Bab 48 The Time

9 0 0
                                        

Hari mulai menjelang sore dan rintik-rintik hujan turun dari langit yang masih terlihat cerah. Di rumah duka, peti yang diyakini keluarga dan semua orang adalah Hanna sedang dalam perjalanan menuju peristirahatan terakhir.

Suara tangis keluarga bahkan teman-teman terdekat memenuhi perjalanan. Adel dan Helen berada bersama keluarga Hanna, mereka berusaha menguatkan yang lain.

"Sayang, anakku jangan pergi. Mama ingin melihat putriku satu-satunya menikah, punya anak dan bahagia," kata Elsa sambil memeluk peti putrinya.

"Ini sudah jalan yang terbaik untuk Hanna, Ma. Mama harus mengikhlaskan semua yang terjadi. Kita sekarang masih punya Niko, Hanna pasti sedih melihat mamanya seperti ini," kata Louis sambil memeluk istrinya.

Niko menundukkan kepala dan berusaha meredam suara tangisnya karena dia seorang pria, dia tidak boleh menunjukkan kesedihannya terlalu banyak. Dia harus menjadi pria yang tegar.

"Niko, kamu yang sabar," kata Helen.

"Iya, Kak. Terima kasih sudah membantu sejauh ini," balas Niko.

"Iya tidak apa-apa. Ini semua karena aku dan Adel teman dekat Hanna," kata Helen sambil membawa Niko ke dalam pelukannya.

Adel menatap semua orang di dalam ambulans begitu sedih, dia pun sama. Dia bahkan menyesal karena tidak bisa membantu sama sekali menemukan Hanna, padahal dia seharusnya bisa lebih berusaha membujuk Max untuk membantu.

"Maafin aku, Hanna. Aku seharusnya tidak menyerah begitu aja sewaktu Max tidak mau membantu. Maaf," gumam Adel.

Ambulans mulai berhenti. Mereka telah sampai di tempat peristirahat terakhir Hanna. Pintu ambulans dibuka oleh perawat yang membantu, mereka menurunkan peti. Semua orang perlahan turun dari ambulans begitu peti itu sudah turun.

Semua orang yang di sana terus menitikkan air mata. Mereka melihat ibu kandung dari Hanna sangat hancur saat ini. Niko berjalan di samping keluarganya mengikuti peti yang berisi tubuh Hanna dari belakang.

Doa-doa mulai dipanjatkan oleh pendeta saat mereka sudah sampai. Semua orang mendoakan Hanna. Peti mati mulai diturunkan ke bawah diiringi suara Elsa berteriak histeris setelah selesai berdoa.

"Sayang, putriku. Mama tidak akan melupakan Hanna. Mama minta maaf tidak bisa menjaga kamu, Hanna putri cantikku!" teriak Elsa.

"Sayang," kata Louis sambil menatap peti berisi putrinya yang sudah turun ke bawah.

Setiap orang yang melihat bagaimana kedua orang tua Hanna begitu menyayangi putri kesayangan mereka pasti merasa sedih. Niko ikut menangis di pelukan Helen, Adel menatap tanah demi tanah yang menutupi peti Hanna.

"Hanna, kenapa kamu pergi begitu cepat? Kita semua akan sangat merindukan kamu. Senyum kamu, semuanya, Hanna. Aku harap ini hanya mimpi, aku merasa benar-benar gagal menjadi teman. Seharusnya aku bisa melindungi kamu," gumam Adel.

Tanah sudah menutupi peti Hanna lalu diberikan nisan indah. Elsa memeluk nisan putrinya sambil mengusap tanah yang sudah menyatu dengan putrinya saat ini.

"Mama sampai meninggal tidak akan memaafkan orang orang yang menyakiti kamu. Mama janji akan mencari siapa pelakunya," kata Elsa sambil mengecup nisan di hadapannya seperti dia mengecup kening putrinya sendiri.

Louis mengusap lembut punggung istrinya sambil menaburkan bunga-bunga kesukaan putrinya.

"Kak Hanna, maafin Niko yang selalu menyusahkan. Aku tahu seribu maaf tidak akan membuat kamu berada di samping kami, tapi aku yakin kamu akan selalu di sekitar kami walaupun hanya bayangan semata. Kakak harus bahagia di sana, jangan khawatirkan kami. Niko tidak ada teman berantem lagi deh, Niko berantem sama siapa nih?" tanya Niko.

