Helen dan Adel sampai di tempat keluarga Hanna. Teman mereka sudah dimasukkan ke dalam peti dan dibawa ke ambulans.
"Paman, kami mau bicara sebentar," kata Adel.
Louis yang menenangkan istrinya yang menangis histeris meminta Niko untuk menemani mamanya dulu. Adel, Helen dan papanya Hanna ke pojokkan.
"Ada apa?" tanya Louis dengan wajah yang sembab.
"Paman, lebih baik kita melakukan pemeriksaan dulu agar kita bisa tahu penyebab Hanna meninggal dan apa benar itu teman kami atau bukan. Kami takut perempuan itu bukan Hanna," jawab Helen.
"Maaf, saya tidak mau membuat anak kami Hanna menderita lagi. Pemeriksaan lebih dalam itu membutuhkan waktu yang lama, kami ingin segera menguburkan putri kami. Terima kasih atas saran kalian. Kami akan berusaha merelakan putri kami dan mendoakannya," balas Louis.
Helen menatap Adel. Dia meminta maaf pada Louis karena masih ragu dengan tubuh Hanna yang ditemukan.
"Saya juga ragu, tapi ciri-cirinya sudah persis seperti Hanna kami walaupun tidak mengenali wajahnya," kata Louis saat mengingat wajah cantik putrinya tidak berbentuk sama sekali.
"Baik. Kita kembali ke tante sama Niko dulu," kata Helen.
Mereka kembali ke tempat Niko dan Elsa. Mereka lalu menuju ambulans yang membawa peti yang berisi jasad Hanna ke rumah duka. Mereka sudah memberitahu keluarga, teman dan juga tetangga yang terdekat.
***
Di pesawat pribadi Edgar, Hanna menonton film yang diputar oleh Edgar. Dia mendadak bosan dengan film yang diputar menatap Edgar.
"Sayang, kamu kenapa kayaknya tidak semangat?" tanya Edgar.
"Aku bosan. Aku mau ganti film yang lain," jawab Hanna.
"Oke kamu ganti saja. Aku mau ke toilet dulu sebentar," balas Edgar.
"Oke," kata Hanna.
Edgar melangkah ke kamar mandi, sedangkan Hanna mengganti channel film. Hanna mendadak terpanah pada sebuah acara.
"Kenapa wajah orang itu mirip dengan aku? Dia sudah tidak ada di dunia ini dan namanya Hanna Silvan," gumam Hanna sambil memegangi wajahnya sendiri.
"Serius amat, lagi nonton apa?" tanya Edgar sambil memanggil pramugari untuk membawakan jus.
Edgar seketika melotot. Dia terkejut dengan apa yang ditonton Hanna.
"Kamu lihat deh wajah perempuan ini, mirip denganku dan namanya sama. Cuma beda belakangnya aja," kata Hanna sambil menunjuk televisi.
"Sayang, kamu menonton apaan? Tidak baik menonton orang yang sudah tidak ada," balas Edgar.
"Sayang, ini cuma berita," kata Hanna sambil menatap Edgar dengan tatapan aneh.
Edgar menatap Hanna dengan tatapan yang sulit diartikan membuat Hanna merasa heran dengannya.
"Kamu kenapa menatap aku begitu? Kamu terlihat gelisah melihat perempuan di layar ini," kata Hanna.
"Sayang, jangan berpikir aneh-aneh. Kamu baru sembuh dari sakit, terus kamu menonton berita seperti ini. Tidak bagus tahu," balas Edgar.
"Sejak kapan kekasih aku percaya sama hal-hal takhayul?" tanya Hanna cekikikan.
"Kamu ini menggoda aku terus," jawab Edgar sambil memeluk-meluk Hanna.
"Apa sih?!" teriak Hanna.
"Sudah, ganti siaran yang lain. Aku tidak suka melihatnya," balas Edgar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Edgar Prisoner
RomanceWarning : Adult and explicit sensual content! Semua kejadian pasti ada sebabnya. Itulah yang dialami oleh Hanna Silvan. Tapi sayang, dia sudah terlanjur terjebak di sebuah tempat di mana banyak suara tangisan dari para gadis karena kebodohannya. Bet...
