CERITA INI MURNI HASIL KARANGAN AUTHOR!
DILARANG PLAGIAT DAN HATE COMMENT!
GAK SUKA LANGSUNG SKIPPP AJA!
MENGANDUNG UWU-UWU YANG TIDAK LAZIM⚠️
Hanya kisah klasik pria dingin nan irit bicara menjadi budak cinta dari gadis yang bertingkah seperti pr...
Udah mau ending aja nih peringatan untuk beberapa chapter kedepan akan banyak konflik ygy
WARNING!!!
Dimohon untuk para pembaca tidak naik pitam☺
Sebagai gantinya bisa menyalurkan emosi lewat kolom komentar
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Demi." Lirih Axinella menatap netra kelabu dengan muram.
Klak
Suara pintu mengalihkan perhatian Axinella dan kelima pria. Dengan cepat Axinella mencari tuas di sudut ruangan untuk membuka pintu rahasia. Ia mengetahui ruangan rahasia setelah pindah raga dan memutuskan untuk kabur dari Rodolfo. Namun yang ia temui hanya aula yang luas dengan meja bulat besar ditengah. Kemungkinan tempat tersebut untuk rapat rahasia anggota kerajaan.
"Aku tidak akan melepaskan kalian. Sebagai seorang pemimpin negeri ini, aku perintahkan pada kalian untuk masuk ke tempat itu!" Titah tegas Axinella membuat Aqua dan Taurus berdecak kagum.
Tak ada perlawanan bagi mereka yang dengan patuh menuruni anak tangga menuju bawah tanah. Persediaan makan dan kebutuhan lain sudah tersedia didalamnya. Kemudian tuas tertarik dan menutup bagian lantai. Suara langkah kaki masuk membuat keringat Axinella menetes.
"Ella, kenapa tidak tidur?"
"Aku terbangun karena mimpi buruk dan hendak minum air."
"Hmmm biar aku panggilkan pelayan."
Pria itu memanggil beberapa pelayan kemudian merebahkan diri ke tempat tidur. Keningnya berserut mencium sesuatu yang asing.
"Ella, apakah sebelumnya ada orang yang masuk?"
Axinella menyembunyikan kegugupannya. Bagaimana pria ini begitu sensitif pada sekitarnya? Pantas saja disebut dewa perang sebelumnya.
"Tidak. Kenapa?"
"Aku mencium aroma kayu hutan."
"Ahhh mungkin aroma hutan terbawa angin dan masuk lewat celah-celah jendela."
"Mungkin."
"Istirahatlah. Kau nampak sangat lelah."
"Aku butuh pelukan."
Axinella segera bergabung memeluk tubuh Rodolfo yang kokoh. Namun jantung yang bertalu kencang semakin membuat intuisi pria tersebut menguat.
"Ella."
"Ya?"
"Kau pernah berbohong padaku?"
"Tidak."
Pria itu terdiam menelisik keseriusan dari wajah elok istrinya. Jemarinya menelisik lekukan wajah kemudian mencium dengan penuh perasaan.
"Aku mencintaimu."
"Aku juga."
Rodolfo kembali membuka matanya lebar. Axinella mencintainya? Axinella mencintainya? Ia kembali terbangun dan membuat Ella kebingungan.