18

9.5K 485 29
                                        

"Huh, ternyata gak kebeli."

Raina menghela napas lesu, dia lupa membeli cemilan popcorn kesukaannya di supermarket dua hari lalu. Padahal hari ini rencananya ia mau membaca buku di depan balkon kamar ditemani oleh semangkuk popcorn karena hari hari kemarin selalu sibuk dengan pekerjaan serta aktivitas kuliahnya.

Raina melihat kearah jam dinding yang menunjukkan pukul 20.50. Raina juga melihat kearah jendela yang memperlihatkan jalanan yang temaram serta sepi tak ada satu pun orang yang lewat. Dengan terpaksa karena sangat kepingin untuk menyemil popcorn, Raina mengambil cardigannya yang lumayan tebal dan membuka pintu kamar serta menuruni tangga.

Dia mengunci pintu rumahnya dan berjalan sendirian tanpa ada seorang pun di daerah komplek tersebut. Dengan menggunakan cardigan serta sendal jepitnya, Raina akhirnya sampai di depan gerbang kompleknya yang ternyata ada seorang satpam sedang berjaga.

Raina mengangguk ramah ketika satpam komplek menyapanya. Raina terus berjalan sampai akhirnya ia sampai di sebuah supermarket yang tidak terlalu besar seperti supermarket yang ia kunjungi tadi siang. Raina mengambil beberapa bungkus popcorn dan membawanya menuju kasir.

Setelah membayar, Raina membawa kantung plastik berisi popcorn dan berjalan pulang. Masih dengan suasana malam yang sangat sepi dan temaram, Raina tetap berjalan dengan santai sambil bernyanyi kecil. Ia menengok sebentar karena merasa ada seseorang yang sepertinya berjalan di belakangnya.

Karena tak ada seorang pun yang berjalan di belakangnya, Raina melanjutkan langkahnya menuju rumahnya seolah tak peduli dengan perasaannya tadi. Tetapi sebelum sampai di depan komplek rumahnya, Raina merasakan mulutnya di bekap oleh seseorang di belakang. Ia juga merasakan matanya yang akan terpejam serta kantung berisi popcorn nya yang terjatuh.

Grep

Tubuhnya di tahan agar tak jatuh. Seorang pria berpakaian serba hitam membopong gadis itu masuk kedalam mobil yang terparkir tak jauh dari daerah komplek. Dia menaruh Raina di samping kursi kemudi dengan memasangkan sabuk pengaman untuk gadis itu.

Sebuah mobil hitam membelah jalan malam. Bermenit menit berlalu akhirnya mobil itu sampai di sebuah mansion besar. Gerbang mewah mansion itu terbuka otomatis dan mobil itu di lajukan menuju garasi.

Para pengawal berseragam hitam di mansion itu kompak menunduk ketika seorang tuan mereka berjalan dengan membopong seorang gadis. Beberapa pengawal setia mengikuti tuannya dari belakang. Kini mereka sudah sampai di depan sebuah kamar. Pria itu membuka pintu secara otomatis hingga terbukalah ruangan tersebut.

Ruangan yang sangat mewah dengan berbagai hiasan bunga di dinding. Gadis itu di letakkan diatas ranjang mewah nan empuk di dalam kamar itu. Tak lupa pria itu menyelimuti tubuh gadis yang terlelap di ranjang dan mengecup kening gadis cantik itu.

Dia memperhatikan sekeliling kamar salah satu mansionnya yang memiliki hiasan bunga di dinding. Pria itu tersenyum membayangkan ekspresi terkejut gadis itu jika sudah terbangun. Akhirnya rencana yang sudah ia susun jauh dari hari hari lalu telah berhasil. Pria itu pun keluar dari dalam kamar meninggalkan gadis itu seorang diri.

Pengawal yang berjaga di depan kamar terkejut melihat tuannya keluar dan langsung menunduk serentak. Pria itu mengamati beberapa pengawal yang berjaga dan berucap, "Awasi dia. Jangan menjawab jika mendengar dia memanggil meminta tolong dan jangan sampai dia keluar dari kamar."

Mereka semua serempak menjawab, "Baik, Tuan." Pria itu melenggang pergi dengan seluruh pengawal yang menghembuskan napas lega karena tidak berhadapan lagi dengan tatapan serta aura tuannya yang mengintimidasi.

Pria itu berjalan menuju ruang kerja yang berada di mansionnya. Dia melanjuti beberapa pekerjaannya yang sempat tertunda tadi karena membawa gadis itu ke mansion. Ia sudah merencanakan hal ini tempo hari, dan kemarin ia memutuskan rencananya di hari ini untuk membawa gadis itu.

