Hari terus berganti, waktu juga terus berjalan. Tapi informasi keberadaan Arka dan Fachrel belum berhasil didapatkan. Hal itu membuat Vania tidak bisa berhenti khawatir dan cemas, bahkan dia sampai stress dan jatuh sakit.
Bian menilik ke arah kamarnya. Membuka pintu itu pelan dengan nampan berisi sepiring sarapan dan air putih.
Hatinya bertambah sesak saat setiap harinya kini sang istri yang demikian down. Melihat wanita yang dicintainya selalu berdiri di sana, di depan jendela setiap paginya. Memandang keluar jendela, dengan lamunan yang Bian pastikan tentang anak-anak mereka.
"Bun," pelan dia memanggil sembari berjalan mendekati, Vania.
Vania menoleh, sekilas terlihat tangannya mengusap air mata di pipinya.
"Mas...."
"Makan dulu ya," bujuk Bian, karena jujur saja akhir-akhir ini nafsu makan istrinya juga sangat kurang.
Vania menggeleng, menolak bujukan Bian, tanpa menjawab dengan tegas.
"Nanti kamu sakit lagi," peringat Bian.
Tapi Vania hanya terdiam, tidak menanggapi ucapannya.
Bian menghembuskan nafasnya panjang, bersabar menghadapi Vania yang tidak mengacuhkan ucapannya,
"Habis ini kita keluar, keliling kota. Lepaskan kejenuhan kamu, sambil nyari anak-anak."
Lantas Vania menoleh, dia menatap mata Bian dengan intens, " kamu serius, Mas?"
Bian mengangguk, "iya, asal kamu makan sarapan ini dulu."
Tanpa menunggu lama, Vania meraih nampan ditangannya. Lalu melahap makanan yang dia bawa dengan semangat.
"Pelan-pelan..." Tegur Bian pada Vania yang menyuap nasi dengan terburu-buru.
Bian akhirnya bisa bernafas lega setelah berhasil membujuk istrinya untuk mengisi perut.
Setelah makanan itu habis tidak ada alasan untuk Bian mengingkari janjinya. Berdua bersama sang istri Bian mengendarai mobil mengelilingi kota, menenangkan pikiran sejenak sembari mencari petunjuk keberadaan Fachrel dan Arka.
Dia tidak menjalankan mobilnya dengan tujuan khusus. Hanya bergerak sesuai isi hatinya. Sesekali dia juga menanyakan kepada Vania untuk membantunya memilih jalan.
Tidak peduli serusak apa jalan yang akan dilewati atau buntu atau tidaknya jalan yang akan diambil. Intinya mereka hanya terus berjalan. Berharap Tuhan akan memberikan petunjuk dan membantu mempertemukan mereka dengan anak-anaknya.
Bahkan mereka kini hampir sampai di daerah pinggiran kota, jalan yang tidak terlalu bagus dan tidak terlalu lebar pun tetap mereka telusuri.
Tiba-tiba saja Bian merasa mobil yang dikendarai sedikit sulit dikendalikan, terdengar suara gemuruh saat berjalan, dan kurang nyaman laju kendaraannya berjalan. Dia pun menepikan mobilnya, membuat Vania sedikit bingung.
"Kenapa Mas?"
"Nggak tau, ini rasanya kayaknya ban kempes. Aku turun dulu ya buat cek,"
Vania mengangguk menyetujui. Akhirnya Bian turun dan mengecek ke arah benda berbentuk lingkaran itu. Dan ternyata tebakannya benar, bannya kempes, dan terlihat seperti bocor. Sial! Ada-ada saja kendala yang menghalangi usaha mereka.
Bian pun kembali masuk kedalam mobil, "beneran kempes. Kayaknya bocor sih, Bun. Tapi sebelum belum terlalu parah sih kempesnya. Kita jalankan dulu ya ke depan nyari bengkel buat ganti ban serep."
Vania mengangguk, "iya, terserah kamu aja."
Bian hanya berharap bisa segera menemukan bengkel kali ini. Agar bisa kembali melanjutkan perjalanan. Sungguh, dia merasa amat tidak ingin diganggu saat dia sedang sibuk mencari buah hatinya yang kini sedang memenuhi isi kepalanya. Bian tidak ingin diganggu saat dia begitu ingin secepatnya menemukan putra-putranya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Undefined
Ficción GeneralHanya karena tidak menunjukkannya, bukan berarti aku baik-baik saja.
