - 2:18)
-was aksaramantra-
Detik setelah lonceng pulang dibunyikan, anak-anak sekolah elit itu berlarian menuju luar. Keluar dari tempat yang disebutnya neraka itu. Sebutan lain untuk bangunan sekolah tiga lantai super megah di tengah kota metropolitan yang interiornya disengajakan bergaya medieval.
Dua anak laki-laki itu juga salah satunya.
"Nanti sebelum pulang beli es krim dulu ya, gue haus." Ajak anak laki-laki yang bertubuh lebih pendek dari anak laki-laki yang berjalan beriringan dengannya itu.
"Nggak ada duit." Jawab si anak yang lebih tinggi.
"Gue bayarin, Te."
Anak laki-laki berubuh jangkung itu, Dante namanya, mengangguk setelah kawannya yang bernama Nathan berniat membayar untuk es krimnya.
"Gue sebel banget deh." Ujar Nathan lagi. Dante menoleh ke arahnya, kemudian mengernyitkan dahi.
"Kenapa?"
"Biasa, papa."
Hela napas terasa di detik setelah Nathan menyebut nama ayahnya, Dante pun sudah menduganya.
Lagi-lagi pasti ayahnya.
"Kenapa Nath?"
"Semalem gue bilang ke papa kalo gue mau ngambil arsitektur waktu kuliah besok. Tapi papa nggak setuju, dan gue malah dimarahin habis-habisan. Emang kenapa sih kan gue cuma mau jadi arsitek."
"Nath, kita masih SMP Nath, lo udah mikir tentang kuliah?"
"Loh? Lo belom mikir kesana?"
Dante menghela napasnya, "gue aja nggak tau bisa kuliah apa enggak."
"Bisa, lo kuliah aja sama gue Te."
"Tapi gue nggak tau mau kuliah apa."
"Gini deh...cita-cita lo apa?" Nathan menghentikan langkahnya. Perjalanan menuju toko es krim itu tertunda setelah Nathan memilih berhenti di bawah pohon rindang tak jauh dari sekolah mereka.
"Cita cita gue? Kok tiba tiba nanyain itu?"
"Ck...gimana sih kan biar jelas lo mau kuliah apa besok."
Dante menggaruk tengkuknya yang tak gatal, berpikir. Sejujurnya ia tak pernah memikirkan hal ini sebelumnya. Boro-boro soal kuliah, ia cuma memikirkan apakah besok ia masih bisa sekolah.
"Cita-cita gue sih, jadi Nathan." Jawab Dante.
"Hah? Jadi gue?" Nathan yang namanya disebut mendadak berkerut kening.
"Iya, hidup enak, sekolah pinter keluarga enak, banyak uang, punya supir sendiri. Gue mau jadi lo aja deh."
"Hahaha gila ya lo Te, gue aja nggak mau jadi gue."
Jawaban itu awalnya dianggap Dante kecil sebagai candaan. Apalagi Nathan suka bercanda juga.
Tapi hari ini, ia tahu bahwa kala itu Nathan tidak bercanda. Nathan serius.
Dia nggak mau jadi dirinya karena hidupnya sejatinya adalah neraka.
"Keenan, Sagara dan semuanya, lo harus bayar kematian Nathan." Gumam Dante.
______
Sagara
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.