31

9.4K 736 17
                                        

Suara telfon menggema di sebuah ruangan yang masih tampak gelap. Hanya ada lampu tidur yang menyala serta dua orang yang tidur di dalam ranjang yang sama, namun terlihat memisahkan diri. Tidak seperti biasa, yang selalu dalam keadaan memeluk satu sama lain.

Sebuah tangan panjang muncul dari balik selimut dan berusaha untuk meraih ponselnya yang ada di atas nakas. Tanpa peduli siapa yang menelfon, dia langsung mengangkatnya begitu saja. Sebenarnya ini masih terlalu pagi untuk berkomunikasi, mengingat ini juga hari Sabtu. Dia libur dan seharusnya bisa bangun lebih siang. Tapi telfon sialan itu mengganggunya.

"Yeoboseyo?"

"..."

"Nugu?"

Dia bahkan tidak bisa mengenali lawan bicaranya hanya melalui suara. Matanya masih sangat berat, untuk terbuka saja sulit.

"Oh kau, Wen. Ada apa?" katanya dengan suara parau.

"..."

"Omo! Jinjja?!" matanya langsung sepenuhnya terbuka, bahkan terbangun dari posisinya, membuat seseorang yang berada di sebelahnya sedikit terusik karena guncangan tersebut.

"..."

"Nee nee, aku akan segera ke sana. Baik lah baik lah, tunggu aku. Aku akan bersiap"

Setelah telfon terputus, tanpa basa-basi ia segera melompat dari tempat tidur dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Nyawanya seketika berkumpul setelah ia mendapatkan informasi penting dari Wendy.

"Ini bahkan masih pukul 6, kenapa dia sangat terburu-buru?"

Seorang gadis bermata kucing terbangun akibat kerusuhan kecil yang diciptakan oleh kekasihnya. Tak ingin terlalu ambil pusing, ia pun memilih untuk kembali memejamkan matanya.

Sekitar 20 menit, seseorang sudah keluar dari kamar mandi dan segera memakai pakaiannya. Ia mengikat setengah rambutnya, kemudian menyemprotkan parfum dan meraih ponsel, dompet serta kunci mobilnya di atas meja. Di rasa semuanya siap, ia menghampiri kekasihnya yang sedang terlelap.

"Baby J?" ia mengguncang tubuh kekasihnya pelan.

"Hmm..." Jennie hanya berdehem.

"Ada hal darurat yang harus kuurus, aku pergi nee? Maaf tidak sempat menyiapkan apa-apa. Jika nanti kau terbangun, langsung pergi sarapan oke? Maaf aku harus pergi dan meninggalkanmu" Lisa mencium kening Jennie.

"Saranghae" kata Lisa sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan kamar Jennie.

***

"WEN! BISAKAH KAU TENANG?" bentak Seulgi.

Dirinya tidak bisa berkonsentrasi menyetir, sebab sejak tadi Wendy terus bergerak gelisah di dalam mobilnya.

"Bagaimana aku bisa tenang? Lihat! Darahnya sangat banyak. Aku hanya takut terjadi sesuatu yang buruk pada Somi" Wendy masih memperlihatkan kepanikannya.

"Aku mengerti. Tapi dengan kau bersikap seperti ini juga tidak ada gunanya! Kita sedang menuju rumah sakit. Sebaiknya kau tenang, sebelum aku menabrakkan mobil ini dan kita bertiga akan mati karena kau terus seperti" tegas Seulgi, membuat Wendy akhirnya terdiam.

Hari ini adalah giliran Wendy untuk mengecek keadaan Somi. Ia tidak bersama Joy, sebab gadis itu sedang berada di rumah orang tuanya yang berada di Jeju. Ia datang seorang diri ke apartemen Somi. Awalnya, tidak ada yang membukakan pintunya saat Wendy terus mencoba menekan bel apartemen. Karena panik, takut kejadian kemarin terulang, akhirnya ia menghubungi Joy untuk meminta password apartemen Somi. Ya, hanya para gadis yang mengetahuinya.

When Perfect Meet Trouble Maker [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang