13

15.5K 958 27
                                        

"Awhh! K-kak Cyella ah hati-hati dong ah jalannya!." Lala memegang pundaknya yang terasa sakit. Cyella diam dengan alis terangkat satu.

Bisik-bisik pun tak dapat dihindarkan beberapa siswa/i beranggapan bahwa sesi bully akan terjadi. Dimana sang gadis polos nan lugu itu akan mendapatkan siksaan dari antagonist kejam dan tak berperasaan yang selalu menindas protagonist wanita.

"Siapa?." Cyella memandang datar gadis di depannya. Lala tersentak.

'Apa-apaan masa ah dia gak kenal aku ah sih?!.' batin Lala.

"Dek! Ada es krim dinosaurus kita beli yuk!." dengan tiba-tiba Savero menarik tangan Cyella menjauh dari tempat itu. Savero sengaja menarik tangan Cyella karena ia tak mau adiknya itu mendapat gunjingan dari banyak orang apalagi tempat itu berada dikantin.

Dan, takutnya malah adiknya membully habis-habisan Lala yang dikenal polos oleh semua orang itu akibat emosi yang tak terkontrol.

Lala meremat jari-jemarinya sembari memandangi kepergian keduanya. Tautan pegangan mereka saja begitu erat tidak hanya Savero saja yang memegang tangan Cyella erat.

"Lepas."

"Lepas, biawak ngesot." tautan tangan itu terlepas dengan perlahan. Savero memandang sendu tangannya sendiri.

"Bo-boleh gak gue meluk lo?." Savero menatap dalam dan penuh harap pada mata Cyella yang memandangnya tanpa ekspresi. Rasanya sakit sekali.

"Atas dasar apa?." tanya Cyella.

"Gu-gue kangen." tanpa persetujuan dari Cyella, Savero langsung saja memeluk Cyella dengan erat bahkan air matanya saja langsung turun.

Dasar Savero cengeng!.

Hangat. Kenapa tidak dari dulu dia memeluk adiknya kalau pelukan adiknya sehangat ini?. Mengapa juga ia harus bersikap cuek kepada adiknya malahan yang dia lakukan ketika minggu hanya tidur, tidur, dan tidur saja bukannya menemani adiknya bermain.

"Udah 'kan?." saat Cyella mencoba melepaskan pelukan namun Savero malah mengeratkan pelukannya sembari menggelengkan kepala. Savero sudah terlalu nyaman!.

"Biarin kaya gini. Gue udah nyaman." ucapnya dengan suara berat.

Namun tanpa mereka sadari sosok dibelakang Cyella yang menatapnya dalam melihat dengan jelas interaksi keduanya. Membuat sosok itu mengepalkan tangannya kuat.

"Kapan gue kaya gitu?."

Dia, Malverick.

______

"Putri papa yang cantik! Tara siapa yang papa bawa?!." riangnya dengan senyum lebar yang tak pernah luntur. Terkhusus untuk putri cantiknya ia akan lebih sering tersenyum, semangat.

"Cetakan Tuan Daylen?." ucap Cyella sembari memakan cemilan ringan yang tersedia diruang tamu sembari menonton tv tanpa melihat ke papa yang wajahnya sudah berseri-seri.

"Yup! Dia bakalan nginep disini temenin Cyella. Soalnya papa mau keluar negeri buat urusan bisnis sama klien." jelas papa sembari duduk di depan putrinya dengan tampang sedih karna ia harus meninggalkan putri cantiknya ini. Pasti disana ia bakalan rindu banget.

Sedangkan Zeno sendiri cowok itu sudah nempel ke Cyella. Memang, mantan Cyella yang satu ini sangat manja, posesif dan gak mau pergi jauh dari Cyellanya.

"Bisa apa emangnya?."

"Ekhm Zeno bisa masak, bisa nyuci piring, nyuci baju, dan menghangatkan Cyella." ucap Zeno yang mendapat tatapan tak enak dari papa. Apalagi, tangan papa yang siap membogem wajah tak berdosa milik Zeno yang amat sangat polos, kebalikannya.

"Zeno, jaga putri saya baik-baik yah jangan sampai lecet ataupun koid. Turuti semua keinginan putriku tanpa terkecuali, jangan buat putriku menangis, jangan buat putriku marah. Kalau ada apa-apa hubungi saya." ucap papa dengan raut wajah serius yang mengarah ke Zeno.

"Tanpa om suruh Zeno bakalan selalu menjaga Cyella, menyayangi Cyella, mencintai Cyella. Always Cyella." ucap Zeno memandang lembut Cyella yang bodo amat dengan kedua cetakan berbeda umur tersebut.

Papa menatap keduanya lalu menghela nafas pelan kemudian bangkit dari duduknya dan mendekati Cyella yang serius menonton tv. Cyella mendengus pelan karena nonton tvnya terhalangi oleh tubuh kadal gurun di depannya.

Dengan terpaksa ia mendongak, menatap papanya tengah mengangkat tangan dan mengusap-usap rambutnya lembut dan kasih sayang.

"Jaga diri baik-baik yah, jangan lupa makan. Mungkin papa disana bakal satu minggu. Putri cantiknya papa jangan kangen sama papa, karna kangen itu berat." setelah mengucapkan itu papa mengecup kedua pipi putrinya dan mengecup kening putrinya lama.

"Yaudah, papa berangkat dulu ya." setelah mengatakan itu papa langsung saja pergi bersama asistennya yang sudah menunggu sedari tadi.

Cyella menatap kepergian papanya itu.

"Cyella." panggil Zeno membuat Cyella yang ada disampingnya langsung mengeluarkan pisau lipatnya dan meletakkan ditengah-tengah keduanya.

"Social distancing." ucap Cyella tak mau dekat-dekat dengan Zeno karena ia risih. Risih ditempelin mulu sama cetakannya Tuan Daylen.

Zeno yang melihat itu terkekeh.

"Cyella gak pernah berubah ya dari dulu." ucapan Zeno mampu membuat Cyella menoleh dengan cepat.

"Maksud?."

Apa maksudnya? Apa Zeno pikir Cyella yang dulu juga psychopath sama sepertinya? Ah bagaimana mungkin. Apalagi mengingatkan Cyella yang dulu itu sudah ber-make up menor dan mengejar-ngejar cinta dari seorang Malverick, tunangan sahnya.

Cyella mengenggam erat pisau lipatnya itu, ingin sekali menusuk bola mata Zeno yang berseri-seri membuatnya tak tahan ingin segera mencongkelnya sekarang juga.

"Apa maksud lu?." Cyella mengangkat pisau lipatnya dengan cepat mengarahkannya pada bola mata Zeno namun sebuah suara menghentikannya.

"Cyella." deep voice itu menyapanya. Tangan Cyella perlahan turun namun sebelum itu ia sempat menyayat pipi Zeno dalam.

"Sshh ngapain lo disini?." ujar Zeno seraya meringis.

"Mau jagain Cyella 'kan gue tunangannya. Sedangkan lo siapanya?." sinis Malverick.

"Gue mantannya, mau apa lo?."

"Diem." datar Cyella.

______

By:NVL.EL

Transmigrasi Psychopath Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang