PART 34 : Regret
***
Laki-laki itu terduduk dengan tatapan nanar. Air mata sudah membasahi pipi, sementara kedua tangannya yang bergetar masih setia mencengkram ponsel untuk menghubungi nomor wanita yang ia tinggalkan tanpa perasaan.
Ia terus mengulang panggilan meski tak pernah berhasil tersambung. Hati yang sudah tak karuan semakin dibuat patah saat netra membaca ulang deretan pesan yang istrinya kirim.
Kinan sangat mengkhawatirkan dirinya, namun yang ia lakukan justru melukai wanita itu tanpa sedikitpun mengingat bahwa mereka tengah menghabiskan waktu bersama.
"Permisi, Mas."
Prabu buru-buru berdiri saat seorang petugas menghampirinya yang terpaksa duduk dipinggiran jalan karena tidak diperbolehkan masuk tanpa mempunyai tiket.
"Bagaimana Mas?" Ia usap pipinya yang basah bersama tatap penuh harap. "Ada kabar mengenai istri saya?"
Dan gelengan laki-laki dihadapannya berhasil membuat bahunya merosot.
"Pihak informasi sudah mencobanya berkali-kali, namun orang yang Mas cari tidak datang. Ada kemungkinan istri Mas sudah pulang."
"Terima kasih Mas." Ucapnya tanpa tenaga.
"Sama-sama, kalau begitu saya duluan."
Prabu hanya memberi anggukan lemas sebelum kembali duduk dengan tatapan kosong.
"AISHHHHH!! DASAR PRABU GOBLOK!!!"
Laki-laki itu terus memukuli kepalanya tanpa henti seolah tak puas telah menyakiti bagian itu dengan menghantamkan ke stir kemudi saat di perjalanan menjemput sang istri.
"AKHHHHHHHHH.."
Tak peduli pada tatapan orang-orang sekitar, Prabu yang tak lagi memiliki rasa malu kembali terisak.
"Kinan maafin aku. Kinan,"
Mungkin di mata orang-orang yang melewatinya, ia tampak seperti remaja yang sedang patah hati. Tapi ia tidak peduli sama sekali. Saat ini hatinya sedang sakit setelah meninggalkan Kinan tanpa pikiran dan perasaan.
Otaknya yang encer ternyata mampu melukai orang separah ini. Demi apapun, dia benar-benar lupa dan membuat segalanya menjadi sangat fatal.
Sejak dulu ia memang selalu seperti ini. Jika pikirannya sedang kacau, ia sulit berpikir jernih dan mudah melupakan keberadaan hal-hal disekitarnya. Namun sialnya yang ia lupakan hari ini adalah sosok yang telah menjadi bagian terpenting di hidupnya.
Ya Tuhan ..
Bagaimana bisa ia lupakan istrinya dengan cara sekejam ini?
"Kinan, tolong angkat Kin." Ia putuskan kembali ke dalam mobil sambil berusaha menghubungi nomor istrinya yang jelas-jelas masih tidak aktif.
"Astaga, Kinan."
Urung melajukan kendaraan roda empat yang ia tumpangi, Prabu masih sibuk meratapi kebodohannya. Ia kembali hantamkan dahi pada stir kemudi berkali-kali seolah hal itu bisa merubah keadaan.
Masih enggan untuk pergi, laki-laki itu mencoba menghubungi sang adik yang tak lama kemudian mengangkat panggilan telpon darinya.
"Assalamualaikum, ada apa Kak?"
"Wa'alaikumsalam, lo dimana Bel?"
"Oh, ini lagi nonton film sama Kak Ruby."
"Dimana?"
"Rumah lah, soalnya nggak ada yang ngajakin aku jalan-jalan." Sindir Bella yang memang tidak diperbolehkan ikut oleh Prabu.
"Ck! Gue tutup telponnya. Bilang ke Mama sama Papa, kayaknya gue nggak balik ke rumah."
KAMU SEDANG MEMBACA
Tentang Kita
Romance--REPOST-- * Ini adalah kisah milik Prabu Dwi Ranjaya dan Kinandari Adya Rumaisya. Dua mahasiswa semester empat yang harus terjebak ke dalam pernikahan di usia mereka yang baru menginjak 20 tahun. Semua berawal dari kesalahpahaman yang membuat kedua...
