CERITA INI MURNI HASIL KARANGAN AUTHOR!
DILARANG PLAGIAT DAN HATE COMMENT!
GAK SUKA LANGSUNG SKIPPP AJA!
MENGANDUNG UWU-UWU YANG TIDAK LAZIM⚠️
Hanya kisah klasik pria dingin nan irit bicara menjadi budak cinta dari gadis yang bertingkah seperti pr...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Bukankah hari ini nampak lebih cerah dari hari-hari lainnya?"
"Aku setuju Lex."
"Lihat gadis-gadis yang memandangmu takjub. Sungguh di seluruh Kekaisaran kau adalah pria paling tampan setelah Kaisar Rodolfo. Bagaimana rasanya dikagumi?"
"Biasa saja." Kekeh pria gagah menunggangi kuda dengan stelan Ksatria yang membuat setiap orang tak berkedip memandangnya.
"Kau masih belum bisa melupakan Permaisuri Axinella?"
"Entahlah, aku tak lagi melihat wajahnya setelah malam itu. Lalu kami bertemu lagi, dia nampak semakin mempesona. Jantungku berdebar sangat kencang melihat binar di matanya."
"Huh, seandainya kekuasaanmu lebih tinggi."
"Selama ini aku mematuhi pria bau tanah itu dengan harapan pria itu mampu menggulingkan Duke Rodolfo dan aku dapat menikahi Putri Mahkota Axinella. Namun rupanya pria itu lebih cerdik. Aku tak dapat membiarkan Putri Mahkota kembali lepas. Pria tua bangka itu harus segera ku singkirkan dan aku sendiri yang akan mengalahkan Rodolfo."
"Hahaha aku sangat menyukai semangatmu Alfred. Sejauh ini kekuatanmu sudah besar, kurang sedikit lagi dan kau akan sekuat Kaisar."
Ya. Sejak awal ia sangat mematuhi ayahnya karena ia tak punya kekuatan. Namun sekarang ia tak dapat bersabar lagi. Melihat perempuan yang amat ia cintai di dekap orang lain. Sungguh setelah pesta di Kaisaran Barat itu, emosi yang ia pendam membuncah. Ia harus cepat-cepat merebut Axinella sebelum kabar dari Kekaisaran mengatakan Permaisuri Axinella mengandung penerus Kekaisaran Utara. Sebelum itu, Alfred yang akan menjadi Kaisar menggantikan Rodolfo.
Dilain sisi, rombongan Axinella sudah menaiki kapal untuk menyebrang ke Kaisaran Selatan. Namun kejadian begitu cepat. Para perompak berdatangan dari arah mana saja hingga membuat semua orang yang menaiki kapal panik ketakutan.
"Yang Mulia Permaisuri jangan sampai terluka." Titah salah satu prajurit membuat yang lain segera membuat benteng melindungi Axinella.
Gadis itu hanya diam mematung. Melihat sekelilingnya yang sudah kacau balau. Para perompak tak segan menghabisi nyawa para penumpang kapal yang berasal dari para bangsawan kelas atas. Apa mereka tahu hari ini kapal akan mengangkut bangsawan kelas atas? Karena memang hari ini tepat dimana pelelangan barang antik untuk penggalangan dana diselenggarakan. Sial, perompak itu membuat Axinella kesal.
"Ada apa ini?" Tanya Alfred melintasi pelabuhan.
"Tu-tuan Ksatria bantulah orang-orang di kapal. Mereka sedang dalam bahaya. Para perompak beringas ada disana." Ucap wanita yang berhasil melarikan diri dari kapal.
"Wah, nampaknya kita dapat santapan."
Alfred hanya mengangguk dan menyunggingkan senyuman menawan. Mengayuhkan sebilah pedang yang langsung memantulkan sinar matahari. Semua orang yang melihatnya berdecak kagum. Terlebih dengan gerakan yang gesit ia mampu menerobos kerumunan dan membabat para perompak.
Mata Axinella berbinar melihat sosok berambut perak datang di tengah kerumunan. Ia tak mampu berkedip melihat begitu tangkasnya pedang berayun disertai helaian rambut yang tertiup angin.
"Sial ganteng bangetttt mau nangiess..."
"Anakku... Anakku... " Raung wanita mengalihkan pandangan Axinella sejenak.
Melihat anak kecil yang dijambak kuat hingga menangis menahan sakit. Gigi Axinella gemeratuk dengan raut wajah yang datar.
"Kau!" Tunjuk Axinella pada pria yang nampak tenang bersandar melihat pemandangan perkelahian sengit Alfred dengan para perompak.
