02

78.8K 5.2K 70
                                        

"Aku bosaaannnn...." Rengek Axinella bergulung-gulung di taman bunga hingga seluruh rambutnya berantakan dipenuhi daun dan ranting.

Semua pelayan masih syok dengan tingkah ajaib Permaisurinya. Gadis itu sejak tadi begitu lincah hingga mereka tak kuat bahkan hanya memandang tingkat Axinella saja.

Lain dengan kedua pria di tempat kerja yang sibuk dengan berkasnya. Dia Rodolfo dan Xavier yang sibuk mengurusi Kekaisaran.

"Dimana putriku pengawal? Apakah ia sudah makan?" Tanya Xavier membuat Rodolfo menghentikan sejenak kegiatannya meneliti berkas.

"Maaf yang mulia, Permaisuri Axinella sedang berada di taman bunga. Anda bisa mengawasi dari sini." Ucap pengawal menunjuk arah jendela yang langsung menghadap taman bunga.

Kedua pria tersebut melihat tingkah ajaib Axinella yang saat ini melambaikan tangannya kearah kedua pria tersebut sambil memakan apel diatas pohon.

Xavier yang melihat hal itu syok bukan main dan langsung melangkah cepat meninggalkan ruangan menyusul putri semata wayangnya.

Sedangkan Rodolfo melangkahkan kakinya mendekati jendela terkekeh melihat istrinya yang seperti monyet.

"Di rambutmu ada ulat." Ucapnya membuat Axinella langsung mencari ulat yang dimaksud Rodolfo.

Gadis itu bahkan dengan ringan mencubit badan montok ulat hijau dan meletakkan ulat tersebut diatas apel setengah gigitannya. Tindakan tersebut tak luput dari Rodolfo yang sedikit merasa takjub dengan Axinella yang samasekali tidak merasa jijik dengan ulat sebesar jempol tersebut bahkan sekarang gadis itu berdialog dengan ulat hijau montok tersebut.

"Iiii lucuuuu bangeeet sih kamuu enduuutt... Nih makan apel biar tambah endut ya... Rodolf!!! Boleh aku pelihara ulat ? Boleh yaaa..." Pinta Axinella melupakan kejadian kesalnya dan berekspresi seperti anak meminta orang tuanya untuk dibelikan es krim.

Pria itu hanya berdehem dan mengangguk. Meskipun begitu, sudut bibirnya tertarik ke atas melihat ekspresi istrinya yang sialnya menggemaskan.

"Berikan apelmu satu maka aku akan mengijinkannya." Gadis itu menurut dan meraih apel di ranting sebelah dengan tangannya yang mungil. Namun karena fokus memetik apel dan mencoba membidik agar lemparan apelnya dapat ditangkap Rodolfo, apel yang dihinggapi ulat hijau tersebut jatuh ke tanah bersamaan kaki Xavier yang menginjak ulat montok tersebut hingga penyet.

"Huaaaaaa.... Ulatkuuu...." Teriak Axinella langsung merosotkan tubuh dan turun dari pohon ditangkap oleh Xavier.

Gadis itu menggeplak lengan Xavier dan duduk meratapi ulat yang sudah penyet tersebut.

"Ulatku meninggal..." Sendu Axinella membuat Rodolfo tak kuasa menahan tawanya. Pertama kali ia tertawa setelah sekian lama ia hidup ditinggal kedua orang tuanya. Namun tak ada yang menyadari bahwa sosok kejam dan bengis itu tertawa karena semua orang terfokus pada tangisan nyaring Axinella.

Mengapa ia baru menyadari sisi lain Axinella yang menggemaskan ini? Apakah ia mulai beruntung setidaknya perempuan yang ia nikahi adalah sosok perempuan yang ajaib?

"Axinella apa yang terjadi nak?" Xavier sendiri heran dengan tingkah tak biasa Putrinya yang sangat hiperaktif saat ini. Bahkan ketika gadis itu berusia 10 tahun, aura anggun yang menurun dari mendiang istrinya sudah melekat di jiwa putrinya.

"Ayah... Kau menginjak ulatku!"

"Itu hanya ulat."

"Kalau begitu carikan ulat yang sama seperti yang ayah injak." Mau tak mau karena rasa sayangnya Xavier kepada Axinella, ia rela memerintah semua prajurit untuk mencari ulat bulu berwarna hijau montok tersebut hingga gadis itu kembali riang melompat kecil bersama Xavier kembali ke kediaman membawa setoples penuh ulat hijau.

180 Degrees (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang