11

52.9K 4K 18
                                        

Hello gaiss lama banget gk nongol keknya authornya kena isekai😌biasaaa ngebucin dulu

Rodolfo dengan lembut meletakkan Axinella di kursi kereta dan menatap iris sejernih lautan itu dengan dalam

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Rodolfo dengan lembut meletakkan Axinella di kursi kereta dan menatap iris sejernih lautan itu dengan dalam. Gadis itu hanya diam dengan muka yang masam tertekuk.

"Ada apa dengan wajahmu itu?"

"Nahan boker."

Rengut Axinella mengalihkan pandangannya kearah jendela. Rodolfo hanya mendesah berat dan duduk di samping Axinella. Meletakkan kaki ramping istrinya diatas pangkuannya. Sontak gadis itu menoleh melihat jemari kokoh berurat itu meremas pelan kaki jenjangnya.

"Kakimu cukup parah. Lihat bengkak ini akan membiru nanti. Aku tidak akan mengampuni para perompak itu."

"Apa aku bisa jalan?"

"Minimal sepekan."

"Sepekan?! Aku akan meremukkan mereka." Ucap Axinella geram mengepalkan tangan mungilnya.

"Apa yang ingin kau lakukan?" Tatap Rodolfo dengan intens sedikit membuat Axinella risih.

"Kaki dibalas kaki. Daaan APA KAU TAHU?! RAMBUT INDAHKU HARUS RONTOK HUAAAAA KAU LIHAT? BOTAK TIDAK? HUAAAAA.... " Tunjuk Axinella pada ubun-ubun kepalanya sambil menangis pilu.

Rodolfo diam mengetatkan rahangnya. Ia benar-benar akan membalas semua yang mereka perbuat. Terlebih mereka yang dengan berani melukai Axinella. Sesuatu paling berharga di hidupnya.

"Cup cup tidak... Rambutmu masih indah." Dekap Rodolfo sambil mengelus-elus rambut Axinella.

Gadis itu nampak bergumam sebelum tertidur entah karena rasa hangat dibalik tubuh kekar Rodolfo atau sebab ia kelelahan.

"Tidurlah. Kau sudah lakukan hal yang besar hari ini, istirahatlah istriku." Ucap Rodolfo dengan lembut masuk ke indra pendengaran Axinella.

Rodolfo beranjak membawa Axinella menuju kamarnya. Meletakkan gadis cantik bak putri tidur dengan hati-hati.

"Apa eksekusi sudah siap?" Dingin Rodolfo membuat para ajudannya mengangguk ketakutan.

Aura dingin berselimut kegelapan menambah kesan mencekam. Inilah sosok yang dikenal di seluruh pelosok negeri. Sosok dingin dan beringas yang tanpa ampun mengoyak lawan tanpa ekspresi.

Ditemani obor berpijar redup tak membuat langkah tegasnya melambat. Sekumpulan orang yang tengah meringkuk mendengar langkah kaki dikesunyian seakan memberi tahu bahwa sang pencabut nyawa telah tiba.

"Ampun yang Mulia Kaisar hamba ampun."

"Sayat bibir mereka dan potong lidahnya." Datar Rodolfo membuat semua orang bergidik ketakutan.

"Kalian hanya kuberi pilihan menurut atau berontak. Tapi, sesuai pekerjaan kalian sebagai perompak. Kalian seharusnya memberontak. Namun lancang sekali kalian menampakkan diri di wilayahku. Seberapa besar mental kalian?"

180 Degrees (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang