Chapter 23 : Akal-akalan

593 63 10
                                        

Pagi ini, rencana lain muncul diotak Vania. Meskipun beresiko, Vania akan tetap mencoba mendekatkan kedua putranya. Dengan berbagai cara yang sekiranya mampu untuk menumpas sejengkal demi sejengkal jarak diantara mereka. Pria bertubuh kurus itu, mengangguk mengerti setelah mendengar mandat dari Vania.

"Jadi, mulai hari ini saya dikasih cuti, Bu?"

"Iya, Pak. Bapak bisa mudik 5 hari kedepan."

Masih setengah tidak percaya, supir itu kembali memastikan.

"Ih serius dulu, Bu?"

Vania mengernyitkan keningnya, musti diulang berapa kali Vania menjelaskan?

"Serius atuh..... Nggak mau?" Tanya Vania.

"Ya mau, Bu. Mau sekali. Tapi nanti Mas Fachrel atuh kumaha sekolahnya?"

Vania tersenyum, dia berkata dengan penuh keyakinan.

"Ada anak saya, biar itu saya yang urus."

"Tapi Pak Bian, bagaimana?"

Vania mengambil nafas panjang, menahan kesal akibat supirnya yang terus menerus bertanya.

Tentu Vania tidak mengambil keputusan sepihak tanpa membicarakan pada Bian. Semalam dia sudah mengatakan semua rencananya yang dia eksekusi pagi ini.

"Atuh Bapak teh naha sieun pisan? Itu saya yang urus sudah tenang saja. Saya yang bilang ke Mas Bian nanti."
Vania berkata sepelan mungkin mencoba untuk tetap bersabar.

Supir itu mengangguk mengerti kemudian, dengan senyum lebar karena mendapat bonus libur dadakan. Meskipun dia sempat tidak percaya awalnya, tapi lega juga setelah di yakinkan bahwa kesempatan libur itu benar adanya.

"Atuh ya udah kalau begitu. Terima kasih, Bu. Saya izin berkemas dulu." Lelaki itu berpamitan.

Dengan segera, Vania masuk kedalam rumah, melihat jam dinding yang merujuk ke angka 05.15, Vania pun bergegas menuju dapur. Membantu sang asisten rumah tangganya menyiapkan sarapan.

Ketika sedang sibuk-sibuknya menyiapkan sarapan, tanpa disadari Waktu berjalan begitu cepat, hingga silau matahari sudah menyapa manik Vania dari arah jendela dekat.

Dia melirik ke jam dinding yang bergerak kearah pukul 06.00 segera Vania menitipkan masakannya pada asisten rumah tangga yang membantunya untuk memasak. Langkahnya bergerak menuju kamar kedua putranya, dengan niatan membangunkan mereka. Tapi seperti dugaan, Vania justru sudah terlebih dulu berpapasan dengan sang bungsu di ruang makan. Fachrel sudah siap dengan tas ransel yang berada di gendongan punggungnya.

"Eh, udah siap, Dek?"

Fachrel terlihat sedikit kikuk, seperti biasanya. Dia menjaga jarak dengan Vania.

"I-iya Bun," jawab Fachrel dengan menarik kursi, dan mendudukkan diri.

"Haduh, sayurnya belum matang. Tunggu sebentar lagi ya. Sini duduk dulu."

Vania menunjuk kearah meja makan yang masih kosong.

Fachrel hanya bisa menuruti karena rasa tidak enak hati untuk berkata tidak.

"Bunda, ambilkan susu dulu..." Ucap Vania sebelum kembali ke dapur mengambil segelas susu coklat untuk Fachrel.

Setelah itu, dia menyerahkan segelas susu hangat itu pada Fachrel dengan sedikit tergesa.

"Hari ini berangkat bareng Abang ya? Soalnya Pak Hardi lagi pulang kampung. Ada acara apa begitu. Katanya mendesak."

Fachrel terbatuk-batuk sedikit tersedak ketika meminum susu itu diiringi kalimat yang terlontar dari bibir Vania, itu benar-benar tidak terduga oleh Fachrel.

UndefinedTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang