Bab 15 Angel or Devil?

32 0 0
                                    

Menjelang pagi, cahaya mulai menyusup dari jendela kamar apartemen. Perlahan mata Hanna mulai membuka.

"Siapa kamu?!" teriak Hanna.

"Sayang, kenapa berteriak?" tanya Edgar.

"Kamu mengagetkan aku aja. Jangan-jangan kamu tidak tidur gara-gara sibuk memperhatikan wajah aku," jawab Hanna.

"Sayang, aku ingin kita tinggal di apartemen ini bersama," tutur Edgar mengambil tangan Henna lalu mengecup lembut telapak tangannya.

Hanna menarik tangannya lalu menatap Edgar dengan perasaan takut.

"Aku harus pulang sekarang, pasti orang tuaku sudah menunggu," pamit Hanna.

"Hanna, kenapa kamu harus berbohong? Aku tahu orang tua kamu lagi pergi kerja, sedangkan adik kamu sedang kuliah," ejek Edgar.

Tubuh Hanna mendadak kaku karena ketakutan pada Edgar. Dia tidak menyangka pria itu akan tahu apa pun tentang dia. 

"Aku mau pulang," mohon Hanna.

"Iya, tapi nanti. Sekarang kita pergi melihat sekitar apartemen ini dulu yuk. Kamu mau berenang juga bisa," ajak Edgar.

"Aku tidak bawa apa pun, jadi lebih baik aku pulang," tolak Hanna.

"Semua pakaian kamu sudah ada, Hanna, tinggal kamu mau pakai atau tidak," balas Edgar.

"Apa kamu akan mengantar aku pulang setelah berkeliling?" tanya Hanna menatap manik mata Edgar.

"Iya, tapi kita sarapan dulu sebelum melihat sekitar sini," kata Edgar.

"Oke," balas Hanna dengan pelan.

"Kamu bersih-bersih dulu saja. Oh iya, kamu bisa pilih pakaian yang kamu mau di sana. Sudah aku siapkan," tutur Edgar lembut sambil menunjuk ke arah walking closet.

Hanna menganggukkan kepala. Dia mengambil pakaian yang dia suka lalu pergi ke kamar mandi.

"Kamu manis sekali," kata Edgar.

Edgar melihat Hanna sudah tidak terlihat menelepon seseorang untuk mengantarkan breakfast mereka ke kamar saja. 

Tring tring tring.

Mendadak ponsel Edgar berdering. Dia seketika mendengus kesal saat mengetahui siapa yang meneleponnya.

"Kakak ada di mana? Papa tadi nyariin Kakak," kata Max.

"Iya nanti aku yang akan menghubungi papa, kamu tidak perlu mencari aku seperti aku masih kecil saja," balas Edgar.

"Dari tadi mama nyariin juga tahu," kata Max.

"Bilang mama kalau aku baik-baik saja. Kamu sudah di mana?" tanya Edgar.

"Sudah di jalan menuju kantor," jawab Max.

"Oke," kata Edgar.

"Iya nanti baru aku kabarin lagi, Kak," balas Max.

"Iya," kata Edgar singkat.

***

Max melihat panggilan itu sudah terputus menghelakan napas.

"Max aku yang ganteng," goda seorang perempuan.

"Adel, apakah teman kamu itu tahu kita bertemu?" tanya Max.

"Enggak ada yang tahu kok, termasuk Hanna," jawab Adel memeluk Max.

"Oke," balas Max.

Max melepaskan pelukan Adel membuat Adel mencebikkan bibirnya. 

"Kenapa?" rengek Adel.

Edgar PrisonerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang