Mereka adalah sosok manusia yang punya sifat saling bertolak belakang. Sama ada Zean maupun Qiara, masing-masing gak suka satu sama lain. Pantang lagi kalo bertemu, ada aja yang diperdebatkan.
Zean itu menyebalkan, bagi Qiara. Dan Qiara itu membosan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
6-Nikah
Setelah Qiara diperbolehkan pulang, iapun langsung meminta agar pernikahan langsung digelar.
Mereka yang mendengar itu menjadi kaget. Kemaren aja Qiara sempat pingsan kerna disuruh nikah sama papanya namun kini ia yang meminta agar pernikahan dilangsungkan bahkan amat cepat yaitu hari ini.
Ya, Qiara mahu pernikahan nya dilangsungkan siang ini tanpa ada persiapan apapun. Tanpa baju pengantin dan orang ramai. Hanya keluarga terdekat saja yang datang bahkan sahabatnya pun tak ia jemput.
"Ara, kok buru-buru banget sih. Emang kamu gak mau nikah kayak yang umumnya. Sahabat kamu juga, gak mau dijemput. Kita gak keberatan kalo pernikahan harus diadakan hari ini tapi kalo siang ini, emang gak nyusahin? Kamu aja baru keluar dari hospital" ujar Fiona mencoba memujuk Qiara.
"Huh, pernikahan ini kan emang gak dirancang. Jadi untuk apa menjemput orang ramai. Toh, Ara juga bukan mau nikah sama Zean. Cuman terpaksa ma. Mama pikir Ara juga mau seperti ini? Enggak ma" bukan Qiara yang menjawab namun Vero.
Kerna ia tau adiknya pasti sudah memikirkan matang-matang soal ini. Pasalnya kan ia sudah juga berbincang dengan Zean berdua kemaren. Lagipula ia tau Qiara tak akan membuat sesuatu keputusan yang akan merugikan dirinya sendiri.
"Tapi kan pernikahan ini satu kali seumur hidup, Ra. Emang gak mau pernikahan yang mewah gitu. Mama tau kalo kamu terpaksa tapi anak mama juga harus ngerasain pernikahan yang sesungguhnya" ujar Fiona lagi.
"Yaudah kalo gitu kalian aja yang ngurusin. Aku capek mau istirihat" ujar Qiara lalu naik pergi ke kamarnya.
Memang terlihat seperti kurang ajar namun sebenarnya Qiara hanya mau menutup kesedihannya.
"Jadi gimana ini? Kita harus plan mulai sekarang pernikahan nya. Karna sore ini sudah harus dilangsungkan pernikahannya" ujar Fiona meminta pendapat.
Lalu merekapun berbincang soal pernikahan Qiara dan Zean. Manakala Vero, ia ada di kamar bersama Qiara.
"Ra, kamu baik-baik aja? Kamu bener mau nikah sama dia?" tanya Vero lembut.
Sekarang ini, Qiara sedang duduk di kepala ranjangnya dan Vero duduk disebelahnya sambil mengelus lembut surai milik Qiara.
"Emang Ara punya pilihan apa selain itu? Lagipula Ara gak mau malu-maluin keluarga kita. Ara udah bikin malu dengan kejadian ini. Kalo gak nikah malah tambah malu. Apalagi kalo Ara sampe hamil" ujar Qiara sendu.
"Yaudah gakpapa Ra, abang yakin sama keputusan kamu. Tapi kalo sampe kamu menderita di pernikahan ini, abang orang pertama yang akan maju buat lindungin kamu" ujar Vero.
Qiara yang mendengar hanya tersenyum tipis.
"Emang Zean berani sama Ara. Ya enggaklah, dia aja tadi gak berani natap Ara" ucap Qiara.