5

26.1K 682 77
                                        

20-01-23
26-10-23

Happy Reading<3

•••

Saat ini Kia sedang berada di club tengah kota. Sebenarnya Kia sangat malas untuk kesini, apalagi harus menggunakan pakaian minim seperti ini.

Tapi paksaan dan ancaman dari Gavin sang pacar membuat ia tidak bisa berkutik selain menurut.

"Mau minum?" tawar Gavin memepetkan bibirnya didepan bibir Kia, tidak menempel, tapi Kia bisa merasakan jika itu sangat amat dekat.

Kia dengan senyum canggungnya menggeleng.

Gavin yang sudah meminum banyaknya alkohol jadi merasa kesal dengan sifat sok jual mahal dari ceweknya dan langsung merangkul kuat leher Kia kemudian memaksa meminumkan alkohol kadar tinggi itu ke mulut Kia.

Kia terbatuk-batuk merasa sakit dilehernya dan perih akibat minuman itu.

Mata Kia melotot panas melihat tingkah Gavin yang sangat kasar.

Setelah beberapa menit, Kia mulai tak sadarkan diri, dengan cepat Gavin mengangkat dan membawanya menuju salah satu kamar di club.

•••

Di pagi yang cerah dengan burung berkicau menyambut hari baru. Salah satu anak hawa sedang menangis tertahan didalam kamar mandi sambil berusaha menggosok area lehernya yang terdapat banyak ruam merah.

Kia menangis membekap mulutnya sendiri untuk menahan agar tidak membangunkan Gavin yang tertidur nyenyak dengan selimut yang menggulung dan mungkin tidak menggunakan pakaian apapun.

Masa depan Kia hancur ditangan pacarnya sendiri. Kia menangis membayangkan betapa sedih, marah, dan kecewanya kedua orang tuanya saat tau dirinya seperti ini.

Kia juga mengabaikan sakit pada bagian intim dan berusaha menggosok seluruh tubuhnya menghilangkan bekas walau tak ada gunanya.

"B-bunaa hiks," Kia terus memanggil nama buna nya dengan posisi tubuh berjongkok menempel di dinding.
Ceklek.

"G-Gavin," kaget Kia saat Gavin membuka kasar pintu kamar mandi dan langsung masuk tanpa menggunakan busana apapun.

Kia menangis berusaha melarikan diri dan nyatanya tidak akan bisa karena Gavin sudah membantingnya kembali diatas kasur.

"DIEM!" sentak Gavin mencium brutal bibir dan beralih menuju leher Kia lagi yang sudah berwarna merah keunguan.

"Bagaimana kalau kita menambah kesenangan ini?" tanya Gavin menampilkan smirknya dan menghidupkan kamera pada ponselnya untuk mengabadikan momen tak senonoh itu.

Tapi sebelumnya Gavin juga menelpon seseorang dan memerintahkan cepat menuju kamarnya.

Perasaan Kia sangat tidak enak. Tapi Kia berusaha berpikir positif jika Gavin memanggil seseorang untuk mengantarkan pakaian mereka.

"Waduh," Kia menatap pintu kamar yang terbuka menampilkan dua pria berbadan kekar dengan tato yang hampir memenuhi tubuhnya.

Kia memalingkan pandangannya dan melotot tak percaya saat mendengar seruan dari Gavin.

BafiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang