Suara riuh ramai, redam bunyi kendaraan bersatu padu dalam kepala Sagara. Tubuhnya yang lelah tak mampu lagi menopang raga. Ia jatuh terduduk di kursi mobilnya, memegang kemudi dengan tangan bergetar.
Suara Mark yang memintanya untuk beristirahat sejenak untuk sekedar memasukan makanan ke kerongkongan tak dihiraukannya, ditepis dengan ucapan
"Gue jemput Shenina dulu."
"Sinting lo! Di situasi kayak gini masih mirikin cewek lain, istri lo noh belom siuman!"
"Gue udah diusir sama kakaknya bang."
"Effort lo gitu doang?"
"Ya gue harus gimana?"
"Tai!"
Tangannya lemas, kendati begitu suara Shenina dari balik telepon tak berhenti menderunya dengan berbagai tanya
"Kamu pilih aku apa dia sih? Jawab! Jawab Gara! Aku masih pacar kamu kan? Aku tuh masih pacar kamu tau! Dia tu bukan siapa-siapa kamu! Aku nggak mau tau jemput aku sekarang atau aku ga akan beranjak satu jengkal pun dari sini!"
"Iya aku jemput kamu sekarang ya."
"Gitu dong! I love you!."
"....."
"I love You Sagara hello....can u answer me?"
"Iya love you too."
______
"Sagara udah balik?"
"Udah kak."
"Bener-bener ga ada effort nya! Terus lo ngapain masih disini?" Tanya itu keluar dari mulut Dante, mengintimidasi Mark yang sedari tadi memang masih menunggu di rumah sakit.
"Em...boleh Kak, saya nunggu Arina sampe dia siuman?" Tanya Mark.
"Buat apa? Lo siapanya dia emang?"
Protektif. Mark tahu, mungkin karena Dante sesayang itu pada Arina.
Tapi pertanyaan Dante barusan tak bisa Mark jawab dengan gamblang.
Siapanya?
Memang ia siapanya Arina?
"Te--temen, Kak."
"Lo pulang aja, lo udah disini dari tadi pagi kan? Yang katanya suaminya aja nggak peduli. Tapi makasih lo udah nungguin adek gue."
"Nanti kalo Arina udah siuman bisa tolong kabarin saya Kak? Mau make sure aja Arina nggak papa."
Dante terdiam sejenak, ia menatap Mark dari atas kepala hingga ujung kakinya.
"Sini nomer lo, ntar gue kabarin."
"Siap Kak, 08..."
.
.
Dante
Jo, cari tau Sagara dimana
J
Bangsat gue baru istirahat
Udah lo suruh berbuat jahat aje
Dante
Cepet
______
"Aku mati Shen kalo nggak ada Arina tadi!"
Hari itu, mungkin Sagara bisa memasukkannya ke dalam daftar hari paling chaos di dalam hidupnya. Shenina duduk di sebelahnya, sementara ia di kursi kemudi.
Lama tak berjumpa, Sagara tak berbohong kalau ia merindukan Shenina, kekasihnya. Namun melepas rindu disaat seperti ia rasa bukan sesuatu hal yang manusiawi untuk dilakukan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unwanted, Wound
FanfictionSagara tidak mengharapkan Arina di kehidupannya begitu pula sebaliknya, namun tidak ada yang tahu bagaimana skenario ini berakhir pada akhirnya. ______ menangis di jalan pulang (1:38 - 2:18) -was aksaramantra-
