Bab 44 Claim

15 1 0
                                        

Hanna menatap mata Edgar yang terlihat tidak berbohong mengenai cincin mereka.

"Baiklah. Aku suka taman ini," kata Hanna sambil menghirup udara yang begitu segar.

"Iya aku juga suka sekali taman ini, apalagi ditemani oleh kekasih hatiku," balas Egar sambil mendorong kursi roda Hanna dan melihat-lihat sekitar.

***

Di teras, Agatha duduk sambil menyeruput tehnya. Dia menatap kedua insan yang begitu romantis di hadapannya. Dia bahagia, tapi kebahagiaan yang dirasakan begitu mengganjal.

"Nyonya, kue-kuenya sudah cukup atau mau ditambah lagi?" tanya Ani sopan sambil menunduk.

"Cukup, Ani. Terima kasih. Aku bahagia melihat putraku begitu mencintai perempuan itu," kata Agatha.

"Iya, saya juga," balas Ani yang masih menunduk.

Ani tidak berani melihat ke arah tuannya yang tidak suka dipandang oleh pelayan rendahan seperti mereka.

"Kamu mau komentar tidak apa-apa, Ani. Kita hanya berdua saja, tidak ada yang lain," kata Agatha.

Agatha berbicara santai, tapi dia tahu di sekitar mereka semua pengawal mengawasinya.

"Tidak ada yang perlu saya komentari. Saya mendoakan yang terbaik untuk keluarga ini," kata Ani.

"Iya aku tahu kamu adalah kepala pelayan terbaik di sini. Jujur aku takut saat ini," balas Agatha.

"Wow, pada ngapain di taman? Seru sepertinya," kata Max sambil mengambil kue di meja dan mengunyahnya.

"Max, kamu ini bikin kaget aja. Kue disiapin bukan buat kamu," balas Agatha.

"Mama pelit banget. Kue banyak begini buar siapa sih?" tanya Max.

"Buat calon menantu," jawab Agatha.

"Mama berharap Hanna menjadi menantu di keluarga kita. Bagaimana kalau dia ingat semuanya?" tanya Max.

"Kalau dia mengingat semuanya, kakak kamu yang harus menanggung semuanya," jawab Agatha.

"Bukan keluarga kita yang akan menanggung?" tanya Max.

"Iya," jawab Agatha saat melihat Hanna bersama Edgar kembali.

"Tolong ambilkan handuk," kata Edgar.

"Sudah mulai hujan?" tanya Agatha.

"Iya," jawab Edgar.

Pelayan mengambil handuk lalu mengelap bagian tubuh Hanna yang basah.

"Sudah, saya saja yang mengelap. Terima kasih," kata Hanna sambil mengambil handuk dari pelayan.

"Sayang, biarkan mereka. Ini tugas mereka," balas Edgar.

Edgar ingin mengambil handuk yang di tangan Hanna, tapi ditahan.

"Aku bukan kena air satu ember, Edgar. Aku Cuma kena setetes aja," kata hanna kesal.

"Biasa, dia sangat mencintai kamu dan tidak akan membiarkan kamu sakit lagi," balas Max.

"Iya, tapi menyebalkan," kata Hanna.

"Sayang, kok kamu jadi akrab sama adikku? Jangan terlalu lama bicara sama dia, Max ini playboy kelas kakap," balas Edgar.

"Kakak juga sama kayak aku kok," kata Max.

Semua orang masuk ke dalam rumah. Kue-kue dan minuman dibawa masuk ke ruang keluarga.

"Kalian kenapa sudah masuk ke dalam rumah?" tanya Oscar yang sedang sibuk dengan laptopnya.

"Papa, di luar sudah mulai gerimis," jawab Agatha.

Edgar PrisonerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang