32. Bouquet

1.7K 84 2
                                        

Crest Lounge hampir kosong saat matahari sore mulai turun di luar jendela-jendela tinggi berbingkai kayu ek. Ruangan itu biasanya penuh bisikan akademik, atau candaan antar anggota, tetapi sore ini suasananya lebih tegang.

Di ujung ruangan, Park Sunghoon berdiri di dekat jendela, bahunya bersandar ringan pada bingkai kayu. Seragamnya masih rapi seperti biasa dengan dasi lurus, almamater hitam tanpa lipatan, namun tatapan matanya jauh lebih dingin dari biasanya.

Ketika semua anggota sudah keluar, Clara beralih menatap Sunghoon. Pandangannya masih sama––tegas dan mengintimidasi.

"Lo baru gantiin posisi Academic Chair," gadis itu melipat tangannya di depan dada, menyorot figur Sunghoon lebih intens. "Tapi berani mencoba ganggu stabilitas?"

Sunghoon tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap ke luar jendela, hamparan dedaunan kering perlahan tertiup oleh angin. Di luar sana terlalu tenang dan santai.

Beberapa detik berlalu. Baru kemudian Sunghoon berkata dengan suara rendah, "Langsung ke intinya aja Clar."

"Foto Jay."

Sunghoon tidak terkejut, ia sudah menduganya sejak Clara memberi perintah untuk menahan dirinya di Ruang Eksklusif. Gadis itu tahu segalanya.

Clara berjalan mendekat beberapa langkah. Tidak cepat, tidak mengancam, justru terlalu tenang untuk situasi seperti ini. "Metadata file-nya masih ada. Jam upload, server relay, IP jaringan sekolah."

"Ya, sengaja."

"Jay dikeluarin dari sekolah gara-gara foto itu, dan lo diem aja?" Clara terlihat menahan emosinya, napasnya memburu tidak beraturan. "Di klub itu ada banyak orang, tapi cuma Jay yang dipublish, pelaku sengaja mau jatuhin dia."

"Gue rasa lo tau maksud pelaku."

"Masalahnya kenapa lo gak segera mengungkap pelakunya?" Clara hampir kehabisan kesabaran, ia tidak bisa menahan diri melihat Sunghoon bungkam atas pelaku yang mengobrak-abrik image Dominion. "Lo gak ada hubungan khusus sama pelaku."

"Dia temen baik Jay," jawab Sunghoon dingin. "Kalo di ungkap dia pelakunya, orang-orang akan bertanya-tanya tentang alasan dia ngelakuin itu. Dominion suka drama."

Clara tertawa remeh. "Dia suka Alea?"

"Menurut lo apa lagi selain itu?"

Gadis itu beralih menyandarkan tubuhnya pada meja walnut oval yang berada di tengah ruangan. Tangannya masih dilipat di depan dada, matanya menatap lantai parket kayu herringbone, pikirannya menyebar kemana-mana.

"Gue liat kalian kemarin di lapangan outdoor," lagi-lagi Clara tertawa kecil. "Semuanya emang keliatan jelas, love triangle kah?"

Sunghoon masih mengamati wajah Clara. Sorot mata gadis itu selalu tajam, sangat kontras dengan cahaya hangat dari lampu gantung di tengah-tengah mereka.

"Gue gak mau ngelibatin Alea dengan rumor sampah."

Clara kembali menatap Sunghoon. "Padahal kemarin juga dia udah dapet rumor sampah, love triangle dengan mantan temennya Jay." Clara sengaja menekankan intonasi tiga kalimat terakhir.

"Semuanya tertitik ke Alea. Lo sama Jay berantem karena Alea, pelaku ngungkap Jay karena Alea, dan kemarin ke Health Center barengan karena Alea. How does one become Alea? She's incredibly lucky."

"Semua tanpa rencana," Sunghoon membalas ucapan Clara yang terdengar seperti bualan. "Lo gak perlu ngurusin Alea."

"Ya, ya, sekarang lo harus ngelindungi dia, dan ekstra bersaing setelah mantan temen lo pergi jauh. Ini kesempatan besar kan buat lo?" sindiran itu terdengar begitu sombong.

Possessive: Some Lies Are Worn Like LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang