35

2.6K 232 21
                                        

Keringat dingin bercucuran, tangan dan kakinya gemetaran, wajahnya pucat pasih, ketakutan terlihat jelas di wajahnya. Luke terbangun dari mimpi buruknya atau dapat dikatakan dari pingsannya. Ekspresinya sulit diartikan saat ini. Dia melihat ke arah kanan dan kirinya. Ruangannya tidak terlalu terang. Luke mengangkat kedua tangannya dan melihat tangan kirinya yang terpasang selang infus. Dia menghela napas.

"Rumah sakit lagi?" gumamnya pelan, lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Ia sudah tidak tahan lagi dengan semua ini. Kondisinya yang menurun, waktunya bersama Summer terganggu karena penyakit sialannya ini. Rasanya ia ingin berteriak sekeras-kerasnya sampai bebannya hilang.

"Aku tidak tahan lagi." gumam Luke lagi, kali ini dengan sedikit isak tangisan. "aku benci hidupku, aku ingin semuanya berakhir, penderitaan ini. Cukup sudah aku dikatai lemah, cukup sudah aku dikasihani, cukup sudah semuanya." isaknya yang tanpa ia sadari membangunkan seseorang yang ada diruangan bersama dengannya.

"Lukey..." ucap suara itu lembut membuat Luke berhenti menangis dan melihat ke arah kanannya. Terlihat sosok gadis cantik tengah mengusap kedua matanya pelan. Lalu mendekati Luke.

"S-summer?" panggil Luke dengan suara paraunya. Yang dipanggil namanya tersenyum kecil dan duduk di kursi yang sudah disediakan dekat dengan ranjang yang Luke tiduri.

"Kau kenapa?" tanya Summer pelan sambil menggenggam tangan kanan Luke erat. Luke hanya menggeleng dan tersenyum kecil. Summer menghela napas dan segera mengusap pipi Luke yang ternodai oleh air matanya sendiri. Luke hanya terdiam melihat gadis di depannya ini yang selalu ada untuknya disaat suka maupun duka.

"Kenapa kau mau denganku?" tanya Luke pelan. Summer tersenyum mendengar pertanyaan Luke.

"Karena aku sayang kau, aku ingin selalu bersamamu, aku tidak peduli kalau berpenyakit atau apapun. Asalkan kau selalu ada disisiku itu sudah cukup. Kau itu istimewa Luke, sangat istimewa. Kau sangat memperlakukan wanita dengan baik. Kau itu idaman semua wanita dan aku beruntung aku memilikimu, bukan gadis lain."

Luke terdiam mendengar ucapan Summer. Apa yang dikatakannya sangat membuat Luke tidak bisa berkomentar. Summer tersenyum manis dan memeluk Luke erat.

"Aku percaya kau pasti dapat melewati semua ini. Kau tidak sendirian Lukey." ucap Summer pelan. Luke tersenyum dan membalas pelukan Summer. Sejujurnya dia sangat bersyukur memiliki orang yang selalu ada untuknya seperti Summer. Ia juga bersyukur bahwa tuhan telah mempertemukan mereka kembali setelah sekian lama berpisah.

"Aku beruntung memilikimu Summer."

"Aku juga, you're my everything Mr.Hemmings."

Luke tertawa kecil dan mengusap pipi gadis kesayangannya itu. Tuhan sayang padanya, tuhan memberikan cobaan ini agar Luke bisa semakin kuat.

"Sekarang, kau harus kembali beristirahat. Ini masih jam 2 malam." ucap Summer mengusap rambut Luke lembut.

"Kau juga disini kan?" tanya Luke.

"Tentu saja." jawab Summer tersenyum manis.

"Maksudku satu kasur denganku." ucap Luke yang kini sudah memberikan ruang diatas ranjangnya untuk ditempati Summer. Summer tertawa melihatnya.

"Lukey, aku tidak bisa. Kau tau ranjangmu itu sempit dan lagipula aku akan tidur di sofa." jawab Summer terkekeh.

"Tapi...Tapi aku tidak bisa tidur jika kau tidak ada disebelahku." Jawab Luke dengan ekspresi memelasnya yang membuat Summer menyerah dan menyetujui keinginan Luke yang aneh itu. Luke tersenyum lebar dan segera menarik Summer untuk segera berbaring disebelahnya.

"Sempit sekali membuatku berkeringat." ucap Summer tertawa kecil.

"Aku juga sempit tau, tapi asalkan bersama kau. Tempat sempit pun tidak aku pedulikan."

Amnesia [Luke Hemmings] [5SOS]Stories to obsess over. Discover now