Shena's POV
Setelah berseteru dengan Anes dan Aura, aku langsung beranjak pergi dari area depan perpustakaan, tempat dimana kejadian mengesalkan itu terjadi. Sadar tak sadar, sedari tadi banyak orang yang memperhatikan pertengkaran kami, sebab ada orang dengan jumlah tak sedikit yang berada di area perpustakaan dan juga di luar dekat perpustakaan. Alasan utama aku pergi dari tempat itu adalah karena aku benci ketika mereka mulai menanyai mengapa aku bisa sampai dilabrak Anes.
Aku berjalan tak tentu arah sembari berkeliling sekolah tersebut. Semua area dan sudut gedung sekolah SD itu nampak asing bagiku, sebab aku sama sekali tak pernah berkunjung apalagi sampai bersekolah di situ. Sempat aku melewati stand sekolahku, dan di sana aku mengobrol sebentar dengan Eva dan Krisna, sebelum aku dipanggil oleh guru prakarya untuk mengobrol bersama beliau sembari mengamati siswa-siswi dari sekolah lain yang sedang beraktivitas di stand melukis gerabah. Alasan Eva tak melerai saat aku dan Anes bertengkar tadi adalah karena Eva bersama anak OSIS lainnya sedang menjaga stand sekolahku, sehingga ia sama sekali tak boleh beranjak dari tempat itu.
"Heh Shena! Ke kantin yuk!" teriak sebuah suara. Setelah kutengok, ternyata suara itu datang dari Narya, salah seorang temanku yang sekelas saat kelas 10, namun tak lagi sekelas saat kelas 11 karena kelas kami di rolling. Aku pun ikut bersama Narya menuju ke kantin untuk makan bakso. Bakso di kantin SD memang terkenal enak, maka dari itu kami langsung memesan bakso komplit. Tak lama setelah selesai makan, aku pamitan ke Narya untung pulang duluan karena bahan untuk tugas karya tulis sudah terkumpul semua. Saat turun ke bawah, aku juga mau beli ayam geprek mozarella di booth sponsor, sayang sekali mozzarellanya habis sehingga aku tidak jadi beli.
Setelah beranjak dari SD, aku segera pergi ke rumah Aika menggunakan ojek online. Maklum, orangtuaku tak memperbolehkanku membawa kendaraan pribadi karena usiaku masih 16 tahun dan belum memiliki Surat Izin Mengemudi. Sesampainya di rumah Aika, kami langsung makan siang dengan menu kentang goreng dan fillet ikan goreng tepung.
Usai menyantap menu makan siangku, aku baru sadar ternyata sedari tadi Herve mencariku. Aku mengetahuinya setelah membuka aplikasi Whatsapp, yang mana di situ pesan dari Herve berada paling atas. Ternyata, dalam pesan tersebut Herve menjelaskan bahwa ia membutuhkanku untuk segera menceritakan masalahku dengan Anes. Awalnya aku tak mau menceritakannya dikarenakan semua itu adalah urusanku dengan gengnya Anes dan tidak melibatkan Herve sama sekali, namun karena didesak oleh Herve dengan alasan dia juga bertengkar dengan Anes, makanya aku terpaksa menceritakannya melalui telepon, sesuai permintaan dari Herve.
"Shena, kamu sama Anes kenapa?" Herve mengulangi pertanyaannya.
"Jadi gini, gue kan Senin kemarin keluar dari Kreatif, gengnya Anes itu loh kalo lo ga tau. Keluarnya baik-baik, ga ada berantem atau marahan sama sekali. Si Anes juga gapapa dengan keputusan gue buat keluar dari geng itu, karena dia udah ketemu orang lain buat ngisi slot gue. Tapi tiba-tiba aja tadi pas acara, si Anes sama Aura ngelabrak gue. Mereka seakan membuat gue keliatan kaya pengkhianat karena keluar dari Kreatif, tapi mana gue berkhianat? Ga ada. Trus mereka menyinggung soal Tweet gue yang nyindir Anes gara-gara dia ditembak sama lo. Karena itu juga, mereka nganggep alasan gue keluar dari Kreatif bukan karena yang gue sebutin, tapi gara-gara gue cemburu Anes akrab sama lo. Padahal mah engga. Kalo lo rasa cerita gue kurang meyakinkan, gue bakal kirim rekamannya," aku menjelaskan dengan panjang kali lebar kali tinggi.
Soal rekaman, karena saat aku ngevlog tadi rekamannya lupa dimatikan, maka dari itu rekaman tersebut secara tidak sengaja merekam seluruh perseteruanku dengan Anes dan Aura.
"Kirim She, aku mau denger kamu diapain aja," kata Herve. Setelah aku mengirimkannya, ia mematikan sambungan teleponnya sebentar untuk mendengarkan rekaman tersebut.
Tak lama kemudian, ia meneleponku lagi. Sangat mungkin ia sudah selesai mendengarkan rekaman yang kuberikan.
"Kamu gapapa? You okay my girl?" tanya Herve. Aku kaget. Mengapa dia tiba-tiba bicara seperti ini? Bukankah aku dan dia tidak berhubungan apa-apa?
"Jangan ngomong gini. Gue salting, tahu rasa lo," kataku. Ya, aku sedang mencoba menjauh dari Herve, karena aku tidak mau terseret kedalam rumor tak mengenakkan lagi apabila aku masih menyukainya. Tapi, kalo Herve nya begini, ya gimana?
"Aku tahu kalo itu rasanya sakit banget dikucilin sama orang-orang, dan bahkan aku lagi ada dalam posisi ini. Tapi kalau mau nangis bilang aja," Herve tahu betul aku orangnya sangat melankolis dan mudah menangis. Walaupun begitu, aku tak akan menangis hanya untuk perkara sepele seperti ini.
"Gapapa, udah biasa kok diginiin," kataku.
"Oke, kalo gitu aku matiin telponnya dulu ya. Kalo kamu ada yang mau diceritain, bilang aku aja," tutup Herve.
Aku langsung buru-buru keluar dari kamar mandi, sebab sedari tadi aku bersembunyi di kamar mandi yang berada di lantai dua rumah Aika agar tak ketahuan olehnya jika aku sedang mengobrol dengan Herve.
==Unbelievable==
KAMU SEDANG MEMBACA
[SUDAH TERBIT, OPEN ORDER] unbelievable // k-idols 01l
Fiksi PenggemarSudah open order via DM, Shopee, Tokopedia, langsung chat aja! "Terkadang hal yang tak dapat dipercaya bisa terjadi, namun pada saat yang sama hal yang selama ini diharapkan tak bisa terjadi" Status : Completed & published Highest rank : #1 teenlit ...
![[SUDAH TERBIT, OPEN ORDER] unbelievable // k-idols 01l](https://img.wattpad.com/cover/336943683-64-k832116.jpg)