Mereka adalah sosok manusia yang punya sifat saling bertolak belakang. Sama ada Zean maupun Qiara, masing-masing gak suka satu sama lain. Pantang lagi kalo bertemu, ada aja yang diperdebatkan.
Zean itu menyebalkan, bagi Qiara. Dan Qiara itu membosan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Martin menatap datar ke arah anak seusia ponakannya yang jauh dua tahun di bawahnya itu. Tangisan anak kecil, ah padahal dia juga tergolong anak kecil saat ini. Gak tau diri emang Martin.
"Kamu diem!" Ujarnya dengan nada mengancam dengan tatapan tajam yang menekan anak berusia enam tahun itu yang malah semakin membuat gadis kecil itu menangis kejer. Gimana tidak, hunusan tajam mata Martin ke arahnya yang lagi dirundung ketakutan gegara emaknya ninggalin ke pasar bersama hanya anak tetangga sebelah membuatnya merasa begitu terancam.
"M--mommyy!!! Adek takuttt!!" Tangisnya semakin kejer. Mendengar tangisan yang semakin kejer, Martin dibuat semakin kelabakan. Ia lalu mengedarkan pandangan dan terlihat lah di matanya, sebuah kertas kosong berserta pena yang sering ia gunakan untuk mengisi waktu luangnya.
"Nih." Tangis anak kecil itu seketika mereda berserta pandangan mata bingung kearah Martin yang menyodorkan kertas yang dirasa tak berguna. Martin lalu menarik tangan gadis kecil itu lembut.
"Aku ajarin kamu itung-itungan mau?" Gadis kecil itu seketika berbinar senang. Ia mengangguk semangat.
"Mauuu! Mommy sering ngajarin adek itung-itungan dan itu seru banget meski adek gak ngerti gimana caranya." Martin yang pada dasarnya dikenal sebagai anak kecil irit ekspresi buat pertama kalinya tersenyum. Seenggaknya ia berbakat dalam mengalihkan perhatian gadis kecil ini.
"Adek? Kalo sama aku jangan adek." Martin menegur lembut. Khas dengan senyum ikhlas yang entah kenapa senang sekali ia perlihatkan pada gadis kecil itu.
Karena gak mungkin aku punya adek bego kayak kamu... Tenang saja, itu hanya diucapkan di benaknya. Martin gak setega itu kok sama anak yang dianggapnya kecil... padahal sama-sama setara.
"Terus apa?"
"Nama kamu apa?"
"Ivy. Ivy Abigail... hehehe." Martin terkekeh melihat cengiran lucu di wajah anak itu.
°°°
"Ivy?" Melihat gadis dengan rambut berponi lengkap dengan wajah yang cukup terganggu dengan ekspresi menghakimi dari kakak tingkat yang dipilih khas oleh sekolah untuk mengajarkan siswi bodoh sepertinya di sekolah yang cukup berprestasi seantero negri membuat Martin menjadi kehilangan fokus.
Namanya... mirip. Dan jangan lupakan. Mata yang memalas dan mulut komat-kamit yang menjadi kelakuan khas gadis kecil yang dulunya.
"Nilai kamu cuman delapan dalam matematika?" Tanya Martin lengkap dengan senyuman sinis yang menyebalkan.
Mulai saat itu, Ivy dengan resminya mengibar jalur permusuhan kepada kakak tingkat yang ditunjuk oleh sekolah untuk menjadi guru les khas kelasnya. Sumpah, ngeselin iya!!!
"Dasar Leo bodo!! Dari dulu sukanya bikin kesel!!!"