Suasana mendadak kaku disekitar mereka. Gaduh pengunjung lain, seperti berhasil teredam dengan keheningan yang terjaga beberapa waktu diantara mereka.
Setelah tadi bertemu di pinggir jalan, rasanya ada banyak hal yang ingin Arka tanyakan pada Ayahnya setelah hampir selama 9 tahun dia pergi menghilang tanpa kabar. Ada banyak hal yang ingin dia tahu. Dan rasanya tidak nyaman jika harus mengobrol dipinggir jalan.
Akhirnya disini, dikafe terdekat dari tempat Arka dan Ayahnya bertemu tadi, Arka dan Ayahnya duduk berhadapan dengan suasana yang bisa dibilang kurang nyaman. Ditambah lagi, disampingnya ada Fachrel yang Arka ajak juga. Karena Arka tidak tahu harus bagaimana, dia tidak bisa meninggalkan Fachrel sendiri, karena taruhannya adalah Omelan Mama. Tapi, dia juga ragu jika harus mengajaknya. Dan Arka pada akhirnya tidak bisa mengelak, hingga memilih mengambil opsi terakhir.
Beberapa kali, Rulli-Ayahnya Arka, memandang Fachrel. Lantas beralih lagi kepada Arka. Arka sendiri bingung harus memulai semuanya dari mana.
"Pa?" Panggil Arka.
"Hmm," Rulli menjawab pelan dan menatap Arka dengan intens membuat Arka semakin gugup.
"Papa apa kabar sekarang? Papa selama ini kemana?"cicit Arka.
Rulli mengambil sendok kecil yang disediakan pelayan kafe, untuk mengaduk kopinya.
"Untuk sekarang, seperti yang kamu lihat Papa baik-baik saja. Setelah Papa ditolak oleh Mama mu atas rujuk yang Papa ajukan, Papa mencari pelampiasan atas kekecewaan Papa."
Mendengar itu, Arka seketika berganti menatap wajah Papa-nya. Entah keberanian dari mana yang mendorongnya.
"Kenapa Papa ngga balik dan nggak pernah kasih kabar? Apa Papa udah nggak peduli sama aku dan Mama?" Nada bicara Arka mulai bergetar, dan terasa ada penekanan emosi dari vibrasi suaranya.
"Kamu jangan salah sangka, Ka. Papa itu sangat menyayangi Mama-mu dan kamu. Tapi, Papa mengalami banyak penderitaan setelah Papa memutuskan pergi. Terus beberapa tahun kemudian, Papa juga sempat mencari kalian. Ke rumah lama kita, dan kemana pun yang memungkinkan kalian pergi. Tapi, Papa nggak pernah nemuin kalian. Papa juga kangen banget sama kamu dan Mama,"tunduknya.
Arka merasa bersalah, tapi juga merasa kesal. Mendengar penuturan Rulli, sedikit amarahnya tergerus.
"Terus Papa sekarang kenapa bisa disini?"
"Papa dapet info kalau kamu dan Mama pindah kesini dari seorang teman Mama yang nggak sengaja ketemu. Papa nyoba nyari kalian disini, tapi masih belum bisa ketemu kalian. Karena infonya nggak spesifik, dan ditambah lagi kota ini yang luas.... Tapi, Papa bersyukur banget sekarang bisa ketemu kamu lagi."
Papa memegang tangan Arka dengan erat seolah tak mau lagi kehilangan.
"Aku.... Juga bersyukur bisa ketemu Papa lagi."
Dibalik sisi keras kepala dan kasarnya, Arka itu tetap sama seperti anak-anak lainnya. Dia lemah jika menyangkut kedua orang tuanya. Apalagi melihat latar belakangnya, yang mendambakan keluarga utuhnya.
Arka tidak bisa bertahan, mengetahui Papa nya ternyata mengalami kesulitan dalam menemukan Arka dan Mama. Matanya sampai menggantungkan air dipelupuknya. Karena ia tahu, selama ini Papa-nya pasti sangat merindukan Arka dan Mama. Seperti yang Arka rasakan, setiap kali mengingat Papa. Arka ingin memeluk Papa, tapi tertahan karena Fachrel ada disana.
"Ngomong-ngomong, gimana kabar Mama?" Papa melepaskan tautan tangannya. Dengan senyum dia menanyai Arka.
Sementara itu, Arka malah bingung mau menjawab bagaimana. Arka mengalihkan perhatian ke minuman dingin berwarna coklat di hadapannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Undefined
General FictionHanya karena tidak menunjukkannya, bukan berarti aku baik-baik saja.
