Bab 27 Pengakuan Bastian

152 50 234
                                        

Selamat sore...🤗

Selamat weekend🤗

Selamat bersantai-santai🤗

Yuk ucapin HAPPY BIRTHDAY

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Yuk ucapin HAPPY BIRTHDAY

buat BASTIAN.....🥳🥳🥳

~HAPPY READING~

Sudah hampir sepuluh bulan Livia tinggal dan bekerja di apotek. Tak terasa waktu mendekati ujian masuk perguruan tinggi tinggal beberapa bulan lagi. Dengan penuh semangat Livia terus belajar mengerjakan soal-soal latihan dengan kembali memboyong semua buku-bukunya yang ada di rumah. Setiap gajian Livia juga menyisihkan uangnya untuk membeli buku baru, takut kurikulum yang ia pelajari akan berbeda dengan tahun ini. Livia benar-benar mempersiapkan semuanya secara matang. Ia tidak mau mengecewakan orang-orang yang sudah berjasa membantu mewujudkan cita-citanya.

Siang ini matahari cukup terik menyinari. Livia yang dapat jatah sif siang kini sedang menikmati waktu istirahatnya dengan belajar di depan kamar seperti biasa. Namun, kali ini ketenangannya sedikit terusik akibat ulah Bastian yang tiba-tiba mencuci mobil. Fokus livia buyar ketika cowok yang tak jauh darinya itu bernyanyi layaknya sedang konser.

"MENGAPA BERAT UNGKAPKAN CINTA PADAHAL IA ADA. DALAM RINAI HUJAN DALAM TERANG BULAN JUGA DALAM SEDU SEDAN... MENGAPA SULIT MENGAKU CINTA PADAHAL IA TERASA. DALAM RINDU DENDAM HENING MALAM CINTA TERASA ADA...." nyanyi Bastian sambil menggosok-nggosok mobilnya dengan spon berbusa.

Untung Bos! Kalo gak udah aku lempar ke angkasa kamu! batin Livia frustasi.

"Liv," panggil Bastian seolah tahu kalau dirinya baru saja membatin tentangnya.

"Apa, Kak?" jawab Livia terkejut.

"Suara gue bagus gak?"

"Bagus kok. Tapi jauh lebih bagus lagi kalo Kak Tian diem." jawabnya nyengir.

"Hm, gitu ya."

Bastian kembali melanjutkan aktifitasnya lagi. Anehnya, cowok itu benar-benar berhenti menyanyi menuruti apa yang Livia katakan. Gadis itu terkekeh pelan sambil menggelengkan kepalanya heran.

Sejak kebersamaan mereka di puncak beberapa bulan yang lalu, hubungan yang terjalin di antara keduanya sudah membaik. Tak ada lagi adu mulut dan pertengkaran saat sedang bersama. Walaupun kadang-kadang Bastian masih suka iseng dan jail padanya, hal itu ia maksudkan untuk menyindir Livia yang tidak peka atas perasaan yang selama ini masih ia simpan. Contohnya seperti tadi ketika Bastian menyanyikan lagu yang mewakili isi hatinya.

Di tengah keheningan karena sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Sebuah suara ketukan pintu tiba-tiba terdengar membuat Livia dan Bastian saling melempar pandang.

365 Days (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang