21-Pregnant
Please Vote Before Reading. Thankyou!
•
•
•
"Gimana?" tanya Zean dengan cemas.
Ia sudah menunggu Qiara dari tadi yang sedang di dalam kamar mandi. Qiara tengah mengecek kehamilannya menggunakan testpack yang ia beli di apotik tadi.
Jantungnya dari tadi tak berdetak dengan normal sedari ia masuk kedalam kamar mandi. Ia rasa jantungnya akan meletup jika lama-lama seperti itu.
Sama halnya seperti Zean yang menunggu dengan perasaan cemas. Ia juga sama takutnya dengan Qiara. Namun berbanding rasa takut mungkin rasa cemas lebih mendominasi.
Kini Qiara sudah siap mengecek namun ia masih belum mau keluar kerna takut. Rasanya kek gimana gitu. Ada rasa senang, takut, kecewa juga sedih.
Entah mengapa ia merasakan hal itu namun entahlah. Ia juga tak tau dengan perasaan nya ketika ini. Ia bingung.
"Qia lo oke kan?" tanya Zean lagi sambil mengetuk pintu kamar mandi dengan tak sabaran.
"I-iya bentar" jawab Qiara lalu dengan langkah perlahan ia keluar.
Lalu ia menyerahkan testpack itu kepada Zean. Ia juga belum tau hasilnya kerna sangat takut. Jujur ia belum bersedia menerima apapun itu hasilnya.
Lalu Zean pun melihat kearah testpack itu dan hasilnya adalah... positif. Testpack itu menampilkan dua garis merah yang bermaksud Qiara memang beneran hamil.
"Gimana hasilnya?" tanya Qiara gugup.
Ya ia tidak melihat, ia hanya memberikan kepada Zean saja agar ia saja yang melihat.
"I-ini positif" jawab Zean tercekat.
Ia tak bisa menahan perasaan ini. Ia senang. Zean tau jika ia berlebihan namun rasanya ia ingin berteriak kepada seluruh dunia saking senangnya.
"Hah positif" sentak Qiara kaget.
Sungguh bukan ini hasil yang ia harapkan. Namun apa yang ia boleh buat. Mau menyesali pun tak ada gunanya.
Lalu ia terduduk lemas diatas kasur. Tatapan matanya kosong menatap kearah hadapan. Entah apa yang dipikirkan olehnya namun yang pasti itu tidak jauh-jauh dari kehamilannya ini.
Zean pun tak berniat untuk membuka obrolan. Ia tau jika Qiara memerlukan waktu untuk menenangkan pikiran jadi dia berniat untuk turun meninggalkan Qiara berpikir matang.
"Gimana sama kuliah gue?" tanya Qiara tiba-tiba saat Zean ingin keluar dari kamar.
Ia pun berhenti lalu berputar kembali tak jadi ingin keluar. Rasanya meninggalkan Qiara sendirian bukanlah hal yang wajar sekarang ini.
Lalu Zean pun duduk di samping Qiara mengambil jarak sedikit agar Qiara tak terlalu canggung. Entah mengapa Zean ada pemikiran yang seperti itu.
"Nanti gue bantu pikirin" ujar Zean yang mungkin menjawab sedikit pertanyaan yang berlayangan di benak Qiara saat ini.
"Tapi-"
"Udah harusnya kan kita ngerayain kehamilan lo. Yah walaupun lo mungkin gak suka tapi kan ini anak pertama gue alias anak kita sih. Jadi dia harus disayang bukannya dibuang. Lo gak ada niatan untuk menggugurkan kandungan lo kan" tanya Zean takut-takut Qiara terasa.
"Gue gak segila itu" balasnya datar.
Ia menatap Zean dengan tatapan tajamnya yang mana membuat nyali Zean seketika menciut. Entah mengapa jika meliat tatapan tajam Qiara ia merasa takut.
KAMU SEDANG MEMBACA
ZeanAra Love Hate [End]
RomansaMereka adalah sosok manusia yang punya sifat saling bertolak belakang. Sama ada Zean maupun Qiara, masing-masing gak suka satu sama lain. Pantang lagi kalo bertemu, ada aja yang diperdebatkan. Zean itu menyebalkan, bagi Qiara. Dan Qiara itu membosan...
![ZeanAra Love Hate [End]](https://img.wattpad.com/cover/324964333-64-k561738.jpg)