"Permaisuri Axinella ada disini?!" Kejutnya tak menyangka.
"Berikan pedangmu." Pria itu mengernyitkan kening keheranan. Namun melihat Axinella dilindungi para prajurit terlatih yang sudah membuat benteng melingkar, merasa cukup melegakan baginya.
"Ada apa dengan pedangku Permaisuri?"
"JANGAN BANYAK TANYA LEMPAR SAJA PEDANGMU PADAKU!" Kesal Axinella diubun-ubun.
Melihat raut garang itu membuat wajahnya sedikit gentar. Segera ia menarik pedang lalu melemparkannya pada gadis itu. Dengan tangkas Axinella menangkap dan mengeluarkan sebilah pedang yang tajam. Membuat ancang-ancang untuk melompat keluar dari benteng yang dibuat para pengawalnya lalu menancapkan pedang tersebut di kaki perompak yang membuatnya geram.
Sontak teriakan menggelegar membuat atensi semua orang tertuju kearah mereka. Axinella dengan cepat menyelamatkan anak tersebut pada ibunya. Namun para perompak menyadari sosok Axinella hingga mereka mendekat kearah gadis tersebut.
"Hohoho... Mau main-main rupanya." Getir Axinella. Pedang itu ditarik perompak dengan bengis menatapnya penuh dendam.
"Apa? Maju sini." Tantang Axinella yang posisinya sudah terkepung.
Mengetahui Sang Permaisuri dalam bahaya membuat semua orang berkeringat dingin. Mereka tak bisa melakukan apa-apa. Hanya Alfred yang berusaha sampai ke titik dimana Axinella berada.
Ketika perompak itu mulai mendekat dan menyentuhnya, dengan cepat gadis itu memelintir tangan lalu membanting tubuh kekar perompak hingga suara kayu kapal berdebum.
Semua mematung melihat aksi Axinella. Gadis itu menampilkan cengiran khas menatap lawannya satu-persatu.
"Ayo maju." Tantangnya kembali membuat para perompak marah dan menyerang.
"Shit! Satu-satu dong mainnya...."
Dengan kesal Axinella menangkis serangan dengan gesit. Tak tinggal diam, Alfred merubuhkan para perompak lain yang ingin menyerang Axinella.
Mereka berdua nampak sangat tangkas melawan para perompak hingga semua orang yang melihat berdecak kagum.
"Wahhh aku tak menyangka sosok Permaisuri Axinella itu sangat pandai dalam bertarung. Pantas saja Alfred sangat tergila-gila. Tak hanya cantik namun gerakannya bertarung sangat mempesona. Ah... Menarik."
"AS* LO ANJ*NG!" Teriak Axinella ketika rambutnya dijambak salah satu perompak. Pasti beberapa helai rambutnya rontok.
Ia tak memberi ampun ketika rasa sakit berdenyut diubun-ubun hingga tak mempedulikan gaun yang ia kenakan memberi ancang-ancang gerakan Muaythai yang paling mematikan.
Dan semua mata tercengang tak percaya ketika kaki jenjang itu dengan sekali ayunan mampu menumbangkan perompak yang keseluruhan wajahnya mengalir darah dengan deras.
Suara rintihan pria tersebut menghentikan perkelahian melihat wajahnya yang merah pekat dan gigi yang terlepas menyadarkan mereka bahwa sedari tadi lawan yang mereka hadapi adalah perempuan dengan tangan kosongnya.
Para prajurit segera menangkap perompak dan mengamankannya. Sedangkan Axinella diam tanpa sepatah kata apapun melihat para perompak digiring.
"Permaisuri baik-baik saja?" Tanya Alfred dengan lembut membuat Axinella menoleh menatapnya.
"Huaaaa kakiku sakit.... Punggungku mau patah..." Rengeknya membuat para prajurit berkeringat dingin.
"Eh... Dimana? Dimana yang sakit?" Panik Alfred penuh kekhawatiran membuat Axinella baper gak ada obat.
"Ini... Gak bisa jalan..." Memang rasanya sakit tidak dibuat-buat. Untuk berjalan saja kakinya terpincang-pincang.
Dipuncak rasa dongkol Axinella mengumpat dalam hati melihat sosok gagah bermata tajam berlari ke arahnya.
Segera pria itu menggendong Axinella ala bridal style tanpa terucap satu katapun. Axinella menengok dibalik punggung kekar Rodolfo dan mengayunkan jemari mungilnya kearah Alfred. Sedangkan pria itu melihat jemari berayun membuat senyum terpatri dibibirnya.