Niko meneteskan air mata hingga mengalir di pipinya, tapi dia terus berusaha menghapusnya agar tidak ada air mata yang jatuh di kuburan supaya kakaknya tenang di alam baru.

Semua para pelayat mulai izin untuk pulang dan berusaha menguatkan keluarga Silvan. Pendeta juga pamit undur diri dan meminta keluarga Silvan agar tidak tenggelam pada kesedihan. Louis dan keluarganya berterima kasih pada semua orang yang hadir.

"Pa, aku masih mau di sini. Sebentar lagi akan hujan, Hanna sendirian," kata Elsa.

"Sayang, kamu tenang saja. Hanna sekarang tidak akan takut lagi sama petir," balas Louis.

"Mama mau di sini sebentar lagi," kata Elsa.

"Oke sebentar lagi. Kita tidak boleh membuat Hanna sedih kalau melihat kita lama di sini dan meratapi kepergiannya. Kamu memang tidak ingat kalau Hanna selalu ingin kita bahagia?" tanya Louis membayangkan senyum putrinya saat ini.

Elsa diam dan membelai tanah yang banyak bunga-bunga.

"Mama bakal jadi perempuan paling cantik dong di rumah, sekarang kamu tidak ada bersama kita. Mama minta maaf tidak bisa membahagiakan kamu seperti anak perempuan lainnya. Cinta aku pada kamu tidak akan pernah hilang," kata Elsa.

Semua orang yang di sana merasa sangat sedih atas kepergian Hanna.

***

Di kediaman Odilio, Agatha dan Oscar baru sampai rumah. Agatha berjalan perlahan memasuki rumah dan membiarkan suaminya berjalan duluan masuk ke dalam rumah. Oscar menoleh ke belakang hingga dapat melihat istrinya yang seperti merasa sedih berdecak kesal.

"Sayang, apa yang kamu pikirkan dan sedihkan? Hanna yang kamu tangiskan masih hidup. Kamu tahu, jadi jangan bertingkah seperti orang yang kehilangan," kata Oscar kesal.

"Pa, aku bisa merasakan kesedihan yang dialami keluarga Silvan," balas Agatha.

"Kamu mau ke sana untuk melayat dan menangisi peti yang berisi orang lain?" tanya Oscar.

"Papa kenapa sekarang begitu tega? Apa salah mereka sama keluarga kita? Kita memisahkan putrinya dan kalian juga tega menculik para perempuan untuk dipekerjakan, apa salah mereka?" tanya Agatha.

"Kamu ini benar-benar bikin aku kesal," balas Oscar.

Oscar mengangkat tangannya dan hendak melayangkan ke Agatha, tapi tidak jadi.

"Papa, apa yang mau Papa lakukan?" tanya Max terkejut melihat papanya hendak menampar Agatha.

"Papa kesal sama sikap mama kamu yang seperti sekarang. Selalu memikirkan orang lain," jawab Oscar.

"Papa bersih-bersih dan istirahat duluan aja. Kalian habis melayat, biar aku yang mengurus mama," kata Max.

Oscar memutar bola matanya. Dia pergi ke kamarnya meninggalkan istrinya.

"Sudah, Max. Kalian tidak usah peduli sama aku lagi. Mama di sini sudah seperti boneka bagi kalian dan tidak boleh ikut campur urusan kalian. Mama benar-benar kecewa pada diri sendiri," kata Agatha.

"Mama jangan begini," balas Max.

"Mama tidak menyalakan kalian atau papa kalian. Mama menyalakan diri sendiri yang terlalu takut pada kalian dan tidak bisa bersikap tegas hingga keluarga lain sekarang mengalami kesedihan mendalam. Entah apa yang akan terjadi pada keluarga kita nanti. Kita hanya bisa menunggu waktu yang tepat saat kita akan dibalas sang pencipta," kata Agatha.

Agatha tersenyum paksa dan meninggalkan putranya yang mematung. Max menghelakan napasnya.

"Ada apa dengan keluarga ini? Benar-benar membuat pusing. Entah apa yang dilakukan kakakku sekarang," kata Max.

Max mendudukkan dirinya di sofa sambil memejamkan mata sejenak. Kepalanya terasa sangat pusing dengan masalah yang dibuat oleh keluarganya sendiri. Masalah yang seharusnya tidak pernah ada, tapi karena demi uang jadi ada.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 19, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Edgar PrisonerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang