Ia tidak pernah setengah-setengah dalam mencintai. Sampai hadir seseorang yang tidak meminta dimiliki, membuatnya jatuh karena menggenggam terlalu erat.
Seperti biasa, kafetaria Dominion Crest Academy siang itu penuh oleh suara sendok beradu dan percakapan siswa yang tumpang tindih. Cahaya matahari menembus dinding kaca tinggi, jatuh membentuk bayangan panjang di lantai marmer. Di sudut dekat jendela, Jake dan Sera duduk berhadapan. Entah sejak kapan mereka menjadi dua orang yang seolah selalu punya alasan untuk makan siang lebih lama dari yang lain.
Jake baru saja kembali dari rapat DHS. Almamaternya masih rapi, tapi dasinya sudah dilonggarkan. Rambutnya sedikit berantakan, tanda ia mengacaknya berkali-kali saat berpikir. Sera memperhatikannya sambil menusuk saladnya pelan.
"Lo kayak abis diterjang badai," ujar Sera.
Jake mendesah dramatis. "Evan debat sama Clara soal evaluasi kandidat. Ya, kayak yang semua orang tau, Clara gimana."
"Clara tuh aura dominannya kuat banget, biasa ngatur, jadi pas diatur ya begitu." Sera tahu bagaimana para siswa berbisik soal Clara, terutama teman satu klub Archery yang satu kelas dengan Clara Velencia.
"Terus, gimana?" tanya Sera.
"Clara ngalah, Jay yang misahin mereka."
"Tepatnya nenangin si Clara?" tebak Sera sedikit tersenyum, sementara Jake mengedikkan bahu tanpa suara.
"Anyway, lo udah liat Entry list turnamen Swiss?"
Jake tidak langsung bereaksi. Ia mengunyah perlahan, meneguk minum, lalu mengulurkan tangan. "Belom, mana liet."
Sera menggeser ponselnya ke tengah meja. Di layar terpampang poster resmi Elite International Chess Tournament. Hosted by St. Aldric's Collegiate, Zürich. Daftar peserta sudah disusun berdasarkan negara dan rating. Logo sponsor internasional berjajar di bawahnya.
Jake menggulir dengan santai. Matanya menemukan nama Alea Celandine Han - South Korea. Ia terus menggulir layar itu, sampai berhenti pada satu nama.
Sergio Lee - Switzerland.
Suasana kafetaria tetap ramai, tapi di meja mereka, udara terasa sedikit lebih berat. "Kenapa?" tanya Sera pelan.
Jake menyandarkan punggungnya ke kursi. Tangannya terlipat di dada, ekspresinya kembali santai.
"Dunia emang kecil," ucap Jake.
"Ada apa sih?" Sera menarik ponselnya dan melihat satu nama yang membuat Jake terdiam. "Sergio Lee."
"Familiar."
"Familiar, atau lo emang kenal dia?"
Jake tidak tersenyum kali ini. Tatapannya kembali ke layar, lalu ke arah luar jendela, entah melihat apa. "Dia kuat," gumamnya.
"Kuat di catur?"
"Di banyak hal."
Sera cukup mengenal Jake. Ia bisa membedakan kapan Jake bercanda, kapan Jake serius, dan kapan Jake sedang menyembunyikan sesuatu.
"Lo khawatir?"
Jake menggeleng samar, "Alea harus siap, dia bisa ngacau fokus."
"Kedengerannya lo gak cuma ngomong soal pertandingan."
Senyum tipis terbingkai diwajah Jake, menutupi kekhawatiran yang semakin terasa. "Bilangin ke Alea, kalo ketemu orang itu, jangan percaya senyum manis orang Swiss."
Sera tidak langsung merespon. Ia terdiam sejenak, menatap Jake dengan serius. "Seberapa lama lo kenal sama dia?"
"Lumayan, sampe kami berempat bubar."
"Berempat?"
"Gue, Sunghoon, Jay, sama Sergio."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.