Bab 7 Stalker

34 1 0
                                    

Menjelang pagi, seorang gadis yang masih meringkuk matanya mulai terusik dengan cahaya yang masuk melalui jendela. Perlahan mata dia terbuka.

"Eugh, hoam," kata Hanna sambil mendudukkan diri dan mengangkat tangannya ke udara.

Hanna lalu menatap sofa. Dia melihat Edgar yang tertidur di sofa merasa tidak enak hati.

"Dia yang bayar kamar hotelnya, tapi dia yang tidur di sofa," gumam Hanna.

Mata pria itu perlahan terbuka. Mata mereka saling beradu saat pria itu menatap Hanna.

"Hanna, selamat pagi," sapa Edgar.

"Selamat pagi, Edgar. Kok kamu tidur di sofa?" tanya Hanna.

"Aku tidak mau kamu nanti berpikir kalau aku ambil kesempatan dalam kesempitan, apalagi semalam kamu dalam keadaan tidak sadar," jawab Edgar.

"Iya, maaf. Soalnya aku tidak kuat minum," balas Hanna tidak enak hati.

"Kamu mau bersih-bersih duluan atau aku saja yang duluan?" tanya Edgar.

"Terserah kamu, Sayang," jawab Hanna.

"Ya sudah kamu dulu, habis itu aku. Kita pergi sarapan bareng nanti setelah mandi," kata Edgar.

"Iya habis ini kita berpisah," balas Hanna.

"Loh, kok berpisah? Kita masih bisa ketemu, Sayang," kata Edgar.

"Iya maksud aku tidak akan seintens ini," balas Hanna.

"Iya aku harus mencari waktu dulu untuk ketemu kamu karena di kantor aku ada proyek," kata Edgar.

"Iya tidak apa-apa," balas Hanna.

"Kamu manis sekali Hanna, selalu sabar. Mandi yang bersih ya," tutur Edgar melihat Hanna yang masuk ke kamar mandi.

setengah jam kemudian, Hanna sudah selesai mandi dan gantian Edgar yang masuk ke dalam kamar mandi. Tidak lama Edgar yang sudah selesai bersih-bersih melihat Hanna sedang duduk di tepi ranjang sambil melihat ponselnya menaiki ranjang perlahan.

Grap

Edgar memeluk Hanna dari belakang membuat Hanna terkejut.

"Edgar, kamu mengagetkan aku saja," kata Hanna.

Edgar menghirup aroma tubuh Hanna dengan dalam. Dia yakin dia pasti akan merindukan gadisnya setelah berpisah.

"Aku bakal kangen sama kamu, Hanna," kata Edgar.

"Kayak kita tidak akan ketemu aja," balas Hanna.

"Ya aku kangen aja sama kamu. Aku ingin segera menikahi kamu, Hanna," tutur Edgar membuat Hanna tersipu.

"Datang ke rumah dan bertemu dengan orang tuaku kalau mau menikah sama aku," titah Hanna.

"Iya, Hanna," kata Edgar.

"Edgar, kapan kamu mau memperkenalkan aku ke orang tua kamu? Kamu juga belum pernah berkenalan secara formal dengan orang tuaku," tutur Hanna.

"Aku janji segera, Hanna," balas Edgar.

Edgar menggenggam tangan Hanna lalu mengecup lembut telapak tangan perempuan itu.

"Iya terima kasih. Aku tunggu ya kamu melunasi janji kamu," kata Hanna.

"Iya, Sayang. Aku pasti akan melunasi janjiku," balas Edgar.

"Bisa kita pulang sekarang?" tanya Hanna.

"Iya aku antar kamu pulang. Nanti kita teleponan seperti biasa dan jangan berkenalan dengan cowok lain. Ingat, bisa membahayakan diri kamu seperti kemarin," tawar Edgar.

Edgar PrisonerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang