Chapter 16 : Pulang dan Pergi

799 58 6
                                        

Langit kota sudah berubah pekat ternyata. Dan rintik air mulai turun darinya. Bian mengendarai mobil dengan hati-hati dan lebih pelan. Karena sehabis seharian menyelesaikan pekerjaan yang lumayan padat membuatnya bisa saja melakukan kesalahan dalam berkendara. Oleh karena itu, dia tidak ingin membuat orang lain celaka juga.

Apalagi dia tahu, ada tanggung jawab yang mengharuskan dirinya kembali dengan keadaan sebaik mungkin. Siapa lagi kalau bukan anak kandungnya. Jika terjadi sesuatu, yang paling Bian khawatirkan adalah putra kandungnya. Siapa yang akan mengurusnya? Terlebih dia belum bisa menerima keluarga barunya. Tentulah dia masih bergantung pada Bian selaku orang tua, dan Bian pun akan menyalahkan dirinya sendiri jika kondisi anaknya berakhir buruk pada akhirnya.

Saat konsentrasinya di curahkan pada menyetir, tiba-tiba ponselnya bergetar, dan muncul nama wanita yang dicintai dilayar yang menyala.

Bian menepikan mobilnya sebentar, lalu menggeser ikon berwarna hijau. Dan menempelkan ponselnya ke telinga.

" Halo? "

"Halo, Yah! Ayah dimana?"

"Sedang dalam perjalanan pulang. Bunda butuh sesuatu?"

"Nggak, hanya saja malam ini Arka mau pindah kerumah. Tadi siang kita sudah berkemas semua barang. Tapi karena Ayah terdengar lelah dan masih dalam perjalanan, jadi Bunda pesan taksi saja ya?"

Bian terdiam sebentar, memang benar adanya dia sedang lelah sekarang. Tapi menyetujui Vania untuk pulang dengan taksi, bersama anak tirinya yang sedang mau dibujuk, bagaimana nanti dia akan menilai Bian? Pasti nanti dia akan berpikir bahwa Bian tidak peduli dan tidak bersungguh-sungguh menginginkan dia pulang.

Akhirnya Bian memilih untuk menjemput, bagaimana pun ada sekian rasa bahagia yang tidak bisa Bian ingkari dengan mendengar kepulangan Arka. Lebih besar daripada rasa lelahnya.

"Jangan, Ayah kesana sekarang! Bunda dan Arka tunggu disana."

"Oke baiklah. Hati-hati Yah, menyetirnya!"

"Iya."

Panggilan itu diakhiri sepihak oleh Bian. Dipandanginya layar ponselnya yang seharian ini hampir terlupakan. Ada beberapa pesan teks yang tenggelam diantara lainnya. Kemudian dia menggulirkan pandangan pada satu nama diantara pengirim pesan lainnya yang belum terbuka.

"Pak Yudi"

Satu nama yang jarang sekali mengirimkan pesan kecuali urusan mendesak tertentu. Dia adalah seorang satpam yang telah bekerja menjaga rumah Bian hampir 7 tahun.

Karena penasaran dia membuka pesan itu sepenuhnya.

"Pak! Maaf mengganggu waktunya, tapi ini penting. Mas Fachrel tadi keluar dengan membawa koper, pas saya tanya katanya ada urusan, dan dia bilang Bapak pasti nanti tahu. Jadi saya tidak berani mencegah Pak, ditambah ekspresinya dia sedang serius sekali."

Pesan itu masuk pukul dua siang, menuju setengah tiga. Dan sekarang sudah pukul delapan malam. Sudah lima jam kurang lebih dia mengabaikan pesan sepenting itu!

Dia menarik nafas dalam-dalam, menyesali semuanya. Juga ada rasa kesal dengan apa yang sedang dia hadapi. Ujian macam apa lagi ini?
Baru saja dia sedikit melepas penat dengan kabar pulangnya Arka. Malah sekarang kembali dibuat pusing dengan perginya Fachrel tanpa memberi kabar pada dirinya.

Bian tidak mengerti secepat itu takdir mengubah perasaan seseorang dengan keadaan.

Setelah termenung sejenak, Bian melanjutkan perjalanan menuju kontrakan Arka. Bagaimana pun dia sedang ditunggu. Urusan Fachrel akan dia urus setelahnya.

★★★

Sekitar lima belas menit lebih Vania dan Arka telah menunggu diteras. Dingin suhu malam dengan hujan menyatu bersama hening yang tercipta diantara keduanya.

Ingin masuk kedalam kontrakan, tapi mereka sudah menyerahkan kunci pada pemilik saat berpamitan. Dan pemilik itu juga sudah pulang.

Arka dasarnya mudah terbakar sumbu kesabarannya, jadi sedikit emosi ketika yang ditunggu tidak kunjung sampai.

Dia berdecak beberapa kali, bahkan ekspresi wajahnya sudah berubah masam. Vania tahu anaknya sedang dalam keadaan badmood. Tangan lembutnya menyentuh bahu Arka dan mengusapnya perlahan.

Itu berhasil membuat Arka mengalihkan perhatiannya, memandang Vania yang tersenyum.

"Sabar.... Om Bian sedang dalam perjalanan. Hujan juga Bang,"ujar Vania menenangkan sang putra.

"Dia itu pakai mobil kan, Ma? Tidak berjalan kaki atau naik motor. Jadi apa itu mempengaruhi?" Jawab Arka dengan nada kesal.

"Eh, Om Bian itu baru pulang kerja. Dan mengendarai kendaraan saat hujan itu beresiko loh, Bang. Abang paham itu, kan? Tau, kan jalanan licin karena hujan?"

Tidak membantah Arka hanya bisa mendengus, sembari menahan kesalnya.

"Sudah tenang saja, sebentar lagi pasti datang." Cicit Vania.

Dan benar saja, tak lama berselang mobil Bian datang. Sorot  lampunya terang menyilaukan mata.

Kemudian Bian turun dari mobil dengan sedikit berlari menghindari hujan.

Bian menatap kedua wajah itu. Vania menyapa dengan senyumnya. Sedang Arka selalu sama. Wajahnya menunjukkan ekspresi yang tidak bersahabat.

"Maaf ya Arka, Om agak terlambat."ujar Bian agak terengah-engah.

"Bukan agak, tapi emang telat banget." Ketus Arka.

Vania yang tidak enak hati menyikut Arka, yang menyebabkan anaknya itu berdecak kesal.

"Sudah mas jangan didengarkan. Ayo kita segera pulang kasihan Fachrel sendirian dirumah." Vania mengalihkan pembicaraan.

Bian sempat terhenyak, ingin mengatakan yang sebenarnya. Tapi sepertinya situasi sedang tidak memungkinkan. Akhirnya dia memilih untuk menuruti perkataan Vania.

Dia dan Arka memasukkan koper dan beberapa box kedalam bagasi.

Meskipun dengan pikiran yang carut marut, dia tetap berusaha untuk merayapi jalanan basah dikota ini dengan sebaik-baiknya.
Perjalanan ini hanya diisi suara hujan yang samar terdengar dari luar sana.

Sedari tadi, Bian menahan diri untuk berbicara di situasi yang tidak begitu bersahabat ini. Ditambah lagi dia juga sedang memikirkan dimana perginya Fachrel kali ini.

Vania tahu dari raut wajah Bian yang terlihat begitu lelah dan seperti sedang memiliki banyak masalah.  Akhirnya hanya bungkam yang Vania pilih, karena untuk menanyai banyak hal juga dia tidak yakin akan berujung baik, selama ada Arka yang sedang kesal diantara mereka.











Jangan banyak-banyak. Nanti ngelantur. Terimakasih banyak atas voment dan support kalian, 🙏🙏.  Jaga kesehatan! Dan selamat liburan.

UndefinedTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang