Welcome to my story...🤗
Jangan lupa ramaikan part ini guys...😊
Dukung terus aku buat selesein project ini..😇
Jangan lupa share cerita ini ke teman2
wattpad kalian ya...🥳
Aku sayang kalian...🥰🥰
~Happy reading~
Di tempat lain, dua orang lelaki sedang beradu pandang dengan tatapan dingin. Salah satu tangan cowok itu mencengkram kuat kerah lawan yang ada di depannya. Bukannya takut, cowok yang baru saja mendapat peringatan malah mendorong keras tubuh lawannya hingga cengkramannya terlepas. Senyuman sinis dan remeh terus menghiasi bibir Yunus yang baru saja terbebas dari sikap arogan Bastian yang diam-diam menguntitnya sejak tadi.
"Gak usah sok jagoan lo. Kalo gak ada gue, habis lo di tangan mereka!" cibir Yunus berdecak kesal setelah membawa Bastian menjauhi kerumunan.
"Gue gak butuh bantuan lo!" seru Bastian menatapnya sengit. "Jauhi Livia!"
Yunus terkekeh pelan, peringatan yang Bastian lontarkan benar-benar membuat telinganya tergelitik. Masih beruntung cowok itu ia selamatkan dari preman yang memang sengaja mau mencari gara-gara dengannya tadi, sekarang malah memintanya untuk menjauhi Livia. Yunus menggeleng heran, pikirannya menjurus pada suatu alasan.
"Suka lo sama Livia?" tanyanya. "Oh, lo ini cowok yang ada di apotek itu kan? Lo Bastian, bosnya Livia?" tebak Yunus setelah mengingat cerita Livia tentang orang-orang di apoteknya.
Bastian terdiam. Yunus yang mengetahui gerak-gerik Bastian dengan jelas dapat menangkap jawaban apa yang akan cowok itu berikan. Menebak perkara orang jatuh cinta memang terlalu mudah baginya.
"Lo nggak perlu tau soal gue. Perasaan gue ke Livia itu juga bukan urusan lo!" jawab Bastian tegas. Tatapannya lurus memperhatikan cewek yang kini tengah makan di sebuah warung tenda tak jauh dari lokasinya berdiri.
"Asal lo tau aja, gue juga suka sama Livia." ujar Yunus berkata jujur. Bastian yang mendengar ucapan itu langsung menoleh. Mata tajamnya kembali menatap Yunus yang tengah tersenyum seringai kepadanya.
"Sekali lagi gue kasih peringatan ke lo, jauhi-"
"Husshtt!"
Belum selesai Bastian menyelesaikan kalimatnya, Yunus malah berdesis memintanya untuk diam. Cowok itu mendadak mendapat panggilan telepon dari ponsel yang ia simpan di saku celananya.
"Oke. Aku usahain buat datang ke sana sekarang." ucap Yunus pada seseorang di seberang sana.
"Kenapa lo?" tanya Bastian malas dengan sebelah alis terangkat. Raut wajah Yunus berubah gelisah seperti sedang ada masalah.
"Kondisi Kakek gue drop. Gue harus ke rumah sakit sekarang."
"Eh, lo gak bisa ninggalin Livia gitu aja. Enak aja lo main pergi-pergi!" protes Bastian merancau.
"Gak usah pura-pura. Gue tau lo peduli sama tuh cewek." balasnya sambil nyengir. "Samperin gih, bilangin kalo gue ada urusan mendadak. Oh ya, pesenan gue nasi goreng kepiting sama minumannnya tolong bayarin dulu ya." Kemudian, Yunus pergi begitu saja dari hadapannya tanpa pamit.
"Eh, tunggu! Eh, cumi-cumi mau ke mana lo!" teriak Bastian berdecak sebal.
Bastian terus mengesah sambil modar-mandir tidak jelas di tempatnya. Ia bahkan berkali-kali mengacak rambutnya frustasi. "Sialan lo!" teriaknya lagi saat Yunus dan motornya baru saja melewati dirinya sambil melambaikan tangan hingga melaju menjauhi arena pasar malam sampai tak terlihat lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
365 Days (End)
RomanceIni adalah kisah gadis bernama Livia Almahera bersama 365 harinya. Livia tidak mengira jika keputusannya menerima tawaran kerja di apotek akan membawa dampak besar terhadap hidupnya. Terlebih apa yang ia impikan untuk kuliah bisa terwujud. Ia menjad...
