30. Wanita bergaun merah

6.3K 642 40
                                        

1100 an kata, tapi kok aku ngerasa sedikit ya hmm..

Aku bilang dari kemarin² mau publish cerita oneshoot ga jadi², aduhh

Happy reading


"Diharapkan seluruh murid Brilliant High School berkumpul di aula sekarang.

Sekali lagi dimohon seluruh murid Brilliant High School berkumpul di aula sekarang."

Suara yang berasal dari speaker di ujung ruangan tiap kelas itu terdengar oleh seluruh siswa. Sebagian murid bersorak gembira karena mereka bisa melewati pelajaran yang tidak disukai. Sebagiannya lagi ada yang biasa maupun murung karena tidak dapat bertemu dengan guru ataupun pelajaran favoritnya.

Mereka segera berbondong-bondong menuju aula sekolah yang berada di samping gedung olahraga. Terletak di bagian barat sekolah.

Vellyn hanya menguap malas, menunggu orang-orang keluar lebih dahulu. Setelah sedikit sepi ia lantas berjalan dengan santai.

Pukk..

Vellyn menoleh pada orang yang menepuk pundaknya. Senyumnya terbit.

"Hai Xell." sapanya ramah.

"Saya kira kamu sudah berkumpul di aula."

Tangan berurat milik Axel menggenggam tangan halus Vellyn. Perempuan itu mengernyit tidak suka sebelum kembali menetralkan raut wajahnya.

"Hehe, aku ga suka ramai. Jadi nunggu dulu deh!!" Bibir tipis itu tersenyum dengan manis membuat tangan Axel semakin mengerat menggenggam tangan Vellyn.

Matanya memandang dalam gadis di sampingnya, tatapan yang mengandung banyak makna.

"Istirahat kedua kamu mau kemana?" tanya Axel sambil menaikkan alis.

Mengetuk dagunya dengan jari tangannya yang lain, Vellyn berpose seperti orang berpikir.

"Eum, ga kemana-kemana mungkin?. Emangnya kenapa?" kepalanya dimiringkan sambil menatap penuh tanya lelaki di sampingnya.

Mengacak-acak rambut blondenya, ia lantas menjawab. "Bagaimana kalau nanti kamu ikut saya ke perpustakaan, nemenin saya ngurus tugas OSIS?"

Vellyn mengangguk menyetujui setelah beberapa saat berpikir.

Mereka telah sampai di aula yang telah ramai oleh murid-murid yang sedang berbincang. Beberapa orang berbisik sambil melirik bahkan menunjuk kedua orang, lebih tepatnya si siswi yang baru saja datang.

Menghiraukan itu, Vellyn berjalan ke kursi paling belakang kemudian duduk dengan tenang setelah Axel berpamitan dengannya dan menuju ke depan, tempat para anggota OSIS berkumpul.

Mata birunya melirik pada siswa yang baru saja sampai dengan wajah cerianya. Namun Vellyn sempat melihat raut muka sebelumnya. Terlihat marah dan penum dendam.

Menyeringai licik dalam hati. Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui.

Dengan dirinya yang dekat dengan Axel maka akan ada beberapa orang yang cemburu dan akan menunjukkan taringnya. Beberapa teror akan didapatkannya sebentar lagi mungkin(?). Vellyn akan melihat sebenci apa mereka dengannya.

Selain itu sedikit mengeluarkan kemampuan berakting-nya tidak apa-apa kan? Menambah satu orang agar terobsesi padanya kemudian menghancurkan hatinya, bukankah itu hal yang menyenangkan?

Vellyn menyukai perannya sebagai gadis polos yang lemah lembut.

'Maaf Clevian, peran kamu terpaksa aku rebut demi menghancurkan para bajingan yang telah menyakiti jiwa dan raganya Vellyn, pemilik asli tubuh ini.'

Vellyn Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang