CERITA INI MURNI HASIL KARANGAN AUTHOR!
DILARANG PLAGIAT DAN HATE COMMENT!
GAK SUKA LANGSUNG SKIPPP AJA!
MENGANDUNG UWU-UWU YANG TIDAK LAZIM⚠️
Hanya kisah klasik pria dingin nan irit bicara menjadi budak cinta dari gadis yang bertingkah seperti pr...
Malah jadi cinta persegi panjang 😭😭gue juga bingung ini cerita mau dibawa kemana. Btw kalian Tim mana? Ella-Rodolf❤ apa Ella-Alfred🧡
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Perlahan jiwa kewarasan Axinella kembali pulih. Sejenak menyerngitkan kening mengingat bahkan di cerita novel setelah Axinella meninggal, Retless masih dinyatakan sebagai Baron. Dan mengapa tiba-tiba di sini Alfred mengatakan bahwa sebentar lagi dia diangkat menjadi Baron?
"Tuan Alfred sudah akan dilantik menjadi baron?" Tanya Axinella menghiraukan Rodolfo yang semakin membuat raut wajah pria itu menggelap.
"Benar Permaisuri, ayah saya memutuskan untuk pensiun lebih awal karena beliau bertemu dengan mantan Kaisar Xavier saat tengah berburu. Entah mereka membahas apa hingga saya diperintah langsung untuk mempersiapkan diri menggantikan ayah saya." Ucap Alfred dengan senyum yang tercetak.
"Haduhhh... Jantung gue gak aman..."
Sekuat tenaga Axinella menahan bibirnya untuk tersungging. Ia harus lebih jauh mengenali situasi saat ini. Bisa saja bahaya mengintai nyawanya. Ia tak lupa bahwa dalang dibalik ini semua adalah kubu Baron Retless.
"Jika tidak ada lagi yang dibicarakan, kita pulang." Datar Rodolfo menarik tangan lembut Axinella.
Gadis itu bahkan terdiam selama perjalanan. Hal ini membuatnya mengepalkan tangan kuat. Sejak kapan Axinella berinteraksi dengan Alfred? Apakah hubungan ia meminta cerai karena terpikat pada sosok Ksatria muda?
Tanpa sadar bibirnya mendecih hingga Axinella menoleh heran. Setelah pulang dari pesta, pria itu nampak lebih gelap hingga bulu kuduk Axinella berdiri.
"Ella."
"Emm?"
"Sejak kapan kau bertemu dengan pria itu?"
"Siapa? Ah... Alfred? Baru tadi." Rodolfo menatap lekat mencari kebohongan namun tak sedikitpun terbaca.
Kembali terjadi keheningan diantara keduanya hingga mereka sampai ke kediaman. Karena lelah dengan perjalanan, Axinella hanya terpikir dengan kasur empuk dan langsung terlelap.
Namun tidak dengan Rodolfo yang hanya memandang wajah damai istrinya. Dia tidak dapat menghindar lagi dengan perasaannya. Rasa cemburu yang menggebu menyadarkannya bahwa Axinella adalah miliknya. Gadis itu tak boleh berpaling darinya. Bahkan ia akan rela menghabisi nyawa orang yang berniat mengambil Axinella darinya. Gadis itu harus membalas perasaannya sebagai tanggung jawab telah membuat sosok tak tersentuh itu jatuh sejatuh-jatuhnya.
Seperti pagi biasanya, para pelayan yang sibuk dengan pekerjaan mereka sambil menemani bayi besar yang tak lain Permaisuri mereka.
"Potong bebek angsa, angsa di kuali. Nona minta dansa. Dansa empat kali. Serong ke kiri, serong ke kanan. Lalalalalala.... "
Gadis itu berlarian kecil di taman hingga membuat sosok yang sedari tadi memperhatikannya tersenyum melihat istrinya yang begitu lincah dengan gaun lebarnya menyerong ke kanan dan ke kiri.