Part_25

209 44 0
                                        

Dulu saat aku kecil, aku ingin hidup seribu tahun lamanya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Dulu saat aku kecil, aku ingin hidup seribu tahun lamanya. Namun saat aku beranjak dewasa, aku hanya ingin hidup hingga esok hari.

~Nafisya Syaquell Ivander Caittline

*
*
*
*
*
*

Exellino tak henti-hentinya, meninju anak buahnya bagaikan samsak. Lawannya kini sudah tak berdaya lagi, bau amis yang tercium membuat Daniel yang sedari tadi duduk santai sambil menonton aksi temannya itu pun beranjak dari kursi.

Daniel menepuk pundak Exellino yang kini ada di depannya. "Udah lah, dia udah lemes. Lo mau jadi-in dia samsak sampai kapan? Sampai dia mati? Kalo dia mati, siapa yang bakal nyari pelakunya?" tanya Daniel.

"Kerjanya gak becus El! Cari pelakunya aja gak bisa. Kita semua udah kasih toleransi sama dia, tapi apa? Satupun kerja kerasnya gak membuahkan hasil."

"Gue tau perasaan lo. Kita kasih satu bulan buat dia cari orang nya. Kalo masih gak ketemu, kita sama anak-anak yang bakal turun."

Exellino menendang anak buatnya yang sudah terkapar, lalu pergi bersama Daniel meninggalkan tempat itu.

Tepat di markas Antariksa, pada malam ini. Ray mengumpulkan anak buahnya. Rencananya, Ray akan mengadakan diskusi besar-besaran kali ini.

"Oke, karna semuanya udah ngumpul. Gue mau nanya sama kalian semua. Waktu itu, tepat hari dimana kita berduka. Hari dimana satu diantara kita meninggal. Lo semua penasaran gak sih sama dalang dibalik semua ini?"

"Maksud lo?" tanya Daniel.

"Iya. Jadi gini, kalian curiga gak sih kalau pelaku nya itu orang terdekat kita? Atau gini, mungkin orang itu ada disini sekarang. Kan gak mungkin dia tau semua rahasia Antariksa kecuali orang dalam."

"Tunggu, jadi lo curiga pelakunya salah satu dari kita?" tanya salah satu diantara mereka.

Ray menyandarkan bahunya di sofa. "Kenapa enggak? Bisa aja kan ada penghianat."

"Ya tapi siapa?! Lo seakan-akan nuduh kita yang bunuh Airyne!" kata Bintang.

"Lo jangan ngegas dong, lagian gue nggak nuduh. Gue cuma penasaran aja siapa pelakunya, karna selama ini orang suruhan kita aja sampai sekarang nggak tau keberadaan pelakunya."

"Gue setuju sama Ray. Setidaknya kita ketemu sedikit informasi tentang pelakunya, tapi apa? Kita aja gak tau plat mobil yang dengan sengaja nabrak Airyne. CCTV-nya? Gak mungkin, karna disekitar tempat itu CCTV-nya hilang di hari yang sama. Ngarepin polisi? Gak bisa, mereka aja dibayar sama pelakunya," ucap Exellino.

"Gue sebenernya udah mikir kaya gitu. Dan apa lo semua gak penasaran sama orang yang udah bakar markas kita sebelumnya? Dan di mana di dalam nya cuma ada Airyne," ujar Xavier menambahkan.

NEOPOLIST (On Going) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang