'Plakkk'
"Ya appa! Kenapa memukul kepalaku?" keluh Lisa, karena Dong-wook tiba-tiba memukul kepalanya tanpa sebab.
"Itu hukumanmu karena menyepelekan sakitmu, bodoh!" omel Dong-wook.
Keduanya baru saja keluar dari ruang pemeriksaan.
"Appa mengataiku bodoh?" kata Lisa tidak terima.
"Ya! Kau memang bodoh! Jika kau terlambat mengatakannya, kau bisa mati dan membuat anakku menjadi janda!"
Lisa membulatkan matanya, "Janda darimana? Aku dan Jennie belum menikah, appa"
"Besok akan kunikahkan kalian. Beres kan?" ujar Dong-wook santai.
"Yak! Kami masih bersekolah"
"Kalau begitu Minggu. Kalian kan libur"
Lisa hanya bisa menggelengkan kepalanya. Calon ayah mertuanya ini memang kadang agak-agak.
"Apa Jennie mengetahui soal ini?" tanya Dong-wook tiba-tiba.
Lisa mengangguk, "Dia yang menyuruhku untuk menemui appa saat tidak sengaja melihat memar di pinggangku"
"Apa yang kalian lakukan sampai Jennie bisa melihat pinggangmu?" Dong-wook memicingkan matanya.
"A-ani, ha-hanya-" Lisa mendadak gelagapan.
"Haish...kenapa harus bereaksi seperti itu? Aku juga pernah muda. Aku tau apa yang kalian lakukan" Dong-wook menaik-turunkan kedua alisnya, menggoda Lisa.
"Jadi, apa ada perubahan rencana untuk memberiku seorang cucu sekarang, Manoban?" Dong-wook tersenyum penuh arti.
"Yak! Apa yang appa bicarakan? Haish...sudahlah, aku ingin pulang. Sudah saatnya menjemput Jennie"
Jennie memang tidak ikut bersama Lisa untuk memeriksakan lukanya, sebab gadis itu harus melakukan rapat OSIS karena festival musim gugur akan dilakukan dalam hitungan hari.
"Jangan lupakan obatmu!" Dong-wook memperingati.
"Nee appa. Kalau begitu aku pergi dulu"
Setelah berpamitan dengan Kim Dong-wook, Lisa segera melangkah menuju parkiran rumah sakit dan bergegas menjemput Jennie di sekolah.
Perjalanan memakan waktu sekitar 30 menit dan Lisa berhasil tiba di parkiran sekolah. Ia memarkirkan Buggati miliknya, kemudian melangkah menuju ruang OSIS karena sepertinya Jennie belum keluar dari sana.
Saat di koridor, Lisa bertemu dengan Seulgi dan Jisoo. Sepertinya mereka juga menunggu Irene dan Rosè yang sedang rapat. Keduanya terlihat tengah asyik memainkan ponsel masing-masing, sepertinya sedang bermain game.
'Pukk'
Lisa menepuk pundak Seulgi.
"Oh, kau monkey rupanya. Rapat belum selesai, jadi duduklah dulu" Seulgi menatap Lisa sebentar, sebelum akhirnya kembali fokus dengan ponselnya.
Lisa hanya diam, kemudian duduk di sebelah Seulgi. Tidak tertarik untuk ikut ke dalam permainan mereka. Lisa memilih untuk menyandarkan tubuhnya pada tembok dan mulai memejamkan mata. Ia mengantuk.
Baru sebentar Lisa memejamkan mata, ia merasakan sesuatu yang hangat menyentuh pipinya. Lisa membuka matanya dan langsung bertemu dengan senyuman indah dari sang kekasih. Secara otomatis, Lisa pun ikut tersenyum.
"Kau mengantuk, hon?" Jennie mengusap pipi Lisa dengan lembut.
"Ani~ Kau sudah selesai rapat?" Lisa meraih tangan Jennie yang ada di pipinya, kemudian menciumnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
When Perfect Meet Trouble Maker [END]
Fanfiction"Arrgghhh...bisakah sehari saja kau berhenti mencari masalah?! Aku lelah, Lisa!" teriak Jennie frustasi. "Aku akan. Asal kau menjadi milikku!" tatapan Lisa menembus ke dalam mata Jennie. G!P 18+ 🔞🔞🔞
![When Perfect Meet Trouble Maker [END]](https://img.wattpad.com/cover/333048645-64-k878283.jpg)