Pagi menjelang. Entah apa sebabnya, namun kini, para inti Alaska terlihat sudah berada di depan apartemen Somi dengan kekasih mereka masing-masing yang berada di dalam mobil. Tidak tahu apa yang mereka lakukan, karena mereka hanya berdiri tanpa berniat naik ke atas seperti biasanya.
Tak berselang lama, suara dari motor besar terdengar, membuat mereka semua sontak menoleh. Lisa reflek melepaskan kacamata hitam yang ia kenakan untuk melihat lebih jelas siapa orang yang baru saja datang. Dari jaket serta motornya, Lisa dan inti Alaska yang lain seperti merasa tidak asing dengan sosok tersebut.
"Haruto?" gumam Jisoo saat orang itu membuka helm-nya.
"Apa yang dia lakukan di sini sepagi ini?" tanya Wendy entah kepada siapa.
Padahal mereka sendiri juga tidak memiliki tujuan jelas mengapa mereka berdiri seperti tukang teror yang sedang mengawasi korbannya di sini.
Haruto sepertinya tidak menyadari kehadiran para pemimpinnya. Terbukti, dia dengan santainya melangkah menuju lobby apartemen tanpa menyapa mereka berlima.
"Mwo? Apa kita sudah berubah menjadi angin? Dia bahkan tidak menyadari keberadaan kita" sewot Wendy.
"Ssstt...diamlah!" perintah Ryujin.
Tanpa diminta, mereka berlima secara kompak terus memperhatikan gerak-gerik Haruto yang sudah menghilang dari balik pintu lobby. Mereka cukup penasaran mengapa Haruto bisa ada di sini pagi-pagi.
"Omo!"
Mereka terlonjak kaget saat melihat siapa yang keluar bersama Haruto dari lobby apartemen. Keduanya bahkan bergandengan seolah tanpa beban.
"Somi?" beo kelimanya secara kompak.
Mereka tidak salah lihatkan? Somi bersama dengan Haruto? Apa mereka berkencan? Tapi kenapa tidak satu pun dari mereka yang tahu? Apa ini sebenarnya?
Tanpa pikir panjang, kelimanya langsung menghampiri Somi dan Haruto yang hendak menuju motor.
"O-oppa?"
"Sunbae?"
Keduanya tampak shock melihat kehadiran para inti Alaska yang tiba-tiba.
"Cepat jelaskan pada kami, apa yang terjadi dengan kalian!" tegas Seulgi, melirik ke arah genggaman tangan keduanya.
Haruto dan Somi mengikuti arah pandangan Seulgi dan langsung melepaskan tautan mereka berdua setelah tahu apa yang Seulgi maksud.
"Ka-kami-"
"Bukan kau yang menjawab, Somi-yaa. Tapi dia!" Lisa menunjuk Haruto tepat di wajahnya.
"A-a...ka-kami-"
"Ya! Apa kau baru saja belajar berbicara? Katakan dengan benar!" teriak Wendy tidak sabar.
Ryujin langsung membekap mulut Wendy sebelum terjadi keributan dan membuat mereka menjadi pusat perhatian karena teriakan Wendy.
"Kami...kami-"
"Kami berpacaran, oppa!" potong Somi dengan cepat.
"Sudah kukatakan. Aku ingin mendengarkan dari mulutnya sendiri" Lisa menolak penjelasan dari Somi dan menatap Haruto dengan tajam.
"Bersikaplah jantan! Apa kau bahkan akan mengompol di celana hanya karena berbicara dengan kami?" kata Ryujin santai, namun berhasil membuat kedua kaki Haruto lemas.
"Yak oppa! Hentikan! Jangan terus memojokkan kekasihku!" protes Somi.
"Tidak, sampai dia mengatakannya pada kami" tegas Lisa.
KAMU SEDANG MEMBACA
When Perfect Meet Trouble Maker [END]
Fanfiction"Arrgghhh...bisakah sehari saja kau berhenti mencari masalah?! Aku lelah, Lisa!" teriak Jennie frustasi. "Aku akan. Asal kau menjadi milikku!" tatapan Lisa menembus ke dalam mata Jennie. G!P 18+ 🔞🔞🔞
![When Perfect Meet Trouble Maker [END]](https://img.wattpad.com/cover/333048645-64-k878283.jpg)