✨CHAPTER 42

1K 21 0
                                        

42-Lulus SMA

Please Vote Before Reading. Thankyou!



"Iya itu disana tembak cepatan tembak woyy kiri lo woyy AKHHH KAN UDAH KALAH!!" teriak Zean saat bermain game yang membuat Qiara menjadi terganggu.

Mereka saat ini sedang berada di atas kasur dengan posisi Qiara yang berbaring di paha Zean dan Zean yang bersandar di kepala ranjang.

Ia merasa sangat terganggu kala Zean dari tadi berteriak. Mana suaranya itu dekat banget di telinganya. Ia yang sudah hampir terlelap tadi pun terpaksa harus membuka matanya kembali.

"Ihh apaansih bising tau" cibir Qiara kesal.

Namun Zean tak memperdulikannya dan malah makin kuat pula teriakannya itu membuat Qiara makin geram saja.

"Kamu keluar aja deh" pekik Qiara kesal saat Zean tak memerdulikan nya.

Zean kaget mendengar itu. Lalu tanpa kata ia pun keluar dari kamar mereka meninggalkan Qiara yang kesal. Niat nya ingin membuat Zean perhatian padanya eh malah beneran ditinggalkan.

Dasar Zean tak peka!

"Ish kok malah keluar beneran sih. Orang maunya dipujuk kan ceritanya gue ngambekan" gerutu Qiara saat Zean sudah sepenuhnya keluar dari kamar itu.

Qiara yang bosan pun membawa anaknya yang ada didalam perut berbicara. Kini usia kandungannya sudah tiga bulan.

Mau tidur kembali pun ia sudah tak bisa jadinya ia membawa anaknya berbicara walaupun tau ia ucapannya tak akan direspon.

"Daddy kamu ngeselin banget kan. Masa mommy nya ditinggalin sih. Mana dia gak peduli lagi sama mommy, gak minta maaf pula. Iss, awas aja dia" ucap Qiara kesal.

Ia mengelus lembut perutnya yang sudah kelihatan sedikit benjolannya.

Persekolahannya pun tinggal beberapa bulan lagi setelah itu mereka akan lulus SMA. Jika ditanya kemana jalan tujuannya setelah ini, ia juga tak tau.

Memang sebelum ini ia punya banyak rencana setelah lulus SMA. Namun setelah ia menikah dan bakalan mempunyai anak ia jadi tak yakin dengan rencana itu dan berubah pikiran menjadi yang lain.

Namun sampai saat ini ia masih tak tau lagi bagaimana dengan masa depannya. Ia memang bercita-cita mempunyai pekerjaan yang ia impikan sedari dulu.

Namun ia juga sadar ia tak boleh egois. Ia bakalan punya anak dan pastinya bakalan lebih sibuk. Mungkin sebaiknya ia hanya akan mengurus rumah tangganya dan mengubur cita-cita nya itu saja.

Mungkin ia akan menyesal dengan pilihan nya ini namun memang hanya inilah pilihan yang terbaik. Walaupun ia pernah berbincang hal ini dengan Zean dan Zean juga membenarkannya untuk kuliah namun ia merasa bersalah jika harus mengetepikan anaknya yang mungkin akan kekurangan kasih sayang.

Ia tau mau jika apa yang ia rasakan dulu terjadi juga pada anaknya. Cukup dia saja yang merasa, anaknya tak bisa. Dan akan ia pastikan anaknya cukup mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya bahkan keluarganya.

"Mommy bakalan selalu sayang kamu" ujar Qiara tulus.

Lalu setelah itu ia mencuba untuk tidur kembali. Namun tak bisa.

"Aaa kok gak bisa tidur sih. Gue mau dipeluk sama Zean. Tapi masa pergi ke dia sih. Kan aku yang ngambekan " celetuknya.

Wajahnya saat ini sudah cemberut.

"Tapi kalo makin dibiarin gue makin gak bisa tidur. Apa gue nyusul aja Zean yah?" tanyanya entah pada siapa.

Lalu setelah itu ia bangkit dari baringnya menjadi duduk. Ia berniat ingin pergi menyusul Zean saja daripada ia kesusahan untuk tidur.

ZeanAra Love Hate [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang