Mereka adalah sosok manusia yang punya sifat saling bertolak belakang. Sama ada Zean maupun Qiara, masing-masing gak suka satu sama lain. Pantang lagi kalo bertemu, ada aja yang diperdebatkan.
Zean itu menyebalkan, bagi Qiara. Dan Qiara itu membosan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
15-Kepergok
"Eungh" Qiara terbangun dengan keadaan tangannya digenggam erat oleh Zean.
Ia kaget saat tiba-tiba ia membuka mata sudah ada Zean yang menatapnya instens dengan wajah yang juga kaget seperti dirinya.
"L-lo udah bangun?" tanyanya kaget.
Qiara pun hanya mengangguk sebagai jawaban. Ia masih saja merasa aneh dengan dirinya. Kok, kayak di rumah sakit ya pikirnya.
Setelah itu Zean dengan senyuman di wajahnya, memeluk erat Qiara sehingga Qiara menjadi susah untuk bernafas.
"Uhuk, uhuk, Ze-Zean l-lepasin" pinta Qiara terbata.
Zean yang mendengar itu segera melepaskan pelukannya. Ia menatap Qiara dengan rasa bersalah.
Namun senyuman masih terpatri di wajah tampannya itu. Qiara yang melihatnya menjadi terpesona dengan wajah Zean yang sangat manis saat tersenyum.
"Maaf Qia, soalnya gue seneng banget lo udah bangun. Lo tau gak gue khawatir banget tadi ngeliat lo pingsan. Keknya gue bisa mati deh ngeliat lo sakit kek gini" terang Zean yang membuat hati Qiara menghangat.
Ia tersenyum tipis kerna perhatian yang Zean berikan kepadanya. Ia harap Zean akan selamanya perhatian kepada dirinya.
"Hm, makasih udah perhatian sama gue" ujar Qiara tulus.
Zean yang mendengar itu mengangguk dengan tersenyum sangat manis kearah Qiara. Ia senang kerna bisa membuat Qiara bahagia hanya kerna perhatian kepadanya.
Mungkin bagi sesetengah orang itu hanyalah perhatian biasa namun bagi Qiara itu adalah perhatian yang bisa membuatnya senang.
Setelah itu Zean baru mengingat yang ia ada beberapa pertanyaan yang telah ia rangkai saat Qiara masih tertidur tadi.
"Emm, Qia. Gue mau nanya. Kok bisa pingsan didapur sih. Kan gue udah suruh lo istirihat aja dikamar jangan kemana-mana" tanya Zean dengan nada lembut.
Walau bagaimanapun ia tak bisa memarahi Qiara. Mungkin gadis itu hanya bosan saja ataupun ingin makan kerna lapar.
Zean yang mengingat satu perkara lantas menepuk dahinya.
"Oh iya maaf Qia, keknya gue pikun deh. Kan gue yang taruh ubat di dapur. Huh, keknya gue harus taruh di kamar aja sekalian tadi" ucap Zean menghela nafas.
"Gakpapa, tadinya gue juga salah kerna belajar terlalu lama. Udah lo ingetin tapi guenya yang bandel gak dengerin" ujar Qiara merasa bersalah.
"Yaudah tapi kalo dibilangin itu nurut ya. Nanti gue khawatir lagi kek gini. Lo gak tau aja seberapa khawatir nya gue tadi" ucap Zean mencubit gemas pipi Qiara.
"Apa ih cubit-cubit, sakit tau" protes Qiara saat Zean lagi-lagi ingin mencubit pipinya.
"Hehe, iya amaf. Soalnya pipi lo gemesin banget" ujar Zean yang membuat pipi Qiara memerah.