Adel yang baru saja tiba kembali ke apartemen mewah milik Max membawa serta Helen.
"Adel, ini tempat siapa?" tanya Helen.
"Ini tempat aku," jawab Adel sambil mendudukkan diri di sofa dan menyalakan televisi.
"Adel, jangan bercanda. Kamu mana mungkin mampu membeli apartemen semewah ini," balas Helen sambil duduk di samping Adel.
"Bukan aku yang beli. Ada seseorang yang membelikan untuk aku," kata Adel.
"Adel, siapa orang itu? Kamu jangan aneh-aneh, nanti nasib kamu sama kayak Hanna. Mengerikan tahu," balas Helen.
"Sudah, kamu mau minum apa? Di dapur banyak minuman," kata Adel.
"Enggak. Aku mau pulang, aku takut nanti pemilik tempat ini kembali ke sini. Memang kamu sudah bilang sama dia kalau kamu mengundang teman kamu datang?" tanya Helen.
"Enggak, dia tidak tahu. Bisa repot kalau dia tahu," jawab Adel.
"Tempat ini indah, tapi apakah kamu mendapatkan uang dengan memberikan diri kamu pada pria itu?" tanya Helen.
"Ngapain aku kerja kalau sudah mendapatkan uang banyak dari hasil memberikan diriku pada pria itu," jawab Adel.
"Siapa tahu karena kamu bosan dan tidak mau ketahuan orang aja. Dia pasti memberi uang ke kamu, Adel. Ada apa sih dengan kalian ini?" tanya Helen dengan raut wajah khawatir.
"Sudah, jangan khawatir. Tidak baik tahu kita seharian tadi sudah pusing sama mamanya Hanna," jawab Adel.
"Adel, kamu tolong jenguk mamanya Hanna. Aku takut dia makin tidak bisa mengontrol dirinya," kata Helen.
"Ya sudah aku akan mampir ke sana setelah pulang kerja, tapi kamu harus menginap di sini hari ini," balas Adel.
"Aku akan menginap di sini karena sudah bawa baju ke sini, tapi jujur aku takut nanti pemilik rumah ini datang," kata Helen.
"Dia hari ini tidak akan datang," balas Adel.
"Oke. Aku haus, tolong ambilkan minum," kata Helen.
"Kamu sudah kayak nyonya aja di sini, ambil sendiri di dapur," balas Adel.
"Tidak sopan kalau aku masuk ke dapur rumah orang," kata Helen.
"Alasan aja. Ya sudah aku ambilkan. Tunggu di sini, jangan ke mana-mana," balas Adel.
"Iya, makasih," kata Helen.
"Sama-sama," balas Adel.
Adel menjulurkan lidahnya lalu pergi ke dapur untuk mengambil minuman dan camilan. Helen yang ditinggal sendirian berdiri dari duduknya dan menatap sekeliling. Helen melihat-lihat lukisan yang dipajang dan ingin tahu siapa pria yang dekat dengan Adel saat ini, tapi dia tidak menemukan apa pun. Tidak ada foto-foto Adel dan pria yang dekat dengan Adel.
"Helen, kamu ngapain?" tanya Adel.
"Adel, kamu bikin aku terkejut aja," balas Helen.
"Kamu memang mau mencari apa?" tanya Adel.
"Aku penasaran aja sama pemilik apartemen ini. Dia siapa sih?" tanya Helen.
"Tidak ada foto dia di sini. Dia tidak mau ada foto dia dipajang," jawab Adel.
"Aneh," balas Helen.
"Sudah, tidak usah berpikir macam-macam. Makan nih camilan sama dan minum minuman yang aku sudah siapkan untuk kamu," kata Adel.
"Iya, Adel," balas Helen.
"Aku sebenarnya masih syok dengan keadaan mamanya Hanna. Aku sedih melihat dia seperti tadi dan aku heran siapa orang yang bisa menculik Hanna sampai kepolisian saja tidak menemukan dia," kata Helen.
KAMU SEDANG MEMBACA
Edgar Prisoner
RomanceWarning : Adult and explicit sensual content! Semua kejadian pasti ada sebabnya. Itulah yang dialami oleh Hanna Silvan. Tapi sayang, dia sudah terlanjur terjebak di sebuah tempat di mana banyak suara tangisan dari para gadis karena kebodohannya. Bet...
