09

17.2K 1.1K 50
                                        

Hari terus berganti. Tidak ada yang berubah pada kedekatan anggota geng Lisa dengan Jennie. Bahkan, Jennie dan Lisa terlihat semakin dekat apalagi sejak kejadian di apartemen kala itu. Begitu juga dengan Joy, Wendy, Yeji dan Ryujin.

Hal ini tentu mengundang keheranan dari banyak pihak. Sebuah geng pembuat onar, menjadi dekat dengan geng ketua OSIS. Hal ini benar-benar di luar nalar. Apalagi mereka berbeda jurusan dengan gedung yang terletak berbeda. Namun mereka tidak peduli dengan apa kata orang, selama mereka merasa nyaman berdekatan satu sama lain, kenapa tidak?

Seperti biasa, setiap jam istirahat mereka akan berkumpul bersama di kantin. Sesekali juga di atas rooftop jika cuaca sedang tidak terlalu panas dan sedang ingin menghindari keramaian.

"Hai, Jen"

Ketenangan mereka harus terusik oleh kedatangan seseorang yang tidak diundang. Laki-laki tampan berbadan tegap, siapa lagi jika bukan Kai? Mereka semua tampak malas melihat kehadiran Kai di sana, begitu juga dengan Jennie yang menatap tidak suka padanya. Tapi sepertinya Kai tidak menyadari hal itu, karena ia masih saja menampilkan senyuman terbaiknya di depan Jennie.

"Besok lusa tim basket kita akan ada pertandingan persahabatan. Apakah kau berniat datang dan menontonnya, Jen? Aku secara khusus mengundangmu ke sana" tawar Kai.

"Ah maaf, Kai. Bukan bermaksud tidak menghargai undanganmu. Tapi sejujurnya, aku tidak terlalu menyukai basket" Jennie berusaha mencari alasan untuk menolak ajakan Kai.

"Begitu? Jika kau tidak tertarik pada basket, setidaknya datanglah untukku. Juga tim basket kita, sebagai ketua OSIS, kau juga perlu menyaksikan pertandingan tim sekolahmu bukan?" Kai masih berusaha membujuk Jennie.

"Terlalu percaya diri" gumam Lisa pelan saat mendengar Kai meminta Jennie datang untuk dirinya.

Suara Lisa sangat pelan, nyaris berbisik. Namun masih dapat didengar oleh Jennie yang berada di sebelahnya. Diam-diam Jennie meletakkan tangannya di paha Lisa dan mengelusnya perlahan bermaksud menenangkan. Karena Jennie tahu, saat ini Lisa sedang kebakaran jenggot karena aksi Kai.

"Akan kupikirkan Kai, tapi aku tidak janji" jawab Jennie pada akhirnya.

"Baiklah, aku sangat mengharapkan kedatanganmu. Sampai jumpa, Jen" Kai tersenyum sangat manis sebelum akhirnya pergi meninggalkan meja Jennie dkk.

Elusan di paha Lisa masih belum berhenti. Entah Jennie lupa atau terlalu nyaman mengelus paha Lisa yang tertutupi celana sehingga ia masih melakukannya padahal Kai sudah pergi dan Lisa tidak sepanas tadi. Ah tidak, Lisa tetap merasakan panas, tapi bukan karena cemburu kepada Kai. Namun karena ada sesuatu lain yang bangkit di dalam dirinya karena elusan Jennie.

"Jen~" lirih Lisa pelan sembari meremas tangan Jennie yang berada di pahanya bermaksud menghentikan aktivitas Jennie.

"Mwo?" Jennie masih belum menyadari apa yang terjadi pada Lisa.

"Kau sakit, Li? Kenapa wajahmu merah?" Jennie menyentuh kening Lisa untuk memastikan apakah gadis itu demam atau tidak.

Lisa hanya menggeleng sembari menggigit bibir bawahnya untuk menahan hormon yang bergejolak dalam dirinya.

"Apa yang terjadi?" sambar Irene tiba-tiba.

"Sepertinya Lisa sakit, wajahnya memerah. Aku takut dia demam" jawab Jennie.

Semua yang ada di meja tersebut langsung kompak menatap ke arah Lisa.

"A-aku baik-baik saja. Berhenti menatapku" Lisa justru salah tingkah saat semua orang menatapnya.

"Wajahmu sangat merah, Li. Tubuhmu terasa sakit?" Rosè menatapnya khawatir.

Begitu juga dengan Jennie, Joy, Yeji dan Irene. Sedangkan keempat inti Alaska yang lain justru tampak menahan tawanya, entah apa pemicunya.

When Perfect Meet Trouble Maker [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang