Edgar membelai pelan pipi Hanna lalu memeluk perempuan itu.
"Iya aku memiliki musuh karena usaha kami yang berkembang membuat banyak orang iri," kata Edgar.
"Pasti banyak orang yang iri kalau kita sukses, tapi kita tidak perlu terlalu memikirkannya," balas Hanna.
"Iya. Sekarang kamu istirahat, besok pagi kita harus berangkat. Aku mau menemui pengawal di depan," kata Edgar.
"Oke," balas Hanna.
Edgar menarik selimut hingga menutupi tubuh hanna. Dia keluar dari kamar dan langsung disambut David yang berada di depan. David menunduk hormat bersama pengawal lainnya.
"David, ke ruangan kerjaku. Gustav di mana? Katanya dia datang," kata Edgar.
"Ada. Sebentar saya telepon," balas David.
"Oke," balas Edgar.
Mereka berjalan menuju ruangan Edgar buat membicarakan misi untuk hari besok.
***
Keesokan paginya, Niko yang berada di kediamannya sudah membantu papanya menyiapkan sarapan. Elsa termenung di meja makan.
"Ma, ayo sarapan dulu," kata Louis.
"Hanna belum datang?" tanya Elsa.
"Ma, sabar. Hanna lagi sibuk bekerja," jawab Louis.
"Mama, Niko suapin," kata Niko.
Elsa menganggukkan kepalanya. Mereka sarapan bersama di ruang makan. Ponsel Louis tiba-tiba berbunyi, dia tersenyum saat mendapatkan telepon dari kepolisian.
"Halo. Selamat pagi," kata Louis antusias.
"Tuan Louis, selamat pagi. Ini dari pihak berwajib, saya ingin meminta kalian datang untuk ke alamat yang akan saya kirim," balas Baron.
"Iya. Bagaimana keadaan putri saya? Apakah sudah ketemu?" tanya Louis.
"Maaf, kami belum bisa memastikan terlebih dahulu apakah ini putri kalian atau bukan," jawab Baron.
"Apakah putriku sudah meninggal?" tanya Louis.
Sendok yang dipegang Elsa terjatuh. Elsa langsung berdiri saat mendengar ucapan suaminya. Niko merangkul mamanya, dia mencoba menenangkan Elsa.
"Tuan, kami belum tahu ini putri kalian atau bukan. Kami meminta kalian mengidentifikasinya dulu," kata Baron.
"Baik, saya akan segera ke sana sekarang," balas Louis.
Louis menatap istri dan putranya setelah sambungan telepon itu dimatikan.
"Papa, apakah kakak sudah tidak ada?" tanya Niko.
Louis mengangkat tangannya, dia menyuruh Niko diam.
"Papa mau ke sana dulu untuk memastikan apakah perempuan itu kakak kamu atau bukan," kata Louis dengan suara bergetar.
Niko menghelakan napas. Dia berusaha tegar untuk menguatkan orang tuanya.
"Mama ikut," kata Elsa sambil menitikkan air matanya.
"Sayang, kamu di sini aja sama Niko. Banti aku kabarin," balas Louis lembut.
"Tidak. Mama mau ke sana untuk memastikan itu Hanna atau bukan," kata Elsa.
"Oke, kalian harus bersiap-siap sekarang," balas Louis.
"Papa jangan lupa izin kerja," kata Niko.
"Iya. Papa sekarang mau kirim pesan ke bos," balas Louis.

KAMU SEDANG MEMBACA
Edgar Prisoner
RomanceWarning : Adult and explicit sensual content! Semua kejadian pasti ada sebabnya. Itulah yang dialami oleh Hanna Silvan. Tapi sayang, dia sudah terlanjur terjebak di sebuah tempat di mana banyak suara tangisan dari para gadis karena kebodohannya. Bet...