Menit hingga menit, jam hingga jam telah berlalu, seorang gadis membuka matanya perlahan lahan. Ia memejamkan matanya sebentar karena merasakan cahaya yang nampak silau di kamarnya. Hingga seluruh matanya terbuka, ia melihat kearah selimut yang terasa asing melekat di tubuhnya.

Raina menyadari jika kamar ini ternyata bukan kamarnya. Ia melihat sekeliling kamar ini yang terasa asing baginya. Ia juga melihat kearah jam yang menunjukkan pukul 3 malam. Gadis itu bergegas bangun dari ranjang yang ia tempati dan berjalan mendekati pintu.

Sungguh ia sangat takut!

Seingatnya, ia berjalan pulang sehabis ke supermarket dan tiba tiba mulutnya di bekap oleh seseorang hingga ia tak sadar dan berakhir berada di kamar ini.

Raina mencoba membuka pintu itu tetapi pintu ternyata di kunci. Dengan raut wajah yang panik serta takut, dia menggedor pintu kamar serta berteriak dengan harapan ada seseorang yang mau membukakan pintunya.

"SIAPAPUN DI LUAR,
TOLONG BUKA PINTUNYA"

Ia terus menggedor pintu tetapi tidak ada respon dari luar. Raina memundurkan langkahnya dan terduduk di lantai, ia mengusap dahinya yang berkeringat serta napasnya yang tidak beraturan. Terlihat sangat jelas dari raut wajahnya yang takut, serta surainya yang terlihat acak acakan.

Gadis itu menggeleng pelan, berharap hal ini hanya sebuah mimpi. Sungguh, ia tak tau dimana dirinya berada sekarang. Ia kembali bangun dan melangkah kembali ke depan pintu kamar. "TOLONG BUKA PINTUNYA."

Karena rasa takut dan cemas mendominasi dirinya, air mata Raina luruh dengan isakan kecil. Raina sukses menangis. Dia terus menggedor pintu dengan berteriak terus menerus. Tetapi seolah tuli, tidak ada yang menjawab atau meresponnya sama sekali.

•~•~•~•~

"Maaf, Tuan. Sepertinya dia terbangun." seorang pengawal yang berjaga di depan pintu kamar gadis tadi melapor jika gadis itu sudah terbangun karena beberapa pengawal juga merasa ada suara teriakan dan gedoran pintu dari kamar yang mereka jaga.

Pria itu mengangguk dan menaruh kopi yang selalu menemaninya bekerja hingga malam. Dia bangun dan beranjak menuju tempat yang ia tuju dan pengawal tadi juga mengekori dari belakang.

Sambil berjalan, pria itu juga memikirkan kata kata yang akan ia ucapkan kepada gadis itu nanti. Rasanya sungguh tak sabar melihat raut wajah yang di tampilkan gadis itu melihat dirinya apalagi setelah ia memperkenalkan dirinya yang sebenarnya. Terkejut? Sudah pasti.

Dia menekan beberapa angka dan pintu itu terbuka secara otomatis. Pria itu mengedarkan pandangannya hingga menangkap sosok gadis yang meringkuk di pojok kamar. Pria itu pun menghampiri gadis itu yang ternyata juga menangis.

Sementara gadis itu terkejut mendapati seseorang berdiri di depannya. Ia masih menundukkan pandangannya, tak mau melihat wajah orang yang sudah menculiknya.

Pria itu masih tetap menunggu gadis yang ia bawa paksa ke mansionnya yang masih terus menunduk. Dia ikut berjongkok menyetarakan tubuhnya dengan tubuh gadis itu. Dengan perlahan, pria itu mengusap pucuk kepala gadis itu. Sementara gadis di depannya merasa terkejut dan langsung menepis tangan yang mengusap kepalanya.

"Hey, Tenanglah"

Gadis itu mematung mendengar suara seorang pria di depannya. Suara dan aroma parfum yang menyeruak di hidungnya juga seperti tak asing. Kini pria itu juga mengusap punggungnya seolah menenangkannya. Ia tersentak kecil karena pria itu mengusap pipi kirinya yang basah terkena air mata.

Perlahan gadis itu mendongak, mencoba melihat wajah pria yang ia yakini adalah orang yang menculiknya. Sampai akhirnya, wajah pria di depannya terlihat dengan sempurna. Jantungnya berdegup kencang dengan rasa takut yang semakin membuncah.

"Zevan...."


Tbc

Janlup Vote & Comment🙏👽

Maapkan part kali ini yang sepertinya lebih pendek wkwkw

Siap2 di chap 19 yh...🤐😌










S E L E C T E DTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang