Lidah Raina terasa kelu setelah mengucap satu nama seseorang di depannya. Otaknya terasa blank, merasa ini semua hanyalah mimpi. Tubuhnya masih terdiam kaku menatap pria di depannya yang sejak tadi juga menatapnya.
Posisi mereka masih berhadapan. Dengan Raina yang duduk di ujung kasur dan pria itu duduk di depannya dengan sebuah kursi yang berada di kamar. Pria itu tak berhenti menatap Raina. Pandangannya terfokuskan kepada gadis itu.
Beberapa saat yang lalu, Raina sempat mengamuk meminta di pulangkan. Ia memberontak, bahkan tak sengaja sempat menampar pria itu. Setelah tenang, pria itu membawa Raina ke kasur hingga saat ini. Pria itu juga sempat memborgol salah satu tangan Raina.
Gadis itu mengamuk setelah sadar jika Zevan lah orang yang membekap mulutnya semalam hingga akhirnya ia berada di sini. Tidak hanya itu, Raina juga mengamuk hingga menangis karena melihat foto dirinya yang terpajang besar di dinding atas dekat ranjang di kamar ini.
Suasana kamar terasa sunyi. Tak ada salah satu dari mereka yang memulai pembicaraan. Mereka terdiam dan sibuk dengan pikirannya masing masing. Napas Raina masih memburu, karena energinya sempat terbuang pada saat ia memberontak.
Raina menoleh kearah jendela yang tertutup rapat dengan tirai. Mungkin saja nanti ia bisa bebas dari kamar ini dengan melewati jendela. Pada saat yang sama, pria itu berdehem. Raina spontan menoleh ke pria itu yang masih menatapnya intens.
"Bicaralah... Kau pasti ingin mengatakan sesuatu."
Raina menunduk menggigit bibirnya, ia merasa bingung untuk menjawabnya. Seolah-olah pertanyaan yang sejak tadi sudah ia rancang termusnahkan begitu saja. Ia pun menjawab pertanyaan pria itu dengan terbata-bata.
"Kenapa kamu bawa aku kesini, Zevan." Suara Raina terdengar lirih. "Aku mau pulang kerumahku." Hal itu membuat pria bernama Zevan mengalihkan pandangannya, seperti tak terima dengan ucapan gadis itu. Ia pun terdiam menunduk.
Raina melihat Zevan yang hanya diam dan menunduk. Pria itu benar-benar tidak menjawab ucapan Raina sepatah kata pun. Raina yang melihat hal itu sungguh bingung. Apa maksud pria itu membawanya kesini?
Dengan tiba-tiba Zevan bangkit dari kursi yang di duduki di samping Raina hingga membuat gadis itu sedikit terkejut. Pria itu membuka sebuah lemari yang berada di sudut kamar dan mengambil sebuah kotak dengan ukuran yang tidak terlalu besar.
Setelahnya, Zevan kembali mendekat melangkah kearah Raina yang masih terdiam saat pria itu menyodorkan sebuah kotak tadi kepadanya. Raina mengernyit bingung dan terpaksa mengambilnya dengan ragu.
Gadis itu mendongak kearah Zevan yang menatapnya seolah olah mengisyaratkannya agar membuka kotak yang berada di tangannya. Raina mulai membuka kotak tersebut dan mengambil isi dari kotak itu yang ternyata berisi beberapa lembar foto.
Raina mulai melihat satu demi satu foto itu yang berisi seorang remaja laki laki dengan remaja perempuan. Raina lumayan terkejut setelah melihat bahwa dari semua foto foto tersebut berisi remaja perempuan yang ternyata dirinya sendiri . Foto foto yang di ambil pada saat itu, ketika Raina duduk di taman kanak kanak dan bangku sekolah dasar.
Sampai pada saat salah satu lembar foto menarik perhatian Raina hingga membuatnya terdiam kaku. Terdapat dirinya sendiri yang mengenakan pakaian sekolah dasar dengan seorang remaja laki laki di sampingnya yang mengenakan seragam menengah pertama.
Tunggu! foto itu mirip seperti foto yang berada di buku diarynya.
Sementara Zevan masih tetap diam berdiri di depan Raina yang terlihat bingung dengan tangan yang menggenggam salah satu foto yang berada di kotak tadi. Gadis itu tiba tiba mendongak kearahnya, meminta jawaban atas kebingungan yang ia ciptakan.
KAMU SEDANG MEMBACA
S E L E C T E D
Детектив / ТриллерTentang obsesi seorang pria misterius terhadap seorang gadis yang menolongnya. ---------------------------------------------------- Raina Karlova, seorang gadis berusia 19 tahun yang terjebak dengan obsesi seorang laki-laki yang ia tolong. Raina san...
