Hallo....🤗
Minta tepuk tangannya dong say...👏👏👏
Alhamdulillah, 10 bab sudah publis dengan banyak kendala..🤯
Mau baca???
Vote dulu??
Udah???
Ya udah,, baca aja...🤪
~Happy reading~
Sebuah mobil Jeep berwarna putih terlihat memasuki gerbang besar perumahan elit yang tak jauh dari pusat kota Jakarta. Sorot mata seorang lelaki begitu hangat menyapa segerombolan satpam yang sedang berjaga. Mereka saling melempar senyum seolah sudah saling mengenal seperti kawan lama.
"Sore Mas, tumben baru kelihatan." sapa seorang satpam menyambut kedatangannya.
"Iya, Pak. Akhir-akhir ini sedikit sibuk." jawab Bima ramah. "Mari, Pak, duluan." Cowok itu menganggukkan kepalanya dan tersenyum setelah portal perumahan itu terbuka.
Kini mobil Bima sudah terparkir rapi. Berjejer dengan mobil lain yang ada di dalam rumah mewah tersebut. Dengan tenang, Bima berjalan menuju teras di mana kedatanganya sudah ditunggu oleh seseorang yang sangat ia hormati.
"Assalamualaikum, Pak," Tangan Bima langsung mencium uluran tangan gagah itu pelan.
"Waalaikumsalam, Bima. Mari masuk, saya sudah menunggumu sejak tadi." tuturnya lemah lembut. Mereka berdua lantas berjalan beriringan menuju ruang tamu yang ada di dalam rumah.
"Gimana, sudah dapat orang yang memenuhi kriteria untuk masuk ke dalam perguruan tinggi?" tanya Bara Brawijaya langsung. Ia adalah kepala keluarga sekaligus pemilik apotek yang memberi beasiswa kepada Bima. Karirnya sebagai dokter di salah satu rumah sakit swasta semakin bersinar setelah keikutsertaannya dalam politik yang sekarang sedang ia dalami.
"Sudah Pak. Ini berkasnya." Bima menyerahkan beberapa berkas dari dalam map kepada Bara. "Namanya Livia Almahera, lulusan SMA HARAPAN BANGSA." Dengan serius, lelaki setengah baya itu segera membaca berkas yang ada di tangannya.
"Smart! Sayang sekali anak-anak seperti ini harus putus sekolah. Dan lagi-lagi karena masalah biaya." komentar Bara mendesah pelan.
"Terima kasih, karena kebaikan Bapak, akhirnya saya bisa melanjutkan kuliah dan meraih cita-cita saya." ujar Bima menundukkan kepalanya dalam. Ia merasa beruntung bisa bertemu dengan keluarga Bara saat masih bekerja di apoteknya. Terlebih lelaki itu juga memberinya kesempatan untuk melanjutkan kuliah hingga sukses seperti sekarang. Hal itu juga yang akan Bara lakukan kepada Livia. Bagi Bima, Bara adalah malaikat yang sudah merubah hidupnya. Walaupun sebagian kebahagiannya terpaksa terenggut olehnya.
Melihat sikap Bima yang sungkan, sontak membuat Bara tertawa. Ia lantas menepuk pundak pemuda yang ada di sisi sofanya pelan. "Sudahlah Bima, jangan menyanjung saya seperti itu. Justru kehadiran kamu yang sudah membantu banyak dalam usaha bisnis saya. Terima kasih sudah menjadi bagian dari keluarga kami."
"Saya yang harus berterima kasih, Pak. Tanpa Bapak, saya tidak akan menjadi apa-apa." tegasnya lagi.
Bara menggelengkan kepalanya heran, "Bima, Bima, kamu ini memang anak yang baik. Sejak dulu sikap kamu ternyata belum berubah. Selalu saja sungkan dengan saya, padahal kita sudah seperti keluarga." ujarnya tersenyum hangat. Ia sendiri merasa bangga dengan sosok pemuda berhati lembut seperti Bima. Sifatnya jauh berbeda dengan Bastian anak kandungnya sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
365 Days (End)
RomantiekIni adalah kisah gadis bernama Livia Almahera bersama 365 harinya. Livia tidak mengira jika keputusannya menerima tawaran kerja di apotek akan membawa dampak besar terhadap hidupnya. Terlebih apa yang ia impikan untuk kuliah bisa terwujud. Ia menjad...
